Rabu, 23 Juli 2014

Ku Jatuhkan Ini Padamu




Panas matahari begitu menyengat. Ia tak peduli dengan mahluk disekitarnya yang terbakar olehnya. Aku langkahkan kaki ku menuju mini market terdekat.
"Ini Mba." Aku menyodorkan sebotol minuman isotonik kepada penjaga kasir.
"Beli dua gratis satu mba"
"Tidak. Satu cukup." Aku lalu memberikan sejumlah uang kepada kasir itu dan   bergegas meninggalkannya. Aku segera menuju halte busway yang tak jauh dari mini market itu.
Hari ini adalah hari yang paling menyebalkan seumur hidupku. Dimana pada hari ini aku melaksanalan Masa Orientasi Siswa di sekolah baruku, SMA Tunas Bangsa. Aku benci saat- saat seperti ini, menjadi bahan olok-olokan senior, dan tak jarang para murid baru selalu menjadi sasaran kejahilan senior-seniornya. Memang tidak ada kekerasan disini, tapi terkadang para murid baru dipermalukan. Untuk menguji mental katanya. Tapi tetap saja bagiku itu adalah hal yang paling menyebalkan.
"Kenapa melamun Ly?" Suara seorang pria membuyarkan lamunanku.
"Eh.. anu.. Engga.. Engga apa-apa kok Djie." Jawabku terbata-bata karena masih terkejut.
"Kamu pasti lelah karena seharian MOS." Adjie menatapku mantap.
"Mungkin Djie, kegiatan hari ini penuh sekali.. Apalagi ditembah terik matahari yang menyengat seperti ini."
"Nih aku bawa minum." Adji menyodorkan minumannya ke arah ku.
"Makasih, tapi aku juga ada."
Tak lama kemudian busway dengan jurusan yang aku tuju pun tiba. Aku segera memasukinya, Adjie mengikutiku dari belakang. Adjie adalah sahabatku sejak kecil. Rumah ku dan rumahnya hanya terpisah oleh jalanan komplek perumahan saja. Hampir setiap sore aku bermain dengan Adjie. melihat senja di balkon rumahnya, sambil menikmati secangkir teh hangat favorit kami. Kami juga tak lupa menyertakan biskuit berbahan dasar gandum untuk kami nikmati dengan teh hangat tersebut. Sambil menikmati semua hidangan itu, aku dan Adji selalu mengintip keluar angkasa menggunakan teropong milik Adji, aku suka melihat angkasa ketika senja.Tetapi semenjak masuk SMA, ritual itu tak pernah terjadi lagi. Seperti budaya yang terbengkalai dan perlahan hilang. Kami mulai disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Tapi semuanya berbeda ketika sekolah mulai membagi siswa ke jurusannya. Ternyata aku dan Adjie satu jurusan yang sama bahkan kami satu ruang kelas. Kelas 10 IPA 1. Aku senang bukan main, setidaknya setiap hari aku bisa bertemu dengan Adjie dan tetap ada komunikasi. Walaupun mungkin kegiatan menikmati senja dengan ditemani oleh secangkir teh dan kepingan biskuit gandum akan berkurang dan ritual memandang senja dengan teropong menjadi jarang.

***
Dengan cara berjalannya yang khas, Adjie menghampiri bangku ku.
"Lily.. Jadi kita akan mengerjakan tugas kelompoknya kapan?"
"Tugas kelompok apa?"
"Biologi lah, apa lagi." Adjie memutar bola matanya kesal.
"Biasa aja kali. Nanti sore aja gimana?"
"Jam berapa?"
"Sehabis ashar deh.. kamu yang ke rumah ku ya?"
"Malas.. Kamu saja yang ke rumahku."
"Adjie! seberapa jauh si rumah kamu dengan rumahku? Hanya beberapa langkah juga pasti sampai."
"Nah itu kamu tahu. Seberapa jauh si rumah kamu dengan rumahku? hah? hah?"
"Ish.. Pokoknya kamu saja yang ke rumahku!"
"Iya iya.. " Aji lalu mencubit hidungku.
"ADJIE!!" Aku berlari mengejar Adjie yang seketika mengubah hidungku menjadi tomat.

***
"Permisi"
"Eh Adjie, cari Lily ya? ada tuh di lantai atas, kamu temui sana."
"Iya makasih tante." Adjie membungkukkan badan dihadapan ibuku tanda permisi.
"Lama sekaleeeee kemana aja?" pertanyaanku langsung menyambar Adjie yang baru saja tiba.
"Maaf tadi ketiduran hehe." Tanpa rasa malu Adjie menertawakan kesalahannya. Aku hanya menggelengkan kepala heran.
"Sudah ayo kita kerjakan." Aku mengambil balpointku dan segera mengerjakan tugas kelompok itu.
Tak terasa sudah satu jam aku dan Adjie berkutat dengan buku-buku yang tebalnya bukan main. Setelah semua tugas selesai, aku merebahkan tubuhku diatas karpet berudlu dekat balkon. Adjie berbaring disampingku. Ketika itu, ada hal aneh yang aku rasakan. Mengapa saat Adjie berada disampingku, jantungku seperti berloncatan, dag  dig dug tak karuan. Ada kesenangan namun terselip kegelisahan didalamnya. Apa yang ku rasakan? Sungguh ini sulit didefinisikan.
Hari sudah mulai malam. Sang fajar sudah menenggelamkan lambaian cahayanya dibalik awan kelabu. Adjie pamit pulang, aku mengantarnya sampai pintu depan. Dan sampai saat itu. Jantungku tak berhenti berloncatan. Degupnya semakin kencang ketika sorot mata Adjie mengarah kepada mataku. Seketika tanganku membeku. Dingin dan kaku. Ini ada apa? Sungguh aku tak mengerti. Tak seperti biasanya aku seperti ini.

***

Pagi ini aku harus berangkat lebih pagi kesekolah. Karena hari ini adalah jadwal piket ku. Sebenarnya aku malas, tapi ini sudah menjadi ketentuan dan tak boleh aku langgar. Sesampainya di sekolah, aku segera menuju ruang kelasku. Ketika aku tiba di kelas, ternyata sudah ada Adjie. Dan rasa itu terjadi lagi. Jantungku dag dig dug tak karuan. Tanganku dingin dan kaku. Bahkan ketika hendak menjawab sapaan Adjie pun lidahku seperti sulit di gerakan.
"kamu kenapa?" Tanya Adjie.
Mati lah aku. Sepertinya ia menyadari kelakuanku yang aneh.
"Aku gapapa Djie." Jawabku singkat.
"Ya sudah. Sekarang kamu piket kan? bersihin tuh" Adjie melemparkan kain ke arah wajahku sambil menjulurkan lidahnya. Padahal aku sendiri sedang mengontrol detak jantungku yang tak karuan karena perasaan yang membigungkan.

***
Sudah satu minggu perasaan itu tak lekas pergi dari diriku. Selama itu pula aku selalu bertingkah aneh bila dekat dengan Adjie. Aku tak mengerti? Kata temanku itu adalah jatuh cinta. Jatuh cinta? Jika ia. Mengapa harus ku jatuhkan cinta itu kepada Adjie? Sahabatku? Mengapa tidak kepada pria lain?
"Lily" Ku lihat seorang anak lelaki melambaikan tangannya pada ku didepan perpustakaan.
"Mati. Itu Adjie." Batin ku.
Aku segera berbalik arah dan hendak pergi. Namun rupanya kakiku terlalu lambat melangkah. Akhirnya tangan itu menarik tanganku. Menggenggam jemariku. Ya, tangan Adjie. Kali ini jantungku bukan berdegup kencang. Tapi kali ini jantungku seperti berhenti berdetak. Tubuhku seperti melayang, perlahan aku menoleh ke arah Adjie dan ku berikan senyuman yang begitu kaku.
"Ly? Kamu kenapa si? Akhir-akhir ini seperti menghindar dari ku? Kamu marah? Jujur saja aku merasa jauh."
Jauh? Fikiranku mulai berfantasi mencari-cari arti kata jauh itu. Mungkin menurutku jauh adalah tindakan kejam dan sangat menyiksa bagi orang-orang yang bersahabat. Seperti aku dan Adjie. Dan kini, mungkin aku telah melakukan itu semua. aku melakukan tindakkan kejam. Aku menyiksa Adjie dengan men'jauh'nya aku. Tapi bukan aku yang menjauh dari mu Djie. Mungkin, karna rasa ini kita jauh. Rasa yang tak seharusnya ku jatuhkan padamu.
"Hah? Jauh?" Aku menjawab seolah tak terjadi apa-apa.
"Ya.. jauh." Jawab Adjie datar.
"Mugkin perasaanmu saja djie. Aku tidak akan menjauhimu Djie. Percaya?" Aku mencoba menyakin kan Adjie. Adjie hanya mengangguk dan melempar senyumnya. Untuk kesekian kalinya. Degup itu kembali kuat.

***
Sambil menikmati coklat kesukaanku. Aku berbaring di sofa kamar ku. Aku masih memikirkan perasaanku kepada Adjie.
"Tidak. Tidak boleh. Aku tidak boleh jatuh cinta pada Adjie. Karena... Karena... Karena lihat saja? Karena rasa itu. Adjie merasa jauh denganku." Rambutku sudah tak karuan karena sedari tadi aku acak-acak sendiri. Dengan sisa-sisa coklat yang menempel ditepi bibirku. Aku tetap bergumam sendiri, terkadang aku menatap diriku dicermin. "Aku tidak boleh jatuh cinta kepada Adjie. Tidak boleh! Aku akan hapus rasa itu!".
Ketika fikiranku sedang tak karuan, tiba-tiba handphoneku bergetar. Ada pesan masuk rupanya. Ku lihat siapa pengirimnya, dan ternyata Adjie. Ku genggam handphoneku namun aku letakan lagi. Aku ragu untuk membukanya. Ku penjamkan mataku dan perlahan ku jangkau handphoneku. Tapi rasanya jemariku begitu kaku. Lalu ku letakkab lagi handphone itu. Tuhaaaan aku ingin menghapus rasa ini. Akhirnya aku beranikan diri membuka handphone itu dan membaca pesan dari Adjie.
"Ly.. Kamu Kesini ya? kerumah aku."
Begitu isi pesan dari Adjie. Dan sekarang aku harus bagaimana? Apakah aku harus menemui Adjie dirumahnya? Tapi bagaimana jika rasa itu datang lagi? Aah Rasa itu sudah aku hapus!!.

