Senin, 03 November 2014

Triangele




Tenggelam dalam masalah hati yang tak terkendali. Berdiri di tengah segitiga yang bermuara pada dua cinta. Yang mengikis perasaan, menumpulkan pemikiran. Dua orang terpenting yang bermain dalam opera ini, mereka bermain bak seorang aktor profesional. Mereka begitu lihai memerankan perannya masing-masing. Ada yang terus berjuang, namun ada pula yang mengikat namun seolah membuang. Aku tak sanggup melihat mereka berperan, bahkan untuk membaca skenario kisah ini hingga akhirpun aku tak mampu, aku tak ingin.
Jika waktu bisa ku kendalikan, aku tak ingin mengenal mereka. Bahkan mungkin itu lebih baik, karena tanpa mengenal mereka aku tak akan mengerti apa itu Cinta. Tapi Tuhan menghendaki aku untuk turut bermain dalam legenda ini, bahkan Dia menganugrahkan aku untuk menjadi pemeran utamanya. Aku bahagia bisa menemukan cinta. bahkan pipiku selalu merona ketika mengingatnya. Dengan cinta, hidup menjadi lebih menawan. Seperti sepucuk mawar yang jika dirangkai akan lebih indah dibanding hanya setangkai. Namun ternyata cinta bisa membuat rapuh. Membuat keruh. Ketika ia  menjadi segitiga.
Siang itu aku, Vyola dan Dea duduk di kamarku. Tepat saat aku diam memikirkannya, suara Dea mengagetkanku.
"Masih memikirkan dia?" Tanya Dea.
"Oh tidak." Aku membalas tanyanya dengan seulas senyum.
"Jangan terlalu memikirkan dia yang telah membuatmu hancur. Apa susahnya melepas orang yang telah membuatmu seperti ini?" Ujar Vyola dengan tatapan tajam.
"Kalian tak mengerti."
"Tak mengerti apa? Jelas-jelas dia sudah mengatakan 'TEMAN' "
"Aku tak habis fikir. Hati kamu itu terbuat dari apa? ribuan kali tersuk belati masih saja menanti. Dibelakangmu Rio selalu setia! Buka matamu!"
Aku hanya diam menatap jendela mendengar perkataan kedua sahabatku. Mungkin pemikiran mereka yang menganggap aku bodoh itu benar. Ya, aku bodoh. Aku selalu setia menunggu Hisam. Dia yang selalu ku puja, dia yang selalu ku damba. Namun dia juga yang selalu membuatku hampa. Dia mengikatku dalam ketidak pastian yang tak berujung. Aku mencoba bersabar dan tak ingin mengakhiri penantian. Namun semakin lama semakin dia tak peduli dengan apa yang ku perjuangkan. Ia tak melihat apa saja yang telah ku korbankan. Demi dia, aku bahkan merelakan Rio. Rio yang seharusnya aku perjuangkan dan tak layak aku tinggalkan. Aku meninggalkan Rio demi dia yang ku puja. Padahal aku mencintainya. Ini memang gila. Aku memiliki satu hati namun meyimpan dua cinta. Tapi aku yakin hanya ada satu cinta yang sesungguhnya. Namun aku tak tahu, yang mana cinta itu.
Setelah Dea dan Vyola pulang. Aku segera bersiap-siap untuk menemui Rio. Aku sudah ada janji dengannya. Tak ada yang spesial dipenampilanku kala itu. Aku hanya mengenakan kaus dilapisi jaket jeans sesiku dan celana jeans abu-abu dengan hijab yang sangat simpel. Aku segera mengambil tas ku dan pergi.
Sepuluh menit kemudian, aku sampai ditempat yang di tuju. Victoria Cafe. Aku dan Rio memang sering ketempat ini, walau hanya sekedar minum kopi. Aku segera masuk, ku dapati pria dengan jersey yang melekat ditubuhnya, ia menyapaku hangat, aku hanya membalas senyum. Tanpa basa-basi, aku langsung menyampaikan maksudku.
“Rio, maafkan aku. Sepertinya, kita cukup sampai disini saja.”
“Kenapa?” Rio terkaget.
“Aku, aku mencintai Hisam. Bodoh memang. Entah mengapa aku tak bisa melupakannya. Aku kira dengan menjalankan dengan mu, aku bisa melupakannya, ternyata tidak. Maafkan aku, kamu boleh membenciku.” Tak terasa air itu tak terbendung, ia mulai mengalir dipipi.
"Aku tak akan membencimu. Sampai kapanpun aku tak akan membencimu. Karena aku mencintaimu." Ujar Rio setelah aku memutuskan untuk pergi darinya. Aku tak habis pikir, sebaik itukah hatinya? Ia tetap mengatakan "cinta" meski jelas-jelas aku mengatakan aku masih mencintai Hisam.
"Aku akan menunggu selama aku mampu." Ujar Rio kembali.
Aku tak kuasa menahan air mataku. Mengapa engkau begitu tulus menyayangi orang yang jelas-jelas telah menghancurkan mu? Mengapa kau tak benci saja aku?
"Mengapa kau seperti itu? Bukankah aku telah mempermainkan mu?!" Suaraku meninggi. Aku menghapus air mataku kasar. Rio hanya melempar sebuah senyum.
"Kembalilah padanya jika memang kau masih mencintainya."
"Mengapa kau sebaik ini?" air mataku semakin deras.
"Karna aku mencintaimu, kembalilah padanya."
Rio melepas genggaman tangannya. Perlahan dia berjalan menjauh dan meninggalkanku yang tak mau terlepas dari masa lalu. Aku masih terisak, aku segera keluar dari kafe itu dan bergegas pulang.
***
"Selamat pagi Ola" Sapaan Hangat Hisam menjadi semangat pagiku. Meski hanya lewat ponsel itu cukup bagiku. Bahkan aku selalu lupa dengan kesakitan yang Hisam berikan. Terkadang aku menatap diri dihadapan cermin 'Sam, Masih ingat kah teman sekelasku dulu yang kau suka? Masih ingatkah teman sekelasmu? Masih ingatkah coklat itu? Masih ingatkah tragedi dibulan November itu? Ketika aku hedak membuang hadiah itu. Dan aku masih mengingat persis perkataan mu dalam telepon seluler dengannya. Aku masih mengingat panggilan panggilan abnormalmu kepada mereka. Masih terekam jelas kabar-kabar itu yang menghampiriku. Masih tersimpan rapi gambar-gambar perih itu. Yang membuat retak dan hancur. Yang utuh menjadi lebur.' Setelah semua sakit itu ia beri, aku tetap saja disini. Sebenarnya aku tak mengerti akan hubunganku dengan Hisam. Setelah aku pergi dari Rio, hubunganku dengan Hisam kembali terjalin. Meski masih seperi dulu, berhubungan tanpa status.
"Mana Hisamnya? Ngabarin aja engga?!" Gumam Vyola.
"Duh ngasih kabar aja engga. Apalagi ngasih status." Ujar Dea.
Aku tak menggubris perkataan mereka. Sudah jadi hal biasa jika mreka seperti itu. Tapi aku juga khawatir. Mengapa hisam menjadi seperti ini? Mungkin dia sibuk~
***
Setiap malam minggu aku selalu berkpul dengan teman-teman komplek rumahku. Termasuk Hisam. Malam itu kami semua berkumpul sambil menikmati jagung bakar dan sosis bakar. Aku selalu menunggu moment ini, karna hanya pada saat itulah aku bisa bertemu dan bermain dengan Hisam. Selain pada waktu itu, kami sibuk dengan kegiatan kami masing-masing.
Aku duduk disamping Teh Fuji,  temanku, sambil menikmati jagung bakar yang pedas. Ketika sedang asyik bercengkrama sambil menatap langit, tiba-tiba terdengar suara ponsel. Aku melirik ke arah suara itu. Ternyata itu ponsel Hisam. Kulihat siapa penelfon itu. "KAYTA" begitu tulisan yang terpampang di layar ponsel itu. Kayta? Siapa dia? namun ketika aku melihat nomer ponselnya. Ternyata aku mengenalnya, dia adalah perempuan yang hadir dalam kehidupan aku dan Hisam. Diana. Dia yang telah merubah hisam. Dia yang telah membuat Hisam berbeda. Aku selalu menyebutnya parasit, namun Hisam tak terima jika aku berkata seperti itu. Dia marah jika aku berkata demikian.
Mengetahui hal itu, aku segera pulang dan menelfon Vyola dan Dea, aku menyuruh mereka  untuk menginap di rumahku malam ini. Setidaknya untuk menemaniku dan menghiburku karena kejadian itu.
"Sudah tinggalkan saja dia!!! Dia sudah menyakitimu. Lagi!! Biarkan saja dia pergi bersama KAYTA'nya."
"Aku tak mampu.. Aku tak mampu." Aku terus menangis dalam pelukan Vyola. 
"Tinggalkan dia, kamu layak bahagia." Dea menghapus air mataku perlahan.

Setelah kejadian malam minggu itu, aku bertekad untuk pergi dari Hisam. Hatiku tak selalu kuat menahan semuanya.
"Maafkan aku memilih pergi."
"Kenapa? Padahal aku menginginkan kamu kembali."
"Maafkan Aku, maafkan aku."
"Baiklah jika itu kuputusanmu aku hormati, padahal bagiku, status itu tak penting."
"Aku berbeda denganmu. begitupun dengan pendapat itu."
"Terserah padamu." Ujar Hisam
Setelah aku mengatakan pergi. Hubunganku dan hisam mulai merenggang. Sejujurnya aku tak mampu. Aku tak mampu jika harus tanpa dia. Aku tak bisa. Tetapi mungkin ini jalan dan menjadi keharusan untuk aku tempuh. Aku mencoba terbiasa tanpa dia. .
***
Malam ini aku tak bisa tersenyum semanis sang dewi. Malam ini aku tak bisa sebahagia bintang yang selalu berkerlip terang. Malam ini aku hanya bisa diam menatap langit yang terlihat polos, padahal begitu semarak dengan rembulan yang selalu melempar senyum dan bintang berkedip menyapa. Yang kurasa hanya angin malam yang merasuk jauh kedalam rusuk. Kurasakan setiap kesedihan dan dilema dalam dada. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ketika dua cinta menghampiriku secara bersamaan.
"Jadi kita akan kembali?" kata-kata itu selalu terngiang dalam telingaku.
"Jadi kamu pergi dariku karna akan kembali pada Dia."
Namun kata itupun selalu merasuk menyakiti jiwa. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku kira Hisam sudah tak peduli. Tapi mengapa ketika aku yakin ingin memlulai kembali dengan dia, dia baru menunjukan kepeduliannya. Memang seharusnya kata-kata itu tak usah ku pedulikan, seharusnya aku tetap berjalan dengan Rio. Tapi kata-kata itu seolah memiliki mantra yang berhasil merobohkan benteng hati yang telah ku buat susah payah. Aku dilema. Apakah aku harus tetap bersama Rio dengan mengbaikan Hisam? Tapi aku takut akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Dan untuk kembali kepada hisampun tidak mungkin. Karna itu akan menyakiti Rio untuk kesekian kalinya. Dan luka yang dibuatnya belum juga mengering.
Mengapa cinta serumit ini. Aku kira semua cinta itu akan indah pada akhirnya, seperti cinta Cinderella yang rumit namun di ujung cerita ia bahagia. Namun lain dengan cintaku. Dalam cerita cintaku, aku yang bahkan tak tahu dimana cinta sejatiku harus rela melepas mereka yang memiliki cinta. Dua cinta yang ada dihati ku ini, bukanlah cinta sejati. Karena sesungguhnya satu hati hanya untuk satu cinta sejati, bukan dua atau lebih.

Sabtu, 13 September 2014

Senja

Burung-burung berkicau pagi itu. Cahaya mentari sudah menerobos masuk kedalam kamar. Perlahan kubuka jendela kamarku. Ku biarkan udara pagi menyeruak masuk. Menerpa segala yang ada didalamnya agar semua merasakan kesegarannya. Ku tatap hamparan pasir putih yang terhampar luas dihadapanku, ku perhatikan setiap deburan ombak yang menghantamnya, aku terus mengamati pemandangan itu dibalik jendela kamar hotelku. Ku mainkan lensa kameraku sampai benar-benar ku temukan focus yang tepat.
“Sudah mendapat hasil yang bagus?” tanya Yuda.
“Belum, entah mengapa sulit sekali menemukan focus yang tepat.”
“Seorang fotografer harus benar-benar mencintai fotografi. Jika kau hanya diam kau tidak akan mendapatkannya. Hasil yang maksimal akan didapatkan jika kita mengerjakan sesuatu dengan kesenangan dan kesungguhan.” Yuda menepuk pundakku lalu dia keluar dari kamarku.
Sudah satu minggu aku dan Yuda berada di Lombok. Disana kami melakukan pemotretan alam Lombok untuk pameran fotografi di Jakarta. Namun sampai sekarang aku belum menemukan satupun potret yang menarik. Sementara Yuda sudah menemukan potret yang bagus dahkan ia sudah mencetaknya dan siap dipamerkan di pameran nanti.
Setelah semuanya rapih, aku segera turun menuju kafe hotel untuk sarapan.
“roti bakar keju dan secangkir coklat panas.” Aku memesan menu sarapanku kepada salah satu pelayan disitu.
“Baik mas.”
“Ruly!” seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh kearahnya. Dan ternyata, Yuda.
“Gue mau balik ke Jakarta sekarang. Soalnya nenek gue sakit.”
“Lo yakin fotonya sudah cukup?” tanyaku kepada Yuda.
“Cukup.”
“Yasudah hati-hati.”
“Iya, sampai bertemu dipameran.” Yuda menepuk pundakku dan berlalu meninggalkanku dengan koper ditangannya.
Menu sarapanku sudah dating. Aku segera menyantapnya sambil memikirkan potret bagus yang sampai sekarang belum ku temukan.
***
Hampir 12 jam aku berada di pantai ini. Namun tetap saja aku tidak menemukan potret yang bagus. Berulangkali ku atur focus kameraku. Namun hasilnya nihil, gambar yang terambil tak bernyawa dan tak mampu bercerita. Aku seperti kehilangan jiwa fotograferku. Aku putuskan untuk beristirahat ditepi pantai itu sambil menikmati senja.
Semburat jingga mulai terpancar diwajah langit. Aku terus memainkan kameraku berharap mendapat gambar yang memukau. Ku arahkan lensa kameraku kesetiap sudut, namun tetap saja. Akhirnya aku menyerah.
Ketika mataku dimanjakan oleh pemandangan yang memikat. Aku melihat seorang wanita yang tengah duduk di tepi pantai, sepertinya ia sedang melukis. Tangannya llincah meliuk-liuk diatas kanvas. Sesekali ia mencium cat lukisnya. Entah apa tujuannya. Segera ku raih kameraku dan ku arahkan focus padanya. Satu gambar yang cukup bagus berhasil ku ambil. Aku hendak menemuinya sekedar untuk berterimakasih. Namun  hari sudah gelap.
***
Setelah kemarin mendapatkan potret wanita itu, aku kembali berkelana mencari potret lain yang luar biasa. Namun entah mengapa aku lebih senang memotret senja. Seperti hari kemarin, aku menunggu senja datang di tepi pantai. Matahari mulai bersembunyi malu-malu. Air laut mulai merah terpantul cahaya sang surya. Aku segera meraih kameraku. Namun ketika hendak memotret senja itu, aku melihat wanita itu kembali, masih dengan kuas dan kanvasnya. Aku selalu memperhatikan gerak-gerik wanita penikmat senja itu. Seolah memiliki daya tarik tersendiri, mataku enggan berpaling menatap yang lain. Ia menggerakkan kuasnya kesana-kemari. Ia juga selalu mencium cat lukisnya. Entah apa maksudnya. Mungkin ia menyukai aromanya. Perlahan, ku langkahkan kaki menuju ke arahnya. Namun ketika hendak sampai, ponselku bordering.
“Halo Ruly!” suara Yuda terdengar disebrang telfon.
“ya”
“Tolong kirimkan foto yang ada di laptopmu ke email ku sekarang. Penting.”
“Foto yang mana?”
“Di folder ‘Yuda Lombok’ tolong ya, thnx”
“ya.”
Aku menutup telfonnya dan segera menuju hotel. Aku gagal lagi untuk menemui wanita itu.
***
Masih dengan kamera di tanganku. Ini adalah hari terakhirku di Lombok. Aku ingin memuaskan diri disini sebelum aku kembali ke keramaian Jakarta. Aku masih ingin disini, dipaintai menikmati senja dan semilir angin sejuk yang menerpa. Kuperhatikan ombak yang berkejaran, nyiur yang melambai, serta perahu para nelayan yang mulai berlayar. Aku pasti akan merindukannya.
Suasana pantai mulai sepi. Aku duduk dipasir putih yang lembut sambil melihat hasil potretku. Seketika aku mengingat wanita itu. Mataku berkeliling berharap menemukan sosok wanita yang akrab dengan kuas dan kanvas itu, dan aku menemukannya. Tanpa fikir panjang, aku segera menghampirinya.
“kamu suka senja?” Aku mencoba membuka pembicaraan.
“Siapa disana?” ujar wanita itu tanpa menoleh ke arahku. Ia tetap asyik dengan lukisannya.
“Aku Ruly.”
“Zea” Jawab wanita itu singkat. Jilbabnya indah tertiup angin. Aku tak ingin kehilangan moment ini, segera kuraih kamereaku dan ku ambil gambarnya.
“Lukisan mu indah.” Aku berkata berharap ada respon darinya.
Mendengar perkataanku, ia berhenti melukis. Untuk beberapa detik dia diam dan menundukan kepalanya.
“Terimakasih, tapi aku tak bisa melihat keindahannya.” Ujarnya.
“Maksud kamu?” Tanyaku kembali.
Ia tak menjawab apa-apa. Ia kembali melukis. Aku mencoba menghampirinya lebih dekat dan duduk disampingnya.
“Aku buta.” Ujarnya tiba-tiba.
Aku terbelalak mendengarnya. Aku hanya bisa memandangnya yang ternyata memang benar buta. Aku tak bisa berkata apa-apa.
“Sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku sama sepertimu. Aku sering melukis  di pantai ini, merasakan semilir angin yang menerpa wajahku, menikmati setiap desir ombak, dan menikmati indahnya langit senja. Sebenarnya keadaan saat ini masih sama. Hanya berbeda sedikit, aku tak dapat melihat indahnya langit senja.” Ia bercerita sambil terus menggoreskan cat di kanvasnya.
“tapi..”
“Tapia pa? tapi mengapa aku bisa melukis ini?” Zea memotong perkataanku sebelum aku melanjutkannya.
“2 tahun lalu sebelum kecelakaan itu terjadi, aku sering menikmati senja disini. Ku amati setiap keindahannya sampai aku hafal bagai mana suasananya. Oleh karenanya, aku bisa menggambarkannya disi. Dan aku sudah hafal aroma setiap warna cat lukisku. Bagai mana aroma warna kuning, orange, atau yang lain aku hafal.” Cerita Zea panjang lebar.
“Aku salut.”
“Melukis adalah hal yang paling aku sukai. Aku seperti menemukan dunia baruku ketika aku melukis. Dengan melukis, mataku yang tak bisa melihat, bisa menjadi melihat apapun yang aku fikirkan saat itu.”
“Maksudmu dalam imajinasi.”
“Tepat.”
Aku benar-benar salut pada Zea. Ia tak pernah mengeluh dengan  kekurangannya. Zea telah mengajarkanku bagaimana caranya menikmati hidup. Dengan matanya yang tak dapat melihat, ia masih bisa melukiskan keindahan senja. Zea selalu bersyukur, walaupun matanya tak berfungsi lagi, setidaknya ia masih memiliki telinga untuk mendengar deburan ombak dipantai, ia masih bisa merasakan semilir angin, dan ia tetap bisa melihat indahnya langit senja walau hanya dalam fantasinya. Aku sadar, fotografi adalah duniaku, jika aku mengerjakannya dengan kesungguhan dan kesenangan, pasti aku akan mendapat hasil yang memuaskan. Tidak seperti hari kemarin, yang aku kerjakan dengan bermalas-malasan.
“Sudah malam, aku pulang.” Suara Zea membangunkan lamunanku. Ia bangkit dari duduknya dan akhirnya pergi meninggalkanku. Ia berjalan dibantu oleh seorang wanita paruh baya. Sepertinya ibunya.
Aku tak henti memandangnya sampai benar-benar ia berjalan menjauh, “Terimakasih Zea.”

Rabu, 23 Juli 2014

Ku Jatuhkan Ini Padamu




Panas matahari begitu menyengat. Ia tak peduli dengan mahluk disekitarnya yang terbakar olehnya. Aku langkahkan kaki ku menuju mini market terdekat.
"Ini Mba." Aku menyodorkan sebotol minuman isotonik kepada penjaga kasir.
"Beli dua gratis satu mba"
"Tidak. Satu cukup." Aku lalu memberikan sejumlah uang kepada kasir itu dan   bergegas meninggalkannya. Aku segera menuju halte busway yang tak jauh dari mini market itu.
Hari ini adalah hari yang paling menyebalkan seumur hidupku. Dimana pada hari ini aku melaksanalan Masa Orientasi Siswa di sekolah baruku, SMA Tunas Bangsa. Aku benci saat- saat seperti ini, menjadi bahan olok-olokan senior, dan tak jarang para murid baru selalu menjadi sasaran kejahilan senior-seniornya. Memang tidak ada kekerasan disini, tapi terkadang para murid baru dipermalukan. Untuk menguji mental katanya. Tapi tetap saja bagiku itu adalah hal yang paling menyebalkan.
"Kenapa melamun Ly?" Suara seorang pria membuyarkan lamunanku.
"Eh.. anu.. Engga.. Engga apa-apa kok Djie." Jawabku terbata-bata karena masih terkejut.
"Kamu pasti lelah karena seharian MOS." Adjie menatapku mantap.
"Mungkin Djie, kegiatan hari ini penuh sekali.. Apalagi ditembah terik matahari yang menyengat seperti ini."
"Nih aku bawa minum." Adji menyodorkan minumannya ke arah ku.
"Makasih, tapi aku juga ada."
Tak lama kemudian busway dengan jurusan yang aku tuju pun tiba. Aku segera memasukinya, Adjie mengikutiku dari belakang. Adjie adalah sahabatku sejak kecil. Rumah ku dan rumahnya hanya terpisah oleh jalanan komplek perumahan saja. Hampir setiap sore aku bermain dengan Adjie. melihat senja di balkon rumahnya, sambil menikmati secangkir teh hangat favorit kami. Kami juga tak lupa menyertakan biskuit berbahan dasar gandum untuk kami nikmati dengan teh hangat tersebut. Sambil menikmati semua hidangan itu, aku dan Adji selalu mengintip keluar angkasa menggunakan teropong milik Adji, aku suka melihat angkasa ketika senja.Tetapi semenjak masuk SMA, ritual itu tak pernah terjadi lagi. Seperti budaya yang terbengkalai dan perlahan hilang. Kami mulai disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Tapi semuanya berbeda ketika sekolah mulai membagi siswa ke jurusannya. Ternyata aku dan Adjie satu jurusan yang sama bahkan kami satu ruang kelas. Kelas 10 IPA 1. Aku senang bukan main, setidaknya setiap hari aku bisa bertemu dengan Adjie dan tetap ada komunikasi. Walaupun mungkin kegiatan menikmati senja dengan ditemani oleh secangkir teh dan kepingan biskuit gandum akan berkurang dan ritual memandang senja dengan teropong menjadi jarang.

***
Dengan cara berjalannya yang khas, Adjie menghampiri bangku ku.
"Lily.. Jadi kita akan mengerjakan tugas kelompoknya kapan?"
"Tugas kelompok apa?"
"Biologi lah, apa lagi." Adjie memutar bola matanya kesal.
"Biasa aja kali. Nanti sore aja gimana?"
"Jam berapa?"
"Sehabis ashar deh.. kamu yang ke rumah ku ya?"
"Malas.. Kamu saja yang ke rumahku."
"Adjie! seberapa jauh si rumah kamu dengan rumahku? Hanya beberapa langkah juga pasti sampai."
"Nah itu kamu tahu. Seberapa jauh si rumah kamu dengan rumahku? hah? hah?"
"Ish.. Pokoknya kamu saja yang ke rumahku!"
"Iya iya.. " Aji lalu mencubit hidungku.
"ADJIE!!" Aku berlari mengejar Adjie yang seketika mengubah hidungku menjadi tomat.

***
"Permisi"
"Eh Adjie, cari Lily ya? ada tuh di lantai atas, kamu temui sana."
"Iya makasih tante." Adjie membungkukkan badan dihadapan ibuku tanda permisi.
"Lama sekaleeeee kemana aja?" pertanyaanku langsung menyambar Adjie yang baru saja tiba.
"Maaf tadi ketiduran hehe." Tanpa rasa malu Adjie menertawakan kesalahannya. Aku hanya menggelengkan kepala heran.
"Sudah ayo kita kerjakan." Aku mengambil balpointku dan segera mengerjakan tugas kelompok itu.
Tak terasa sudah satu jam aku dan Adjie berkutat dengan buku-buku yang tebalnya bukan main. Setelah semua tugas selesai, aku merebahkan tubuhku diatas karpet berudlu dekat balkon. Adjie berbaring disampingku. Ketika itu, ada hal aneh yang aku rasakan. Mengapa saat Adjie berada disampingku, jantungku seperti berloncatan, dag  dig dug tak karuan. Ada kesenangan namun terselip kegelisahan didalamnya. Apa yang ku rasakan? Sungguh ini sulit didefinisikan.
Hari sudah mulai malam. Sang fajar sudah menenggelamkan lambaian cahayanya dibalik awan kelabu. Adjie pamit pulang, aku mengantarnya sampai pintu depan. Dan sampai saat itu. Jantungku tak berhenti berloncatan. Degupnya semakin kencang ketika sorot mata Adjie mengarah kepada mataku. Seketika tanganku membeku. Dingin dan kaku. Ini ada apa? Sungguh aku tak mengerti. Tak seperti biasanya aku seperti ini.

***

Pagi ini aku harus berangkat lebih pagi kesekolah. Karena hari ini adalah jadwal piket ku. Sebenarnya aku malas, tapi ini sudah menjadi ketentuan dan tak boleh aku langgar. Sesampainya di sekolah, aku segera menuju ruang kelasku. Ketika aku tiba di kelas, ternyata sudah ada Adjie. Dan rasa itu terjadi lagi. Jantungku dag dig dug tak karuan. Tanganku dingin dan kaku. Bahkan ketika hendak menjawab sapaan Adjie pun lidahku seperti sulit di gerakan.
"kamu kenapa?" Tanya Adjie.
Mati lah aku. Sepertinya ia menyadari kelakuanku yang aneh.
"Aku gapapa Djie." Jawabku singkat.
"Ya sudah. Sekarang kamu piket kan? bersihin tuh" Adjie melemparkan kain ke arah wajahku sambil menjulurkan lidahnya. Padahal aku sendiri sedang mengontrol detak jantungku yang tak karuan karena perasaan yang membigungkan.

***
Sudah satu minggu perasaan itu tak lekas pergi dari diriku. Selama itu pula aku selalu bertingkah aneh bila dekat dengan Adjie. Aku tak mengerti? Kata temanku itu adalah jatuh cinta. Jatuh cinta? Jika ia. Mengapa harus ku jatuhkan cinta itu kepada Adjie? Sahabatku? Mengapa tidak kepada pria lain?
"Lily" Ku lihat seorang anak lelaki melambaikan tangannya pada ku didepan perpustakaan.
"Mati. Itu Adjie." Batin ku.
Aku segera berbalik arah dan hendak pergi. Namun rupanya kakiku terlalu lambat melangkah. Akhirnya tangan itu menarik tanganku. Menggenggam jemariku. Ya, tangan Adjie. Kali ini jantungku bukan berdegup kencang. Tapi kali ini jantungku seperti berhenti berdetak. Tubuhku seperti melayang, perlahan aku menoleh ke arah Adjie dan ku berikan senyuman yang begitu kaku.
"Ly? Kamu kenapa si? Akhir-akhir ini seperti menghindar dari ku? Kamu marah? Jujur saja aku merasa jauh."
Jauh? Fikiranku mulai berfantasi mencari-cari arti kata jauh itu. Mungkin menurutku jauh adalah tindakan kejam dan sangat menyiksa bagi orang-orang yang bersahabat. Seperti aku dan Adjie. Dan kini, mungkin aku telah melakukan itu semua. aku melakukan tindakkan kejam. Aku menyiksa Adjie dengan men'jauh'nya aku. Tapi bukan aku yang menjauh dari mu Djie. Mungkin, karna rasa ini kita jauh. Rasa yang tak seharusnya ku jatuhkan padamu.
"Hah? Jauh?" Aku menjawab seolah tak terjadi apa-apa.
"Ya.. jauh." Jawab Adjie datar.
"Mugkin perasaanmu saja djie. Aku tidak akan menjauhimu Djie. Percaya?" Aku mencoba menyakin kan Adjie. Adjie hanya mengangguk dan melempar senyumnya. Untuk kesekian kalinya. Degup itu kembali kuat.

***
Sambil menikmati coklat kesukaanku. Aku berbaring di sofa kamar ku. Aku masih memikirkan perasaanku kepada Adjie.
"Tidak. Tidak boleh. Aku tidak boleh jatuh cinta pada Adjie. Karena... Karena... Karena lihat saja? Karena rasa itu. Adjie merasa jauh denganku." Rambutku sudah tak karuan karena sedari tadi aku acak-acak sendiri. Dengan sisa-sisa coklat yang menempel ditepi bibirku. Aku tetap bergumam sendiri, terkadang aku menatap diriku dicermin. "Aku tidak boleh jatuh cinta kepada Adjie. Tidak boleh! Aku akan hapus rasa itu!".
Ketika fikiranku sedang tak karuan, tiba-tiba handphoneku bergetar. Ada pesan masuk rupanya. Ku lihat siapa pengirimnya, dan ternyata Adjie. Ku genggam handphoneku namun aku letakan lagi. Aku ragu untuk membukanya. Ku penjamkan mataku dan perlahan ku jangkau handphoneku. Tapi rasanya jemariku begitu kaku. Lalu ku letakkab lagi handphone itu. Tuhaaaan aku ingin menghapus rasa ini. Akhirnya aku beranikan diri membuka handphone itu dan membaca pesan dari Adjie.
"Ly.. Kamu Kesini ya? kerumah aku."
Begitu isi pesan dari Adjie. Dan sekarang aku harus bagaimana? Apakah aku harus menemui Adjie dirumahnya? Tapi bagaimana jika rasa itu datang lagi? Aah Rasa itu sudah aku hapus!!.

Sesampainya di rumah Adjie. Adjie menyapaku hangat. Aku mencoba bersikap tenang dan enjoy seperti biasa. Ternyata kali ini aku berhasil mengendalikan degup jantungku. Sikapku menunjukkan sikapku yang seperti biasa. Waupun tidak sebiasa biasanya.
"Ly?"
"Iya?"
"Lihat ini" Adjie memberikan teropong itu padaku.
"Kamu lihat apa disana?" Adjie melanjutkan pembicaraannya.
"Aku tidak melihat apa-apa." Aku mengerutkan dahi.
"Tidak mungkin kamu tidak melihat apa-apa" Tukas Adjie.
"Disini aku hanya melihat langit." Jawabku
"Kamu tau, luas langit itu berapa?" Tanya Adjie kepadaku.
"Ya mana aku tahu. Sepertinya tak terhingga." Aku menjawab pertanyaan Adji dengan mata memandang langit.
"Bulan itu indah ya?" celoteh Adjie.
"Iya. Dia bisa indah berkat cahaya matahari yang menyinarinya." Jawabku dengan senyum.
"Seperti luas langitlah sayang aku sama kamu Ly. Tak terhingga. Dan aku ini seperti bulan. Yang akan idah bila mendapat cahaya dari kamu, sebagai mataharinya. Ly.. aku  sayang kamu."
Adjie menggenggam tanganku. Aku terkejut mendengar pernyataan Adjie. Ku kira itu hanya gurauan Adjie saja. Ternyata tidak. Ia benar-benar mengucapkan itu dari hatinya.
"Bodoh! baru saja aku menahan diri dan hendak menghapus rasa itu Djie. Tapi mengapa kamu mengungkapkan nya?" Aku melepaskan tanganku dari genggaman Adjie.
"Maksudnya?" Tanya Adjie dengan tatapan mata tajam.
"Aku juga menyimpan perasaan yang sama. Tapi aku coba menghapusnya. Karena.. Karena rasa itu.. yang membuat kamu merasa bahwa aku jauh kan? iya kan?" Suaraku mulai meninggi.
"Jadi.. Selama ini kami bersikap seperti itu karena kamu memiliki rasa ini?"
"Ya!! Aku jatuh cinta.. Tapi aku jatuhkan cintaku kepada orang yang salah.. Seharusnya cinta ini tak ku jatuhkan kepadamu. Seharusnya aku jatuhkan cinta ini kepada pria lain. Bukan dirimu. Karena aku takut.. Jika rasa ini ku jatuhkan kepadamu. 'Jauh' yang kamu katakan itu semakin nyata. Aku tak mau lagi tersiksa."
Aku berlari meninggalkan Adjie. Adjie mengejarku dan ia berhasil meraih tanganku.
"Ly.. Memangnya salah jika sahabat saling jatuh cinta? bukankah cinta bisa datang pada siapa saja?."
Aku memandang. Dengan mata yang berkacakan air bening yang siap tumpah.
"Djie.. Aku tak ingin persahabatan kita hancur."
"Ly.. Aku mohon.. Aku menyayangimu. Ly cinta tak selamanya dapat menghancurkan persahabatan. Jika cinta ini kita biarkan dan kita pendam, mungkin kita bisa semakin 'jauh'."
Aku tak mengerti dengan perkataan Adjie.
"Ly.. Apakah kamu sadar? cinta kita datang karena persahabatan ini? Jadi, apakah salah jika kita mempersatukan cinta kita? Yang sebenarnya, jika kita satukan, itu akan menguatkan persahabatan kita? bukan malah menghancurkan? Ly.. Tak semua kekasih itu dapat menghilangkan sahabat. kekasih yang baik adalah ia yang mampu menjalankan perannya sebagai kekasih, tetapi juga dapat menjadi seorang sahabat bagi kekasihnya."
Mendengar perkataan Adjie, kaki ku seperti tak perpijak. Tubuhku lemas butuh tumpuan.
Setelah aku cukup tenang. Aku menggenggam tangan Adjie erat-erat.
"Kamu benar Djie, Kamu benar." Aku berkata ragu..
"Jadi.. Kamu mau jadi...." Ucap Adjie terpotong.
Aku memandang mata Adjie teduh. terpancar ketulusan dari matanya.
"Ya.. Aku mau.. Tapi Kamu harus berjanji, kamu harus bisa menjalankan peranmu sebagai kekasihku dan juga sahabatku."
"Aku Janji." Adjie melingkarkan kelingkingnya pada kelingkingku.

Terkadang aku berfikir cinta itu tidak sopan. Ia datang pada siapa saja tanpa permisi dan tanpa terlebih dahulu membuat janji. Bahkan ia bisa datang pada situasi yang tak semestinya ia datangi. Tapi karena cinta, dua hati yang awalnya biasa saja dan tanpa rasa bisa menjadi satu hati yang luar biasa dan penuh rasa.

Sweet Cherry




Sosok itu bukanlah sosok nyata. Bukan dalam utuh berwujud raga. Tapi itu hanya seoonggok bayangan yang terus mengikatmu dalam gulita. Gulita cinta. Sadarlah. Jika terlalu lama mengikat diri dalam kegelapan cinta, itu akan membuat indramu buta. Hingga akhirnya kau lelah. Lalu mengapa kau biarkan lelah itu tetap melekat? Mengapa tidak kau lepaskan saja dia? Sedang menurutku menunggu dan kelelahan hanya akan menyiksa. Menyiksa raga membiarkannya lelah. Menyiksa hati membiarkannya lemah. Akhir dari cinta memang teradang berdeda. Berbeda dengan apa yang kamu harapkan. Ya, cinta memang sulit ditebak. Tapi percayalah, sebelum kita menemukan cinta yang benar, terlebih dahulu kita akan dipertemukan dengan yang salah. Kamu sudah menemui yang salah. Kini saatnya kamu dipertemukan dengan yang benar.

Kata-kata Seren itulah yang membuat aku bangkit. Bangkit dari sakit yang di berikan Ryan, lelaki yang berhasil membuat aku begitu rapuh. Lelaki yang berhasil membuatku nyaris tak dapat memberikan rasa yang dulu pernah ku berikan padanya. Tapi rupanya kata-kata Seren itu berhasil membius hatiku, yang akhirnya kini aku menemukan sosok yang mampu sembuhkan lukaku. Samuel.

"Sofie? Kamu dimana? Aku jemput ya?" Ujarnya disebrang telfon.
"Aku baru ke luar kelas Sam."
"Yasudah aku tunggu didepan gerbang ya?"
"Oke." Aku menutup telfonnya.

"Cieee Samuel ya?" Ujar Seren menggodaku.
"Hehe iyaa.. "
"Aku senang akhirnya  kamu menemukan dia." Seren memelukku
"Iya.. Ini berkat kamu Seren makasih yaaa.. Oiya, sebentar lagi Samuel ulang tahun, menurut kamu aku harus ngasih kado apa ya?"
"Gak perlu kado yang mahal, dengan memberinya kenangan manis itu sudah tak terbayar."
"Benar juga. Lagi-lagi makasih ya Seren."
"Iya, udah sana pulang. Pangeran berkuda putihnya udah jemput tuh."
"Bukan berkuda putih. Tapi bersepeda putih."
Aku dan Seren terkekeh. Aku segera menghampiri Samuel. Dan segera menaiki sepedanya lalu merengkuh pundaknya.

"Udah lama ya?" Tanyaku kepada Samuel.
"Engga kok. Baru nyampe."
Aku dan Samuel berbeda sekolah. Tetapi setiap pulang sekolah, Samuel selalu menjemputku dengan sepeda olahraganya. Aku sangat senang setiap kali pulang dengan Samuel. Aku bisa menikmati angin yang menerpa wajahku dan menerbangkan helaian rambutku. Aku juga suka ketika aku merengkuh pundak Samuel yang tengah mengayuh sepeda membelah angin. Aku juga suka ketika wangi parfumenya tercium diterbangkan angin.
"Kamu kangen aku ya?" Ujar samuel tiba-tiba.
"Ih pede banget kamu." Aku memukul pundaknya pelan.
"Habisnya kamu pegang pundak aku erat banget." Samuel berhenti mengayuh sepedanya sembari tersenyum jail.
"Kenapa berhenti? Kamu mau turunin aku?"
"Mau aku turunin tah?" Kata Samuel menggodaku.
"O jadi kamu mau turunin aku?" Aku balik menggodanya.
"Aku kan pacar yang baik. Selalu menuruti kemauan pacarnya. Kamu mau turun ya aku turunin." Samuel menjulurkan lidahnya.
"Ih... " Aku mencubit pinggangnya. Samuel berlari menghindari cubitanku dan akhirnya dia tersungkur tertindih sepedanya.
"Sam.. Kamu gapapa?" Tanyaku khawatir
"Aww sakit.."
"Apanya yang sakit? mana? sini aku cek? maafin aku ya?" suaraku merendah.
"Aku sakit kalau kamu ninggalin aku Sofie." Samuel menyeringai.
"Samueeeeel.. Aku kira kamu sakit beneran."
"Hehee.. kena kamu.. ternyata kamu lembut ya." Ujar samuel.
Seketika rona pipiku berubah merah. Senyumku mengembang.
"Apaan si kamu." Aku memukulnya manja.
"Udah deh cepet pulang." Aku menarik ransel Samuel.

***
"Sofie.. Maafin aku. Itu gak seperti yang kamu fikirkan. Aku sama sekali gak ada niatan buat pulang bareng sala Selvi."
"Jelas-jelas kamu memboncengnya." Nada bicaraku tinggi. Wajah Samuel Semakin kikuk.
"Kemarin aku bertemu dia di jalan. Lagian kamu kemarin ngomongnya mau ada tugas kelompokkan? Mangkanya aku mengizinkan Selvi ikut dengankku, lagi pula rumah kita kan dekat."
"Terserah kamu saja." Aku berlalu meninggalkan Samuel ditengah taman komplek.

Malam ini begitu sepi, langitpun tidak sesemarak biasanya. Tidak ada bintang yang berkedip malu-malu, tidak ada bulan sabit yang biasanya melengkungkan senyum atau purnama yang memancarkan indah sinarnya. Langit begitu polos malam ini. Ku rasakan setiap hembusan angin malam yang menerpa tubuhku. Aku duduk di balkon rumahku. Aku teringat kejadian tadi sore, ketika aku meninggalkan Samuel ditengah taman komplek. Sebenarnya ada penyesalan dalam hatiku. Mengapa aku sebodoh itu? Mengapa aku melakukan hal yang sangat kekanakan? Cemburu adalah sikap yang paling sulit untuk aku hindari kali ini. Setelah dulu aku merasakan sakit yang amat dalam karena tak pernah merasa cemburu, karena aku fikir cemburu hanya akan membuat kekangan saja yang akhirnya dia jenuh, bosan dan meninggalkan kita. Tapi ternyata persepsiku salah. Aku terlalu membebaskan Ryan waktu itu, Karena aku percaya ia takan mendusta. Tapi kepercayaanku seolah menjadi bumerang untukku, dia mendua. Dia mendusta. Menghianatiku yang telah tulus mencintainya. Menghancurkan hatiku yang selalu setia menemaninya menjadi keping-keping yang aku juga tak yakin bisa menyatukannya lagi. Tapi Samuel berhasil menyatukannya lagi. Ia berhasil membentuk hati ku kembali, walau luka yang dahulu tak dapat ku hapus dan masih berbekas. Tetapi setidaknya Samuel berhasil mengeringkan luka itu. Dan membangkitkan "aku" yang baru.

Aku terlalu asyik berfantasi dengan khayalanku. Hingga aku tak sadar ternyata handphoneku sudah mengedipkan led-nya sedari tadi. Aku membukanya perlahan.

-Seren- Cemburu itu wajar. Tapi jangan sampai cemburu menguasai hatimu, karena itu akan membuatmu menyesal pada akhirnya. Jangan lihat masa lalumu. Masa sekarangmu sangat jauh berbeda dengan masalalumu. Walaupun kamu berikan dia kebebasan dia tidak akan menghianatimu seperti masalalumu. dan dia tidak akan membuat mu hancur. Lagi. Dia benar-benar menyangu.

Seren seolah mengetahui apa yang ada difikirankku. Ketika aku hendak membalas pesannya, terdengar teriakan dari bawah. Aku mendongok ke arah suara itu.
"Seren maafin aku." Ujar Samuel dibawah sana yang ternyata ditemani oleh Seren.
Samuel membawa gitar. Aku berfikir, sejak kapan dia bisa main gitar? Samuel lalu menyanyikan sebuah lagu dengan diiringi petikan gitar yang cukup, cukup berantakan. Lagunya aneh, aku tak pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Nadanya tak karuan, walaupun aku bukan seniman, tapi aku masih bisa membedakan lagu yang layak di dengar dan yang tidak. Tapi dengan lagu itu, Samuel berhasil mengembalikan senyumku untuknya. Aku lalu turun dari balkon dan menemui Samuel dan Seren.

"Kamu tau, permainan gitarmu ancur tau." Aku menjulurkan lidahku.
"Biarin, yang penting aku bisa dapet maaf dari kamu dan kamu kasih senyum itu untukku." Samuel merangkulku.
"Nih coklat buat kamu." Samuel memberiku sebungkus coklat.
"Kok tinggal separoh?"
"Tadi aku makan sedikit. Habisnya nunggu kamu menoleh kebawah lama banget. makanya aku makan aja coklatnya." Ujar samuel dengan disambut gelak tawa Seren.
"Dia bawa coklat dua, tapi satunya aku pinta Fie, Aku kira dia tidak akan memakan coklat yang satunya. Eh malah dia makan. Pe'a memang." Seren menjelaskan.
"Udahlah.. Bukannya yang bareng-bareng itu lebih enak ya Fie, udah kamu coklatnya barengan sama aku aja. hehehe."
Aku dan Seren hanya tertawa. Ternyata Samuel kocak juga.
"Sofie, besok jalan yuk?"
"Cie yang ulang tahun." Seren menyambar pertanyaan Samuel yang belum senpat aku jawab.
"Jalan kemana?" Tanyaku.
"Makan" Jawab Samuel singkat.
"Aku boleh ajak Seren kan?" Tanyaku kepada Samuel sambil melirik Seren.
"Boleh deeeh." Jawab Samuel sambil mencubit pipiku.
"Enak niiiiiihh." Jawab seren kegirangan.

***
Sebelum aku menemui Samuel di lestoran yang sudah disepakati, dengan ditemani ibu, aku dan Seren membuat cake kejutan untuk Samuel. Aku hiasi cake itu dengan potongan coklat dan diatasnya kuberi buah cherry. Setelah semuanya siap, aku dan Seren segera berangkat.
Sesampainya dileatroan itu, aku dan Seren segera mencari Samuel. Ternyata ia tengah duduk dikursi paling pojok. Aku langkahkan kakiku perlahan menuju Samuel.
"Happy birtday sayang." Aku menutup mata Samuel dari belakang.
"Makasih Sayang." Ia melepaskan tanganku yang menutupi matanya. Rupanya dia sudah tau kalau aku yang menutup matanya. -_-
"Waaahh kueh buat sapa nih" Samuel menunjuk kearah cake yang dibawa Seren.
"Buat elu lah. Ini buatan Sofie loh." Ujar Seren dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Waaah makasiih ya." Samuel mencium tanganku.
"Boleh dimakan nih?" Tanya Samuel.
"Weh nanti dong.. kalau dimakan sekarang, nanti lu gk bakal teraktir gue, dengan alasan udah kenyang makan kue dari Sofie." Cerocos Seren.
"Yaudh pesen apa sana." Samuel menjawab cerocosan Seren dengan santai.
"Asiikk."
Ketika aku dan Seren hendak memesan makanan, tiba-tiba segerombolan anak kelaparan langsung menyerbu kami.
"Selamat ulang tahun Samueeellll." Teriak gerombolan itu serempak. Samuel terkejut melihatnya. Mereka adalah teman-teman kami ketika SMP. ketika itu, aku, Samuel, Seren dan mereka semua satu kelas selama 3 tahun.
"Sofie, kamu yang mengajak mereka semua?" Tanya Samuel kebingungan.
"Engga. Aku cuma ajak Seren." Jawabku.
"Yang benar?" Ia kembali bertanya.
"Jadi gini Samuel sayang.. Aku kan ajak Seren, trus katanya Seren juga pengen ngajak Dea, nah Deanya ngajak Anita, Anita ngajak Bella, Bella ngajak Chilfia, Chilfia ngajak Dwi, Dwinya ngajak Farnur, Fatnurnya ngajak Furqon, Furqonnya ngajak Guruh, Guruhnya ngajak Tegar, Tegarnya ngajak Alif, Alifnya ngajak Angga, Angganya ngajak Rio, Rionya ngajak Ade, Adenya ngajak Aris, Arisnya ngajak Ola, Olanya ngajak Vyola, Vyolanya ngajak Salma, Salmanya ngajak Shella, Shellanya ngajak Irma, Irmanya ngajak Linda, Lindanya Ngajak Tania, Tanianya ngajak Yatni, Yatninya ngajak Nunqy, Nunqynya ngajak Reni, dan Reninya ngajak Ean, Eannya ngajak Alan. Gitu sayang."
"Sama ajaaaaa Sofieeeeeeee sayaaaaaang." Jawab Samuel kesal.
"Ih Engga. Aku kan cuma ngajak Seren. Serennya ngajak Dea, Deanya ngajak Anita, Anitanya ngajak Bella, Bellanya ngajak Chilfia............." Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, Samuel memotongnya.
"Sudah cukup Sofie sayang." Samuel menggaruk-garuk kepalanya, walaupun jika dilihat ia sebenarnya tak merasa gatal.
"Yasudah kalian semua pesan saja." Samuel berkata lemas.
"Yeeeeeeeee" mereka semua bersorak gembira. Mereka tak peduli dengan tatapan orang disekitarnya. Dengan lahapnya mereka menyantap semua makanan yang ada dimeja, termasuk cake yang kubuatkan khusus untuk Samuel. Setelah semuanya habis, mereka semua pamit pulang. Termasuk Seren, Tadinya ia ingin pulang bersama aku dan Samuel, tapi ia ditelfon ibunya dan disuruh segera pulang. Dan kini, hanya tersisa aku dan Samuel.
"Sam, kamu gapapa?" Tanyaku kepada Samuel. Aku khawatir, ia seperti lemas sekali.
"Habis semuaaaaa." Ia menatap meja yang tadinya penuh dengan makanan, kini telah habis bersih.
"Gak habis kok." Ujarku sambil mengumbar senyum.
"Gak habis gimana? Jelas-jelas kinclong semua."
"Kamu tutup mata kamu deh." Perintahku kepada Samuel.
"Untuk apa?"
"Ah banyak tanya. Udah cepet."
Lalu samuel menutup matanya. Aku lalu mengambil Cherry yang hanya tersisa satu diatas piring cake. Lalu aku ambil lilin dengan angka 17 yang lupa  aku nyalakan tadi karena aku bingung dengan keadaan saat itu, keadaan dimana orang-orang kelaparan menyerbu kami. Ku ambil korek api dan kunyalakan lilin itu, ku letakkan lilin itu dibelakanh cherry yang hanya tersisa satu.
"Buka matamu."
Samuel lalu membuka matanya perlahan.
"Happy birthday Sam. I Love You."
Samuel tersenyum malu. Tertangkap kebahagiaan yang besar dimatanya.
"Make a wish dan tiup lilinnya." Kataku kepada Samuel.
"Aku ingin orangtuaku Sehat selalu, Aku ingin aku sukses dikemudian hari dan pada saat itu ada kamu, Sofie yang menemani." Lalu Samuel meniup lilinnya. Dia memelukku erat.
"Makasih ya?" Ujarnya
"Iya, nih makan cherrynya." Aku mendekatkan cherry itu kemulut Samuel. Lalu ia memakannya.
"Manis?" Tanyaku. "Manis, tapi bukan hanya cherry ini yang manis. Momen ini jug sangat manis. Sekali lagi makasih ya Sofie. Fie, Kamu tau gak perasaan aku sekarang kaya gimana?" Ia medekatkan tubuhnya ketubuhku. "Memangnya seperti apa?" Aku balik bertanya. "Rasanya itu seperti terbang ke atmosfer berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatis dan menuju rasi bintang paliiiiing manis. Walaupun mungkin setelah ini tabunganku akan menipis." Aku terdiam mendengar kata-kata samuel. Aku menatap samuel, Samuel menatapku. Tak lama kemudian gelak tawa kami menggema di lestoran itu. Memang kenangan manis itu tak pernah terbayar.