Sabtu, 13 September 2014

Senja

Burung-burung berkicau pagi itu. Cahaya mentari sudah menerobos masuk kedalam kamar. Perlahan kubuka jendela kamarku. Ku biarkan udara pagi menyeruak masuk. Menerpa segala yang ada didalamnya agar semua merasakan kesegarannya. Ku tatap hamparan pasir putih yang terhampar luas dihadapanku, ku perhatikan setiap deburan ombak yang menghantamnya, aku terus mengamati pemandangan itu dibalik jendela kamar hotelku. Ku mainkan lensa kameraku sampai benar-benar ku temukan focus yang tepat.
“Sudah mendapat hasil yang bagus?” tanya Yuda.
“Belum, entah mengapa sulit sekali menemukan focus yang tepat.”
“Seorang fotografer harus benar-benar mencintai fotografi. Jika kau hanya diam kau tidak akan mendapatkannya. Hasil yang maksimal akan didapatkan jika kita mengerjakan sesuatu dengan kesenangan dan kesungguhan.” Yuda menepuk pundakku lalu dia keluar dari kamarku.
Sudah satu minggu aku dan Yuda berada di Lombok. Disana kami melakukan pemotretan alam Lombok untuk pameran fotografi di Jakarta. Namun sampai sekarang aku belum menemukan satupun potret yang menarik. Sementara Yuda sudah menemukan potret yang bagus dahkan ia sudah mencetaknya dan siap dipamerkan di pameran nanti.
Setelah semuanya rapih, aku segera turun menuju kafe hotel untuk sarapan.
“roti bakar keju dan secangkir coklat panas.” Aku memesan menu sarapanku kepada salah satu pelayan disitu.
“Baik mas.”
“Ruly!” seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh kearahnya. Dan ternyata, Yuda.
“Gue mau balik ke Jakarta sekarang. Soalnya nenek gue sakit.”
“Lo yakin fotonya sudah cukup?” tanyaku kepada Yuda.
“Cukup.”
“Yasudah hati-hati.”
“Iya, sampai bertemu dipameran.” Yuda menepuk pundakku dan berlalu meninggalkanku dengan koper ditangannya.
Menu sarapanku sudah dating. Aku segera menyantapnya sambil memikirkan potret bagus yang sampai sekarang belum ku temukan.
***
Hampir 12 jam aku berada di pantai ini. Namun tetap saja aku tidak menemukan potret yang bagus. Berulangkali ku atur focus kameraku. Namun hasilnya nihil, gambar yang terambil tak bernyawa dan tak mampu bercerita. Aku seperti kehilangan jiwa fotograferku. Aku putuskan untuk beristirahat ditepi pantai itu sambil menikmati senja.
Semburat jingga mulai terpancar diwajah langit. Aku terus memainkan kameraku berharap mendapat gambar yang memukau. Ku arahkan lensa kameraku kesetiap sudut, namun tetap saja. Akhirnya aku menyerah.
Ketika mataku dimanjakan oleh pemandangan yang memikat. Aku melihat seorang wanita yang tengah duduk di tepi pantai, sepertinya ia sedang melukis. Tangannya llincah meliuk-liuk diatas kanvas. Sesekali ia mencium cat lukisnya. Entah apa tujuannya. Segera ku raih kameraku dan ku arahkan focus padanya. Satu gambar yang cukup bagus berhasil ku ambil. Aku hendak menemuinya sekedar untuk berterimakasih. Namun  hari sudah gelap.
***
Setelah kemarin mendapatkan potret wanita itu, aku kembali berkelana mencari potret lain yang luar biasa. Namun entah mengapa aku lebih senang memotret senja. Seperti hari kemarin, aku menunggu senja datang di tepi pantai. Matahari mulai bersembunyi malu-malu. Air laut mulai merah terpantul cahaya sang surya. Aku segera meraih kameraku. Namun ketika hendak memotret senja itu, aku melihat wanita itu kembali, masih dengan kuas dan kanvasnya. Aku selalu memperhatikan gerak-gerik wanita penikmat senja itu. Seolah memiliki daya tarik tersendiri, mataku enggan berpaling menatap yang lain. Ia menggerakkan kuasnya kesana-kemari. Ia juga selalu mencium cat lukisnya. Entah apa maksudnya. Mungkin ia menyukai aromanya. Perlahan, ku langkahkan kaki menuju ke arahnya. Namun ketika hendak sampai, ponselku bordering.
“Halo Ruly!” suara Yuda terdengar disebrang telfon.
“ya”
“Tolong kirimkan foto yang ada di laptopmu ke email ku sekarang. Penting.”
“Foto yang mana?”
“Di folder ‘Yuda Lombok’ tolong ya, thnx”
“ya.”
Aku menutup telfonnya dan segera menuju hotel. Aku gagal lagi untuk menemui wanita itu.
***
Masih dengan kamera di tanganku. Ini adalah hari terakhirku di Lombok. Aku ingin memuaskan diri disini sebelum aku kembali ke keramaian Jakarta. Aku masih ingin disini, dipaintai menikmati senja dan semilir angin sejuk yang menerpa. Kuperhatikan ombak yang berkejaran, nyiur yang melambai, serta perahu para nelayan yang mulai berlayar. Aku pasti akan merindukannya.
Suasana pantai mulai sepi. Aku duduk dipasir putih yang lembut sambil melihat hasil potretku. Seketika aku mengingat wanita itu. Mataku berkeliling berharap menemukan sosok wanita yang akrab dengan kuas dan kanvas itu, dan aku menemukannya. Tanpa fikir panjang, aku segera menghampirinya.
“kamu suka senja?” Aku mencoba membuka pembicaraan.
“Siapa disana?” ujar wanita itu tanpa menoleh ke arahku. Ia tetap asyik dengan lukisannya.
“Aku Ruly.”
“Zea” Jawab wanita itu singkat. Jilbabnya indah tertiup angin. Aku tak ingin kehilangan moment ini, segera kuraih kamereaku dan ku ambil gambarnya.
“Lukisan mu indah.” Aku berkata berharap ada respon darinya.
Mendengar perkataanku, ia berhenti melukis. Untuk beberapa detik dia diam dan menundukan kepalanya.
“Terimakasih, tapi aku tak bisa melihat keindahannya.” Ujarnya.
“Maksud kamu?” Tanyaku kembali.
Ia tak menjawab apa-apa. Ia kembali melukis. Aku mencoba menghampirinya lebih dekat dan duduk disampingnya.
“Aku buta.” Ujarnya tiba-tiba.
Aku terbelalak mendengarnya. Aku hanya bisa memandangnya yang ternyata memang benar buta. Aku tak bisa berkata apa-apa.
“Sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku sama sepertimu. Aku sering melukis  di pantai ini, merasakan semilir angin yang menerpa wajahku, menikmati setiap desir ombak, dan menikmati indahnya langit senja. Sebenarnya keadaan saat ini masih sama. Hanya berbeda sedikit, aku tak dapat melihat indahnya langit senja.” Ia bercerita sambil terus menggoreskan cat di kanvasnya.
“tapi..”
“Tapia pa? tapi mengapa aku bisa melukis ini?” Zea memotong perkataanku sebelum aku melanjutkannya.
“2 tahun lalu sebelum kecelakaan itu terjadi, aku sering menikmati senja disini. Ku amati setiap keindahannya sampai aku hafal bagai mana suasananya. Oleh karenanya, aku bisa menggambarkannya disi. Dan aku sudah hafal aroma setiap warna cat lukisku. Bagai mana aroma warna kuning, orange, atau yang lain aku hafal.” Cerita Zea panjang lebar.
“Aku salut.”
“Melukis adalah hal yang paling aku sukai. Aku seperti menemukan dunia baruku ketika aku melukis. Dengan melukis, mataku yang tak bisa melihat, bisa menjadi melihat apapun yang aku fikirkan saat itu.”
“Maksudmu dalam imajinasi.”
“Tepat.”
Aku benar-benar salut pada Zea. Ia tak pernah mengeluh dengan  kekurangannya. Zea telah mengajarkanku bagaimana caranya menikmati hidup. Dengan matanya yang tak dapat melihat, ia masih bisa melukiskan keindahan senja. Zea selalu bersyukur, walaupun matanya tak berfungsi lagi, setidaknya ia masih memiliki telinga untuk mendengar deburan ombak dipantai, ia masih bisa merasakan semilir angin, dan ia tetap bisa melihat indahnya langit senja walau hanya dalam fantasinya. Aku sadar, fotografi adalah duniaku, jika aku mengerjakannya dengan kesungguhan dan kesenangan, pasti aku akan mendapat hasil yang memuaskan. Tidak seperti hari kemarin, yang aku kerjakan dengan bermalas-malasan.
“Sudah malam, aku pulang.” Suara Zea membangunkan lamunanku. Ia bangkit dari duduknya dan akhirnya pergi meninggalkanku. Ia berjalan dibantu oleh seorang wanita paruh baya. Sepertinya ibunya.
Aku tak henti memandangnya sampai benar-benar ia berjalan menjauh, “Terimakasih Zea.”