Sesampainya di rumah Adjie. Adjie menyapaku hangat. Aku mencoba bersikap tenang dan enjoy seperti biasa. Ternyata kali ini aku berhasil mengendalikan degup jantungku. Sikapku menunjukkan sikapku yang seperti biasa. Waupun tidak sebiasa biasanya.
"Ly?"
"Iya?"
"Lihat ini" Adjie memberikan teropong itu padaku.
"Kamu lihat apa disana?" Adjie melanjutkan pembicaraannya.
"Aku tidak melihat apa-apa." Aku mengerutkan dahi.
"Tidak mungkin kamu tidak melihat apa-apa" Tukas Adjie.
"Disini aku hanya melihat langit." Jawabku
"Kamu tau, luas langit itu berapa?" Tanya Adjie kepadaku.
"Ya mana aku tahu. Sepertinya tak terhingga." Aku menjawab pertanyaan Adji dengan mata memandang langit.
"Bulan itu indah ya?" celoteh Adjie.
"Iya. Dia bisa indah berkat cahaya matahari yang menyinarinya." Jawabku dengan senyum.
"Seperti luas langitlah sayang aku sama kamu Ly. Tak terhingga. Dan aku ini seperti bulan. Yang akan idah bila mendapat cahaya dari kamu, sebagai mataharinya. Ly.. aku  sayang kamu."
Adjie menggenggam tanganku. Aku terkejut mendengar pernyataan Adjie. Ku kira itu hanya gurauan Adjie saja. Ternyata tidak. Ia benar-benar mengucapkan itu dari hatinya.
"Bodoh! baru saja aku menahan diri dan hendak menghapus rasa itu Djie. Tapi mengapa kamu mengungkapkan nya?" Aku melepaskan tanganku dari genggaman Adjie.
"Maksudnya?" Tanya Adjie dengan tatapan mata tajam.
"Aku juga menyimpan perasaan yang sama. Tapi aku coba menghapusnya. Karena.. Karena rasa itu.. yang membuat kamu merasa bahwa aku jauh kan? iya kan?" Suaraku mulai meninggi.
"Jadi.. Selama ini kami bersikap seperti itu karena kamu memiliki rasa ini?"
"Ya!! Aku jatuh cinta.. Tapi aku jatuhkan cintaku kepada orang yang salah.. Seharusnya cinta ini tak ku jatuhkan kepadamu. Seharusnya aku jatuhkan cinta ini kepada pria lain. Bukan dirimu. Karena aku takut.. Jika rasa ini ku jatuhkan kepadamu. 'Jauh' yang kamu katakan itu semakin nyata. Aku tak mau lagi tersiksa."
Aku berlari meninggalkan Adjie. Adjie mengejarku dan ia berhasil meraih tanganku.
"Ly.. Memangnya salah jika sahabat saling jatuh cinta? bukankah cinta bisa datang pada siapa saja?."
Aku memandang. Dengan mata yang berkacakan air bening yang siap tumpah.
"Djie.. Aku tak ingin persahabatan kita hancur."
"Ly.. Aku mohon.. Aku menyayangimu. Ly cinta tak selamanya dapat menghancurkan persahabatan. Jika cinta ini kita biarkan dan kita pendam, mungkin kita bisa semakin 'jauh'."
Aku tak mengerti dengan perkataan Adjie.
"Ly.. Apakah kamu sadar? cinta kita datang karena persahabatan ini? Jadi, apakah salah jika kita mempersatukan cinta kita? Yang sebenarnya, jika kita satukan, itu akan menguatkan persahabatan kita? bukan malah menghancurkan? Ly.. Tak semua kekasih itu dapat menghilangkan sahabat. kekasih yang baik adalah ia yang mampu menjalankan perannya sebagai kekasih, tetapi juga dapat menjadi seorang sahabat bagi kekasihnya."
Mendengar perkataan Adjie, kaki ku seperti tak perpijak. Tubuhku lemas butuh tumpuan.
Setelah aku cukup tenang. Aku menggenggam tangan Adjie erat-erat.
"Kamu benar Djie, Kamu benar." Aku berkata ragu..
"Jadi.. Kamu mau jadi...." Ucap Adjie terpotong.
Aku memandang mata Adjie teduh. terpancar ketulusan dari matanya.
"Ya.. Aku mau.. Tapi Kamu harus berjanji, kamu harus bisa menjalankan peranmu sebagai kekasihku dan juga sahabatku."
"Aku Janji." Adjie melingkarkan kelingkingnya pada kelingkingku.

Terkadang aku berfikir cinta itu tidak sopan. Ia datang pada siapa saja tanpa permisi dan tanpa terlebih dahulu membuat janji. Bahkan ia bisa datang pada situasi yang tak semestinya ia datangi. Tapi karena cinta, dua hati yang awalnya biasa saja dan tanpa rasa bisa menjadi satu hati yang luar biasa dan penuh rasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar