Jika waktu bisa ku kendalikan, aku tak ingin
mengenal mereka. Bahkan mungkin itu lebih baik, karena tanpa mengenal mereka
aku tak akan mengerti apa itu Cinta. Tapi Tuhan menghendaki aku untuk turut
bermain dalam legenda ini, bahkan Dia menganugrahkan aku untuk menjadi pemeran
utamanya. Aku bahagia bisa menemukan cinta. bahkan pipiku selalu merona ketika
mengingatnya. Dengan cinta, hidup menjadi lebih menawan. Seperti sepucuk mawar
yang jika dirangkai akan lebih indah dibanding hanya setangkai. Namun ternyata
cinta bisa membuat rapuh. Membuat keruh. Ketika ia menjadi segitiga.
Siang itu aku, Vyola dan Dea duduk di kamarku.
Tepat saat aku diam memikirkannya, suara Dea mengagetkanku.
"Masih memikirkan dia?" Tanya Dea.
"Oh tidak." Aku membalas tanyanya
dengan seulas senyum.
"Jangan terlalu memikirkan dia yang telah
membuatmu hancur. Apa susahnya melepas orang yang telah membuatmu seperti
ini?" Ujar Vyola dengan tatapan tajam.
"Kalian tak mengerti."
"Tak mengerti apa? Jelas-jelas dia sudah
mengatakan 'TEMAN' "
"Aku tak habis fikir. Hati kamu itu terbuat
dari apa? ribuan kali tersuk belati masih saja menanti. Dibelakangmu Rio selalu
setia! Buka matamu!"
Aku hanya diam menatap jendela mendengar
perkataan kedua sahabatku. Mungkin pemikiran mereka yang menganggap aku bodoh
itu benar. Ya, aku bodoh. Aku selalu setia menunggu Hisam. Dia yang selalu ku
puja, dia yang selalu ku damba. Namun dia juga yang selalu membuatku hampa. Dia
mengikatku dalam ketidak pastian yang tak berujung. Aku mencoba bersabar dan
tak ingin mengakhiri penantian. Namun semakin lama semakin dia tak peduli
dengan apa yang ku perjuangkan. Ia tak melihat apa saja yang telah ku
korbankan. Demi dia, aku bahkan merelakan Rio. Rio yang seharusnya aku
perjuangkan dan tak layak aku tinggalkan. Aku meninggalkan Rio demi dia yang ku
puja. Padahal aku mencintainya. Ini memang gila. Aku memiliki satu hati namun
meyimpan dua cinta. Tapi aku yakin hanya ada satu cinta yang sesungguhnya.
Namun aku tak tahu, yang mana cinta itu.
Setelah Dea dan Vyola pulang. Aku segera
bersiap-siap untuk menemui Rio. Aku sudah ada janji dengannya. Tak ada yang
spesial dipenampilanku kala itu. Aku hanya mengenakan kaus dilapisi jaket jeans
sesiku dan celana jeans abu-abu dengan hijab yang sangat simpel. Aku segera
mengambil tas ku dan pergi.
Sepuluh menit kemudian, aku sampai ditempat yang
di tuju. Victoria Cafe. Aku dan Rio memang sering ketempat ini, walau hanya
sekedar minum kopi. Aku segera masuk, ku dapati pria dengan jersey yang melekat
ditubuhnya, ia menyapaku hangat, aku hanya membalas senyum. Tanpa basa-basi,
aku langsung menyampaikan maksudku.
“Rio, maafkan aku. Sepertinya, kita cukup sampai
disini saja.”
“Kenapa?” Rio terkaget.
“Aku, aku mencintai Hisam. Bodoh memang. Entah mengapa
aku tak bisa melupakannya. Aku kira dengan menjalankan dengan mu, aku bisa
melupakannya, ternyata tidak. Maafkan aku, kamu boleh membenciku.” Tak terasa
air itu tak terbendung, ia mulai mengalir dipipi.
"Aku tak akan membencimu. Sampai kapanpun
aku tak akan membencimu. Karena aku mencintaimu." Ujar Rio setelah aku
memutuskan untuk pergi darinya. Aku tak habis pikir, sebaik itukah hatinya? Ia
tetap mengatakan "cinta" meski jelas-jelas aku mengatakan aku masih
mencintai Hisam.
"Aku akan menunggu selama aku mampu."
Ujar Rio kembali.
Aku tak kuasa menahan air mataku. Mengapa engkau
begitu tulus menyayangi orang yang jelas-jelas telah menghancurkan mu? Mengapa
kau tak benci saja aku?
"Mengapa kau seperti itu? Bukankah aku telah
mempermainkan mu?!" Suaraku meninggi. Aku menghapus air mataku kasar. Rio
hanya melempar sebuah senyum.
"Kembalilah padanya jika memang kau masih
mencintainya."
"Mengapa kau sebaik ini?" air mataku
semakin deras.
"Karna aku mencintaimu, kembalilah
padanya."
Rio melepas genggaman tangannya. Perlahan dia
berjalan menjauh dan meninggalkanku yang tak mau terlepas dari masa lalu. Aku
masih terisak, aku segera keluar dari kafe itu dan bergegas pulang.
***
"Selamat pagi Ola" Sapaan Hangat Hisam menjadi semangat pagiku. Meski hanya lewat ponsel itu cukup bagiku. Bahkan aku selalu lupa dengan kesakitan yang Hisam berikan. Terkadang aku menatap diri dihadapan cermin 'Sam, Masih ingat kah teman sekelasku dulu yang kau suka? Masih ingatkah teman sekelasmu? Masih ingatkah coklat itu? Masih ingatkah tragedi dibulan November itu? Ketika aku hedak membuang hadiah itu. Dan aku masih mengingat persis perkataan mu dalam telepon seluler dengannya. Aku masih mengingat panggilan panggilan abnormalmu kepada mereka. Masih terekam jelas kabar-kabar itu yang menghampiriku. Masih tersimpan rapi gambar-gambar perih itu. Yang membuat retak dan hancur. Yang utuh menjadi lebur.' Setelah semua sakit itu ia beri, aku tetap saja disini. Sebenarnya aku tak mengerti akan hubunganku dengan Hisam. Setelah aku pergi dari Rio, hubunganku dengan Hisam kembali terjalin. Meski masih seperi dulu, berhubungan tanpa status.
"Selamat pagi Ola" Sapaan Hangat Hisam menjadi semangat pagiku. Meski hanya lewat ponsel itu cukup bagiku. Bahkan aku selalu lupa dengan kesakitan yang Hisam berikan. Terkadang aku menatap diri dihadapan cermin 'Sam, Masih ingat kah teman sekelasku dulu yang kau suka? Masih ingatkah teman sekelasmu? Masih ingatkah coklat itu? Masih ingatkah tragedi dibulan November itu? Ketika aku hedak membuang hadiah itu. Dan aku masih mengingat persis perkataan mu dalam telepon seluler dengannya. Aku masih mengingat panggilan panggilan abnormalmu kepada mereka. Masih terekam jelas kabar-kabar itu yang menghampiriku. Masih tersimpan rapi gambar-gambar perih itu. Yang membuat retak dan hancur. Yang utuh menjadi lebur.' Setelah semua sakit itu ia beri, aku tetap saja disini. Sebenarnya aku tak mengerti akan hubunganku dengan Hisam. Setelah aku pergi dari Rio, hubunganku dengan Hisam kembali terjalin. Meski masih seperi dulu, berhubungan tanpa status.
"Mana Hisamnya? Ngabarin aja engga?!"
Gumam Vyola.
"Duh ngasih kabar aja engga. Apalagi ngasih
status." Ujar Dea.
Aku tak menggubris perkataan mereka. Sudah jadi
hal biasa jika mreka seperti itu. Tapi aku juga khawatir. Mengapa hisam menjadi
seperti ini? Mungkin dia sibuk~
***
Setiap malam minggu aku selalu berkpul dengan
teman-teman komplek rumahku. Termasuk Hisam. Malam itu kami semua berkumpul
sambil menikmati jagung bakar dan sosis bakar. Aku selalu menunggu moment ini,
karna hanya pada saat itulah aku bisa bertemu dan bermain dengan Hisam. Selain
pada waktu itu, kami sibuk dengan kegiatan kami masing-masing.
Aku duduk disamping Teh Fuji, temanku, sambil menikmati jagung bakar yang pedas. Ketika sedang asyik bercengkrama sambil menatap langit, tiba-tiba terdengar suara ponsel. Aku melirik ke arah suara itu. Ternyata itu ponsel Hisam. Kulihat siapa penelfon itu. "KAYTA" begitu tulisan yang terpampang di layar ponsel itu. Kayta? Siapa dia? namun ketika aku melihat nomer ponselnya. Ternyata aku mengenalnya, dia adalah perempuan yang hadir dalam kehidupan aku dan Hisam. Diana. Dia yang telah merubah hisam. Dia yang telah membuat Hisam berbeda. Aku selalu menyebutnya parasit, namun Hisam tak terima jika aku berkata seperti itu. Dia marah jika aku berkata demikian.
Aku duduk disamping Teh Fuji, temanku, sambil menikmati jagung bakar yang pedas. Ketika sedang asyik bercengkrama sambil menatap langit, tiba-tiba terdengar suara ponsel. Aku melirik ke arah suara itu. Ternyata itu ponsel Hisam. Kulihat siapa penelfon itu. "KAYTA" begitu tulisan yang terpampang di layar ponsel itu. Kayta? Siapa dia? namun ketika aku melihat nomer ponselnya. Ternyata aku mengenalnya, dia adalah perempuan yang hadir dalam kehidupan aku dan Hisam. Diana. Dia yang telah merubah hisam. Dia yang telah membuat Hisam berbeda. Aku selalu menyebutnya parasit, namun Hisam tak terima jika aku berkata seperti itu. Dia marah jika aku berkata demikian.
Mengetahui hal itu, aku segera pulang dan
menelfon Vyola dan Dea, aku menyuruh mereka untuk menginap di rumahku malam ini. Setidaknya
untuk menemaniku dan menghiburku karena kejadian itu.
"Sudah tinggalkan saja dia!!! Dia sudah
menyakitimu. Lagi!! Biarkan saja dia pergi bersama KAYTA'nya."
"Aku tak mampu.. Aku tak mampu." Aku
terus menangis dalam pelukan Vyola.
"Tinggalkan dia, kamu layak bahagia."
Dea menghapus air mataku perlahan.
Setelah kejadian malam minggu itu, aku bertekad untuk pergi dari Hisam. Hatiku tak selalu kuat menahan semuanya.
"Maafkan aku memilih pergi."
"Kenapa? Padahal aku menginginkan kamu
kembali."
"Maafkan Aku, maafkan aku."
"Baiklah jika itu kuputusanmu aku hormati,
padahal bagiku, status itu tak penting."
"Aku berbeda denganmu. begitupun dengan pendapat
itu."
"Terserah padamu." Ujar Hisam
Setelah aku mengatakan pergi. Hubunganku dan
hisam mulai merenggang. Sejujurnya aku tak mampu. Aku tak mampu jika harus
tanpa dia. Aku tak bisa. Tetapi mungkin ini jalan dan menjadi keharusan untuk
aku tempuh. Aku mencoba terbiasa tanpa dia. .
***
Malam ini aku tak bisa tersenyum semanis sang dewi. Malam ini aku tak bisa sebahagia bintang yang selalu berkerlip terang. Malam ini aku hanya bisa diam menatap langit yang terlihat polos, padahal begitu semarak dengan rembulan yang selalu melempar senyum dan bintang berkedip menyapa. Yang kurasa hanya angin malam yang merasuk jauh kedalam rusuk. Kurasakan setiap kesedihan dan dilema dalam dada. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ketika dua cinta menghampiriku secara bersamaan.
Malam ini aku tak bisa tersenyum semanis sang dewi. Malam ini aku tak bisa sebahagia bintang yang selalu berkerlip terang. Malam ini aku hanya bisa diam menatap langit yang terlihat polos, padahal begitu semarak dengan rembulan yang selalu melempar senyum dan bintang berkedip menyapa. Yang kurasa hanya angin malam yang merasuk jauh kedalam rusuk. Kurasakan setiap kesedihan dan dilema dalam dada. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ketika dua cinta menghampiriku secara bersamaan.
"Jadi kita akan kembali?" kata-kata itu
selalu terngiang dalam telingaku.
"Jadi kamu pergi dariku karna akan kembali
pada Dia."
Namun kata itupun selalu merasuk menyakiti jiwa.
Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku kira Hisam sudah tak peduli. Tapi
mengapa ketika aku yakin ingin memlulai kembali dengan dia, dia baru menunjukan
kepeduliannya. Memang seharusnya kata-kata itu tak usah ku pedulikan,
seharusnya aku tetap berjalan dengan Rio. Tapi kata-kata itu seolah memiliki
mantra yang berhasil merobohkan benteng hati yang telah ku buat susah payah.
Aku dilema. Apakah aku harus tetap bersama Rio dengan mengbaikan Hisam? Tapi
aku takut akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Dan untuk kembali
kepada hisampun tidak mungkin. Karna itu akan menyakiti Rio untuk kesekian
kalinya. Dan luka yang dibuatnya belum juga mengering.
Mengapa cinta serumit ini. Aku kira semua cinta
itu akan indah pada akhirnya, seperti cinta Cinderella yang rumit namun di
ujung cerita ia bahagia. Namun lain dengan cintaku. Dalam cerita cintaku, aku
yang bahkan tak tahu dimana cinta sejatiku harus rela melepas mereka yang
memiliki cinta. Dua cinta yang ada dihati ku ini, bukanlah cinta sejati. Karena
sesungguhnya satu hati hanya untuk satu cinta sejati, bukan dua atau lebih.


