Sosok itu bukanlah sosok nyata. Bukan dalam utuh berwujud raga. Tapi
itu hanya seoonggok bayangan yang terus mengikatmu dalam gulita. Gulita cinta.
Sadarlah. Jika terlalu lama mengikat diri dalam kegelapan cinta, itu akan
membuat indramu buta. Hingga akhirnya kau lelah. Lalu mengapa kau biarkan lelah
itu tetap melekat? Mengapa tidak kau lepaskan saja dia? Sedang menurutku
menunggu dan kelelahan hanya akan menyiksa. Menyiksa raga membiarkannya lelah.
Menyiksa hati membiarkannya lemah. Akhir dari cinta memang teradang berdeda.
Berbeda dengan apa yang kamu harapkan. Ya, cinta memang sulit ditebak. Tapi
percayalah, sebelum kita menemukan cinta yang benar, terlebih dahulu kita akan
dipertemukan dengan yang salah. Kamu sudah menemui yang salah. Kini saatnya
kamu dipertemukan dengan yang benar.
Kata-kata Seren itulah yang membuat aku bangkit. Bangkit dari sakit
yang di berikan Ryan, lelaki yang berhasil membuat aku begitu rapuh. Lelaki
yang berhasil membuatku nyaris tak dapat memberikan rasa yang dulu pernah ku berikan
padanya. Tapi rupanya kata-kata Seren itu berhasil membius hatiku, yang
akhirnya kini aku menemukan sosok yang mampu sembuhkan lukaku. Samuel.
"Sofie? Kamu dimana? Aku jemput ya?" Ujarnya disebrang
telfon.
"Aku baru ke luar kelas Sam."
"Yasudah aku tunggu didepan gerbang ya?"
"Oke." Aku menutup telfonnya.
"Cieee Samuel ya?" Ujar Seren menggodaku.
"Hehe iyaa.. "
"Aku senang akhirnya
kamu menemukan dia." Seren memelukku
"Iya.. Ini berkat kamu Seren makasih yaaa.. Oiya, sebentar lagi
Samuel ulang tahun, menurut kamu aku harus ngasih kado apa ya?"
"Gak perlu kado yang mahal, dengan memberinya kenangan manis
itu sudah tak terbayar."
"Benar juga. Lagi-lagi makasih ya Seren."
"Iya, udah sana pulang. Pangeran berkuda putihnya udah jemput
tuh."
"Bukan berkuda putih. Tapi bersepeda putih."
Aku dan Seren terkekeh. Aku segera menghampiri Samuel. Dan segera
menaiki sepedanya lalu merengkuh pundaknya.
"Udah lama ya?" Tanyaku kepada Samuel.
"Engga kok. Baru nyampe."
Aku dan Samuel berbeda sekolah. Tetapi setiap pulang sekolah, Samuel
selalu menjemputku dengan sepeda olahraganya. Aku sangat senang setiap kali
pulang dengan Samuel. Aku bisa menikmati angin yang menerpa wajahku dan
menerbangkan helaian rambutku. Aku juga suka ketika aku merengkuh pundak Samuel
yang tengah mengayuh sepeda membelah angin. Aku juga suka ketika wangi
parfumenya tercium diterbangkan angin.
"Kamu kangen aku ya?" Ujar samuel tiba-tiba.
"Ih pede banget kamu." Aku memukul pundaknya pelan.
"Habisnya kamu pegang pundak aku erat banget." Samuel
berhenti mengayuh sepedanya sembari tersenyum jail.
"Kenapa berhenti? Kamu mau turunin aku?"
"Mau aku turunin tah?" Kata Samuel menggodaku.
"O jadi kamu mau turunin aku?" Aku balik menggodanya.
"Aku kan pacar yang baik. Selalu menuruti kemauan pacarnya.
Kamu mau turun ya aku turunin." Samuel menjulurkan lidahnya.
"Ih... " Aku mencubit pinggangnya. Samuel berlari
menghindari cubitanku dan akhirnya dia tersungkur tertindih sepedanya.
"Sam.. Kamu gapapa?" Tanyaku khawatir
"Aww sakit.."
"Apanya yang sakit? mana? sini aku cek? maafin aku ya?"
suaraku merendah.
"Aku sakit kalau kamu ninggalin aku Sofie." Samuel
menyeringai.
"Samueeeeel.. Aku kira kamu sakit beneran."
"Hehee.. kena kamu.. ternyata kamu lembut ya." Ujar
samuel.
Seketika rona pipiku berubah merah. Senyumku mengembang.
"Apaan si kamu." Aku memukulnya manja.
"Udah deh cepet pulang." Aku menarik ransel Samuel.
***
"Sofie.. Maafin aku. Itu gak seperti yang kamu fikirkan. Aku
sama sekali gak ada niatan buat pulang bareng sala Selvi."
"Jelas-jelas kamu memboncengnya." Nada bicaraku tinggi.
Wajah Samuel Semakin kikuk.
"Kemarin aku bertemu dia di jalan. Lagian kamu kemarin
ngomongnya mau ada tugas kelompokkan? Mangkanya aku mengizinkan Selvi ikut
dengankku, lagi pula rumah kita kan dekat."
"Terserah kamu saja." Aku berlalu meninggalkan Samuel
ditengah taman komplek.
Malam ini begitu sepi, langitpun tidak sesemarak biasanya. Tidak ada
bintang yang berkedip malu-malu, tidak ada bulan sabit yang biasanya
melengkungkan senyum atau purnama yang memancarkan indah sinarnya. Langit
begitu polos malam ini. Ku rasakan setiap hembusan angin malam yang menerpa
tubuhku. Aku duduk di balkon rumahku. Aku teringat kejadian tadi sore, ketika
aku meninggalkan Samuel ditengah taman komplek. Sebenarnya ada penyesalan dalam
hatiku. Mengapa aku sebodoh itu? Mengapa aku melakukan hal yang sangat
kekanakan? Cemburu adalah sikap yang paling sulit untuk aku hindari kali ini.
Setelah dulu aku merasakan sakit yang amat dalam karena tak pernah merasa
cemburu, karena aku fikir cemburu hanya akan membuat kekangan saja yang
akhirnya dia jenuh, bosan dan meninggalkan kita. Tapi ternyata persepsiku
salah. Aku terlalu membebaskan Ryan waktu itu, Karena aku percaya ia takan
mendusta. Tapi kepercayaanku seolah menjadi bumerang untukku, dia mendua. Dia
mendusta. Menghianatiku yang telah tulus mencintainya. Menghancurkan hatiku
yang selalu setia menemaninya menjadi keping-keping yang aku juga tak yakin
bisa menyatukannya lagi. Tapi Samuel berhasil menyatukannya lagi. Ia berhasil
membentuk hati ku kembali, walau luka yang dahulu tak dapat ku hapus dan masih
berbekas. Tetapi setidaknya Samuel berhasil mengeringkan luka itu. Dan
membangkitkan "aku" yang baru.
Aku terlalu asyik berfantasi dengan khayalanku. Hingga aku tak sadar
ternyata handphoneku sudah mengedipkan led-nya sedari tadi. Aku membukanya
perlahan.
-Seren- Cemburu itu wajar. Tapi jangan sampai cemburu menguasai
hatimu, karena itu akan membuatmu menyesal pada akhirnya. Jangan lihat masa
lalumu. Masa sekarangmu sangat jauh berbeda dengan masalalumu. Walaupun kamu
berikan dia kebebasan dia tidak akan menghianatimu seperti masalalumu. dan dia
tidak akan membuat mu hancur. Lagi. Dia benar-benar menyangu.
Seren seolah mengetahui apa yang ada difikirankku. Ketika aku hendak
membalas pesannya, terdengar teriakan dari bawah. Aku mendongok ke arah suara
itu.
"Seren maafin aku." Ujar Samuel dibawah sana yang ternyata
ditemani oleh Seren.
Samuel membawa gitar. Aku berfikir, sejak kapan dia bisa main gitar?
Samuel lalu menyanyikan sebuah lagu dengan diiringi petikan gitar yang cukup,
cukup berantakan. Lagunya aneh, aku tak pernah mendengar lagu itu sebelumnya.
Nadanya tak karuan, walaupun aku bukan seniman, tapi aku masih bisa membedakan
lagu yang layak di dengar dan yang tidak. Tapi dengan lagu itu, Samuel berhasil
mengembalikan senyumku untuknya. Aku lalu turun dari balkon dan menemui Samuel
dan Seren.
"Kamu tau, permainan gitarmu ancur tau." Aku menjulurkan
lidahku.
"Biarin, yang penting aku bisa dapet maaf dari kamu dan kamu
kasih senyum itu untukku." Samuel merangkulku.
"Nih coklat buat kamu." Samuel memberiku sebungkus coklat.
"Kok tinggal separoh?"
"Tadi aku makan sedikit. Habisnya nunggu kamu menoleh kebawah
lama banget. makanya aku makan aja coklatnya." Ujar samuel dengan disambut
gelak tawa Seren.
"Dia bawa coklat dua, tapi satunya aku pinta Fie, Aku kira dia
tidak akan memakan coklat yang satunya. Eh malah dia makan. Pe'a memang."
Seren menjelaskan.
"Udahlah.. Bukannya yang bareng-bareng itu lebih enak ya Fie,
udah kamu coklatnya barengan sama aku aja. hehehe."
Aku dan Seren hanya tertawa. Ternyata Samuel kocak juga.
"Sofie, besok jalan yuk?"
"Cie yang ulang tahun." Seren menyambar pertanyaan Samuel
yang belum senpat aku jawab.
"Jalan kemana?" Tanyaku.
"Makan" Jawab Samuel singkat.
"Aku boleh ajak Seren kan?" Tanyaku kepada Samuel sambil
melirik Seren.
"Boleh deeeh." Jawab Samuel sambil mencubit pipiku.
"Enak niiiiiihh." Jawab seren kegirangan.
***
Sebelum aku menemui Samuel di lestoran yang sudah disepakati, dengan
ditemani ibu, aku dan Seren membuat cake kejutan untuk Samuel. Aku hiasi cake
itu dengan potongan coklat dan diatasnya kuberi buah cherry. Setelah semuanya
siap, aku dan Seren segera berangkat.
Sesampainya dileatroan itu, aku dan Seren segera mencari Samuel.
Ternyata ia tengah duduk dikursi paling pojok. Aku langkahkan kakiku perlahan
menuju Samuel.
"Happy birtday sayang." Aku menutup mata Samuel dari
belakang.
"Makasih Sayang." Ia melepaskan tanganku yang menutupi
matanya. Rupanya dia sudah tau kalau aku yang menutup matanya. -_-
"Waaahh kueh buat sapa nih" Samuel menunjuk kearah cake
yang dibawa Seren.
"Buat elu lah. Ini buatan Sofie loh." Ujar Seren dengan
mengedipkan sebelah matanya.
"Waaah makasiih ya." Samuel mencium tanganku.
"Boleh dimakan nih?" Tanya Samuel.
"Weh nanti dong.. kalau dimakan sekarang, nanti lu gk bakal
teraktir gue, dengan alasan udah kenyang makan kue dari Sofie." Cerocos
Seren.
"Yaudh pesen apa sana." Samuel menjawab cerocosan Seren
dengan santai.
"Asiikk."
Ketika aku dan Seren hendak memesan makanan, tiba-tiba segerombolan
anak kelaparan langsung menyerbu kami.
"Selamat ulang tahun Samueeellll." Teriak gerombolan itu
serempak. Samuel terkejut melihatnya. Mereka adalah teman-teman kami ketika
SMP. ketika itu, aku, Samuel, Seren dan mereka semua satu kelas selama 3 tahun.
"Sofie, kamu yang mengajak mereka semua?" Tanya Samuel
kebingungan.
"Engga. Aku cuma ajak Seren." Jawabku.
"Yang benar?" Ia kembali bertanya.
"Jadi gini Samuel sayang.. Aku kan ajak Seren, trus katanya
Seren juga pengen ngajak Dea, nah Deanya ngajak Anita, Anita ngajak Bella,
Bella ngajak Chilfia, Chilfia ngajak Dwi, Dwinya ngajak Farnur, Fatnurnya
ngajak Furqon, Furqonnya ngajak Guruh, Guruhnya ngajak Tegar, Tegarnya ngajak
Alif, Alifnya ngajak Angga, Angganya ngajak Rio, Rionya ngajak Ade, Adenya
ngajak Aris, Arisnya ngajak Ola, Olanya ngajak Vyola, Vyolanya ngajak Salma, Salmanya
ngajak Shella, Shellanya ngajak Irma, Irmanya ngajak Linda, Lindanya Ngajak
Tania, Tanianya ngajak Yatni, Yatninya ngajak Nunqy, Nunqynya ngajak Reni, dan
Reninya ngajak Ean, Eannya ngajak Alan. Gitu sayang."
"Sama ajaaaaa Sofieeeeeeee sayaaaaaang." Jawab Samuel
kesal.
"Ih Engga. Aku kan cuma ngajak Seren. Serennya ngajak Dea,
Deanya ngajak Anita, Anitanya ngajak Bella, Bellanya ngajak
Chilfia............." Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, Samuel
memotongnya.
"Sudah cukup Sofie sayang." Samuel menggaruk-garuk
kepalanya, walaupun jika dilihat ia sebenarnya tak merasa gatal.
"Yasudah kalian semua pesan saja." Samuel berkata lemas.
"Yeeeeeeeee" mereka semua bersorak gembira. Mereka tak
peduli dengan tatapan orang disekitarnya. Dengan lahapnya mereka menyantap
semua makanan yang ada dimeja, termasuk cake yang kubuatkan khusus untuk
Samuel. Setelah semuanya habis, mereka semua pamit pulang. Termasuk Seren,
Tadinya ia ingin pulang bersama aku dan Samuel, tapi ia ditelfon ibunya dan
disuruh segera pulang. Dan kini, hanya tersisa aku dan Samuel.
"Sam, kamu gapapa?" Tanyaku kepada Samuel. Aku khawatir,
ia seperti lemas sekali.
"Habis semuaaaaa." Ia menatap meja yang tadinya penuh
dengan makanan, kini telah habis bersih.
"Gak habis kok." Ujarku sambil mengumbar senyum.
"Gak habis gimana? Jelas-jelas kinclong semua."
"Kamu tutup mata kamu deh." Perintahku kepada Samuel.
"Untuk apa?"
"Ah banyak tanya. Udah cepet."
Lalu samuel menutup matanya. Aku lalu mengambil Cherry yang hanya
tersisa satu diatas piring cake. Lalu aku ambil lilin dengan angka 17 yang
lupa aku nyalakan tadi karena aku
bingung dengan keadaan saat itu, keadaan dimana orang-orang kelaparan menyerbu
kami. Ku ambil korek api dan kunyalakan lilin itu, ku letakkan lilin itu
dibelakanh cherry yang hanya tersisa satu.
"Buka matamu."
Samuel lalu membuka matanya perlahan.
"Happy birthday Sam. I Love You."
Samuel tersenyum malu. Tertangkap kebahagiaan yang besar dimatanya.
"Make a wish dan tiup lilinnya." Kataku kepada Samuel.
"Aku ingin orangtuaku Sehat selalu, Aku ingin aku sukses
dikemudian hari dan pada saat itu ada kamu, Sofie yang menemani." Lalu
Samuel meniup lilinnya. Dia memelukku erat.
"Makasih ya?" Ujarnya
"Iya, nih makan cherrynya." Aku mendekatkan cherry itu
kemulut Samuel. Lalu ia memakannya.
"Manis?" Tanyaku. "Manis, tapi bukan hanya cherry ini
yang manis. Momen ini jug sangat manis. Sekali lagi makasih ya Sofie. Fie, Kamu
tau gak perasaan aku sekarang kaya gimana?" Ia medekatkan tubuhnya
ketubuhku. "Memangnya seperti apa?" Aku balik bertanya. "Rasanya
itu seperti terbang ke atmosfer berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatis
dan menuju rasi bintang paliiiiing manis. Walaupun mungkin setelah ini
tabunganku akan menipis." Aku terdiam mendengar kata-kata samuel. Aku
menatap samuel, Samuel menatapku. Tak lama kemudian gelak tawa kami menggema di
lestoran itu. Memang kenangan manis itu tak pernah terbayar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar