Panas matahari begitu menyengat. Ia tak
peduli dengan mahluk disekitarnya yang terbakar olehnya. Aku langkahkan kaki ku
menuju mini market terdekat.
"Ini Mba." Aku menyodorkan
sebotol minuman isotonik kepada penjaga kasir.
"Beli dua gratis satu mba"
"Tidak. Satu cukup." Aku lalu
memberikan sejumlah uang kepada kasir itu dan
bergegas meninggalkannya. Aku segera menuju halte busway yang tak jauh
dari mini market itu.
Hari ini adalah hari yang paling
menyebalkan seumur hidupku. Dimana pada hari ini aku melaksanalan Masa
Orientasi Siswa di sekolah baruku, SMA Tunas Bangsa. Aku benci saat- saat
seperti ini, menjadi bahan olok-olokan senior, dan tak jarang para murid baru
selalu menjadi sasaran kejahilan senior-seniornya. Memang tidak ada kekerasan
disini, tapi terkadang para murid baru dipermalukan. Untuk menguji mental
katanya. Tapi tetap saja bagiku itu adalah hal yang paling menyebalkan.
"Kenapa melamun Ly?" Suara
seorang pria membuyarkan lamunanku.
"Eh.. anu.. Engga.. Engga apa-apa kok
Djie." Jawabku terbata-bata karena masih terkejut.
"Kamu pasti lelah karena seharian
MOS." Adjie menatapku mantap.
"Mungkin Djie, kegiatan hari ini penuh
sekali.. Apalagi ditembah terik matahari yang menyengat seperti ini."
"Nih aku bawa minum." Adji
menyodorkan minumannya ke arah ku.
"Makasih, tapi aku juga ada."
Tak lama kemudian busway dengan jurusan yang aku tuju pun tiba. Aku
segera memasukinya, Adjie mengikutiku dari belakang. Adjie adalah sahabatku
sejak kecil. Rumah ku dan rumahnya hanya terpisah oleh jalanan komplek
perumahan saja. Hampir setiap sore aku bermain dengan Adjie. melihat senja di
balkon rumahnya, sambil menikmati secangkir teh hangat favorit kami. Kami juga
tak lupa menyertakan biskuit berbahan dasar gandum untuk kami nikmati dengan
teh hangat tersebut. Sambil menikmati semua hidangan itu, aku dan Adji selalu
mengintip keluar angkasa menggunakan teropong milik Adji, aku suka melihat
angkasa ketika senja.Tetapi semenjak masuk SMA, ritual itu tak pernah terjadi
lagi. Seperti budaya yang terbengkalai dan perlahan hilang. Kami mulai
disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Tapi semuanya berbeda ketika sekolah
mulai membagi siswa ke jurusannya. Ternyata aku dan Adjie satu jurusan yang
sama bahkan kami satu ruang kelas. Kelas 10 IPA 1. Aku senang bukan main, setidaknya
setiap hari aku bisa bertemu dengan Adjie dan tetap ada komunikasi. Walaupun
mungkin kegiatan menikmati senja dengan ditemani oleh secangkir teh dan
kepingan biskuit gandum akan berkurang dan ritual memandang senja dengan
teropong menjadi jarang.
***
Dengan cara berjalannya yang khas, Adjie menghampiri bangku ku.
"Lily.. Jadi kita akan mengerjakan tugas kelompoknya
kapan?"
"Tugas kelompok apa?"
"Biologi lah, apa lagi." Adjie memutar bola matanya kesal.
"Biasa aja kali. Nanti sore aja gimana?"
"Jam berapa?"
"Sehabis ashar deh.. kamu yang ke rumah ku ya?"
"Malas.. Kamu saja yang ke rumahku."
"Adjie! seberapa jauh si rumah kamu dengan rumahku? Hanya
beberapa langkah juga pasti sampai."
"Nah itu kamu tahu. Seberapa jauh si rumah kamu dengan rumahku?
hah? hah?"
"Ish.. Pokoknya kamu saja yang ke rumahku!"
"Iya iya.. " Aji lalu mencubit hidungku.
"ADJIE!!" Aku berlari mengejar Adjie yang seketika
mengubah hidungku menjadi tomat.
***
"Permisi"
"Eh Adjie, cari Lily ya? ada tuh di lantai atas, kamu temui
sana."
"Iya makasih tante." Adjie membungkukkan badan dihadapan
ibuku tanda permisi.
"Lama sekaleeeee kemana aja?" pertanyaanku langsung
menyambar Adjie yang baru saja tiba.
"Maaf tadi ketiduran hehe." Tanpa rasa malu Adjie
menertawakan kesalahannya. Aku hanya menggelengkan kepala heran.
"Sudah ayo kita kerjakan." Aku mengambil balpointku dan
segera mengerjakan tugas kelompok itu.
Tak terasa sudah satu jam aku dan Adjie berkutat dengan buku-buku yang
tebalnya bukan main. Setelah semua tugas selesai, aku merebahkan tubuhku diatas
karpet berudlu dekat balkon. Adjie berbaring disampingku. Ketika itu, ada hal
aneh yang aku rasakan. Mengapa saat Adjie berada disampingku, jantungku seperti
berloncatan, dag dig dug tak karuan. Ada
kesenangan namun terselip kegelisahan didalamnya. Apa yang ku rasakan? Sungguh
ini sulit didefinisikan.
Hari sudah mulai malam. Sang fajar sudah menenggelamkan lambaian
cahayanya dibalik awan kelabu. Adjie pamit pulang, aku mengantarnya sampai
pintu depan. Dan sampai saat itu. Jantungku tak berhenti berloncatan. Degupnya
semakin kencang ketika sorot mata Adjie mengarah kepada mataku. Seketika
tanganku membeku. Dingin dan kaku. Ini ada apa? Sungguh aku tak mengerti. Tak
seperti biasanya aku seperti ini.
***
Pagi ini aku harus berangkat lebih pagi
kesekolah. Karena hari ini adalah jadwal piket ku. Sebenarnya aku malas, tapi
ini sudah menjadi ketentuan dan tak boleh aku langgar. Sesampainya di sekolah,
aku segera menuju ruang kelasku. Ketika aku tiba di kelas, ternyata sudah ada
Adjie. Dan rasa itu terjadi lagi. Jantungku dag dig dug tak karuan. Tanganku
dingin dan kaku. Bahkan ketika hendak menjawab sapaan Adjie pun lidahku seperti
sulit di gerakan.
"kamu kenapa?" Tanya Adjie.
Mati lah aku. Sepertinya ia menyadari
kelakuanku yang aneh.
"Aku gapapa Djie." Jawabku
singkat.
"Ya sudah. Sekarang kamu piket kan?
bersihin tuh" Adjie melemparkan kain ke arah wajahku sambil menjulurkan
lidahnya. Padahal aku sendiri sedang mengontrol detak jantungku yang tak karuan
karena perasaan yang membigungkan.
***
Sudah satu minggu perasaan itu tak lekas
pergi dari diriku. Selama itu pula aku selalu bertingkah aneh bila dekat dengan
Adjie. Aku tak mengerti? Kata temanku itu adalah jatuh cinta. Jatuh cinta? Jika
ia. Mengapa harus ku jatuhkan cinta itu kepada Adjie? Sahabatku? Mengapa tidak
kepada pria lain?
"Lily" Ku lihat seorang anak
lelaki melambaikan tangannya pada ku didepan perpustakaan.
"Mati. Itu Adjie." Batin ku.
Aku segera berbalik arah dan hendak pergi.
Namun rupanya kakiku terlalu lambat melangkah. Akhirnya tangan itu menarik
tanganku. Menggenggam jemariku. Ya, tangan Adjie. Kali ini jantungku bukan
berdegup kencang. Tapi kali ini jantungku seperti berhenti berdetak. Tubuhku
seperti melayang, perlahan aku menoleh ke arah Adjie dan ku berikan senyuman
yang begitu kaku.
"Ly? Kamu kenapa si? Akhir-akhir ini
seperti menghindar dari ku? Kamu marah? Jujur saja aku merasa jauh."
Jauh? Fikiranku mulai berfantasi
mencari-cari arti kata jauh itu. Mungkin menurutku jauh adalah tindakan kejam
dan sangat menyiksa bagi orang-orang yang bersahabat. Seperti aku dan Adjie.
Dan kini, mungkin aku telah melakukan itu semua. aku melakukan tindakkan kejam.
Aku menyiksa Adjie dengan men'jauh'nya aku. Tapi bukan aku yang menjauh dari mu
Djie. Mungkin, karna rasa ini kita jauh. Rasa yang tak seharusnya ku jatuhkan
padamu.
"Hah? Jauh?" Aku menjawab seolah
tak terjadi apa-apa.
"Ya.. jauh." Jawab Adjie datar.
"Mugkin perasaanmu saja djie. Aku
tidak akan menjauhimu Djie. Percaya?" Aku mencoba menyakin kan Adjie.
Adjie hanya mengangguk dan melempar senyumnya. Untuk kesekian kalinya. Degup
itu kembali kuat.
***
Sambil menikmati coklat kesukaanku. Aku
berbaring di sofa kamar ku. Aku masih memikirkan perasaanku kepada Adjie.
"Tidak. Tidak boleh. Aku tidak boleh
jatuh cinta pada Adjie. Karena... Karena... Karena lihat saja? Karena rasa itu.
Adjie merasa jauh denganku." Rambutku sudah tak karuan karena sedari tadi
aku acak-acak sendiri. Dengan sisa-sisa coklat yang menempel ditepi bibirku.
Aku tetap bergumam sendiri, terkadang aku menatap diriku dicermin. "Aku
tidak boleh jatuh cinta kepada Adjie. Tidak boleh! Aku akan hapus rasa
itu!".
Ketika fikiranku sedang tak karuan,
tiba-tiba handphoneku bergetar. Ada pesan masuk rupanya. Ku lihat siapa
pengirimnya, dan ternyata Adjie. Ku genggam handphoneku namun aku letakan lagi.
Aku ragu untuk membukanya. Ku penjamkan mataku dan perlahan ku jangkau
handphoneku. Tapi rasanya jemariku begitu kaku. Lalu ku letakkab lagi handphone
itu. Tuhaaaan aku ingin menghapus rasa ini. Akhirnya aku beranikan diri membuka
handphone itu dan membaca pesan dari Adjie.
"Ly.. Kamu Kesini ya? kerumah
aku."
Begitu isi pesan dari Adjie. Dan sekarang
aku harus bagaimana? Apakah aku harus menemui Adjie dirumahnya? Tapi bagaimana
jika rasa itu datang lagi? Aah Rasa itu sudah aku hapus!!.
Sesampainya di rumah Adjie. Adjie menyapaku
hangat. Aku mencoba bersikap tenang dan enjoy seperti biasa. Ternyata kali ini
aku berhasil mengendalikan degup jantungku. Sikapku menunjukkan sikapku yang
seperti biasa. Waupun tidak sebiasa biasanya.
"Ly?"
"Iya?"
"Lihat ini" Adjie memberikan
teropong itu padaku.
"Kamu lihat apa disana?" Adjie
melanjutkan pembicaraannya.
"Aku tidak melihat apa-apa." Aku
mengerutkan dahi.
"Tidak mungkin kamu tidak melihat
apa-apa" Tukas Adjie.
"Disini aku hanya melihat
langit." Jawabku
"Kamu tau, luas langit itu
berapa?" Tanya Adjie kepadaku.
"Ya mana aku tahu. Sepertinya tak
terhingga." Aku menjawab pertanyaan Adji dengan mata memandang langit.
"Bulan itu indah ya?" celoteh
Adjie.
"Iya. Dia bisa indah berkat cahaya
matahari yang menyinarinya." Jawabku dengan senyum.
"Seperti luas langitlah sayang aku
sama kamu Ly. Tak terhingga. Dan aku ini seperti bulan. Yang akan idah bila
mendapat cahaya dari kamu, sebagai mataharinya. Ly.. aku sayang kamu."
Adjie menggenggam tanganku. Aku terkejut
mendengar pernyataan Adjie. Ku kira itu hanya gurauan Adjie saja. Ternyata
tidak. Ia benar-benar mengucapkan itu dari hatinya.
"Bodoh! baru saja aku menahan diri dan
hendak menghapus rasa itu Djie. Tapi mengapa kamu mengungkapkan nya?" Aku
melepaskan tanganku dari genggaman Adjie.
"Maksudnya?" Tanya Adjie dengan tatapan
mata tajam.
"Aku juga menyimpan perasaan yang
sama. Tapi aku coba menghapusnya. Karena.. Karena rasa itu.. yang membuat kamu
merasa bahwa aku jauh kan? iya kan?" Suaraku mulai meninggi.
"Jadi.. Selama ini kami bersikap
seperti itu karena kamu memiliki rasa ini?"
"Ya!! Aku jatuh cinta.. Tapi aku
jatuhkan cintaku kepada orang yang salah.. Seharusnya cinta ini tak ku jatuhkan
kepadamu. Seharusnya aku jatuhkan cinta ini kepada pria lain. Bukan dirimu.
Karena aku takut.. Jika rasa ini ku jatuhkan kepadamu. 'Jauh' yang kamu katakan
itu semakin nyata. Aku tak mau lagi tersiksa."
Aku berlari meninggalkan Adjie. Adjie
mengejarku dan ia berhasil meraih tanganku.
"Ly.. Memangnya salah jika sahabat
saling jatuh cinta? bukankah cinta bisa datang pada siapa saja?."
Aku memandang. Dengan mata yang berkacakan
air bening yang siap tumpah.
"Djie.. Aku tak ingin persahabatan
kita hancur."
"Ly.. Aku mohon.. Aku menyayangimu. Ly
cinta tak selamanya dapat menghancurkan persahabatan. Jika cinta ini kita
biarkan dan kita pendam, mungkin kita bisa semakin 'jauh'."
Aku tak mengerti dengan perkataan Adjie.
"Ly.. Apakah kamu sadar? cinta kita
datang karena persahabatan ini? Jadi, apakah salah jika kita mempersatukan
cinta kita? Yang sebenarnya, jika kita satukan, itu akan menguatkan
persahabatan kita? bukan malah menghancurkan? Ly.. Tak semua kekasih itu dapat
menghilangkan sahabat. kekasih yang baik adalah ia yang mampu menjalankan
perannya sebagai kekasih, tetapi juga dapat menjadi seorang sahabat bagi
kekasihnya."
Mendengar perkataan Adjie, kaki ku seperti
tak perpijak. Tubuhku lemas butuh tumpuan.
Setelah aku cukup tenang. Aku menggenggam
tangan Adjie erat-erat.
"Kamu benar Djie, Kamu benar."
Aku berkata ragu..
"Jadi.. Kamu mau jadi...." Ucap
Adjie terpotong.
Aku memandang mata Adjie teduh. terpancar
ketulusan dari matanya.
"Ya.. Aku mau.. Tapi Kamu harus
berjanji, kamu harus bisa menjalankan peranmu sebagai kekasihku dan juga
sahabatku."
"Aku Janji." Adjie melingkarkan
kelingkingnya pada kelingkingku.
Terkadang aku berfikir cinta itu tidak
sopan. Ia datang pada siapa saja tanpa permisi dan tanpa terlebih dahulu
membuat janji. Bahkan ia bisa datang pada situasi yang tak semestinya ia
datangi. Tapi karena cinta, dua hati yang awalnya biasa saja dan tanpa rasa
bisa menjadi satu hati yang luar biasa dan penuh rasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar