Semilir angin menerpa wajahku, meniup
jilbabku dan menerbangkan daun-daun kering disekelilingku. Aku duduk di bangku
taman sekolah dekat pohon yang rindang dengan ice cream coklat digenggamanku.
"Dapet satu." Ujar Fawaz yang
ternayata memotretku diam-diam dengan SLRnya.
"Biasa banget si kamu." Aku
memukul Fawaz pelan seraya mengambil kamera ditangannya.
"Tapi bagus" Ujarku dengan senyum
mengembang.
"Iya dong, siapa dulu
fotografernya." Fawaz membanggakan dirinya.
Aku tak menghiraukan pembicaraannya. Aku semakin asyik menikmati ice
creamku.
"Nih" Fawaz menyodorkan sebelah
headsetnya kepadaku, aku menerimanya.
"Hah? lagu apa ini?" Ujarku
sambil membetulkan letak headset ditelingaku.
"Kamu itu, kamu bangsa Indonesia atau
bukan?."
"Yaiyalah. Pake nanya." Aku
menggerutu kesal.
"Ya ini instrumental lagu Indonesia
Raya. Pake nanya."
"Ih dasar orang aneh. Dengerin lagu
kok instrumental."
"Memangnya salah?" Tanya Fawaz.
"Yaaa engga sih, udah ah ke kelas yuk,
sebentar lagi masuk." Aku menarik tangan Fawaz.
Fawaz Muhammad. Laki-laki berkaca mata itu
adalah teman kecilku, teman bermainku. Tapi aku dan Fawaz sempat terpisah
beberapa tahun, karena sewaktu kami berusia 6 tahun, Fawaz dan keluarganya
pindah ke Brisbane. Tetapi, sekarang Fawaz kembali ke Indonesia. Fawaz satu
sekolah denganku bahkan satu kelas denganku, kelas 12 IPA 1.
Bel pulang sekolah pun berbunyi, aku segera keluar kelas, Fawaz membuntutiku.
"Hawa, pegang dulu nih, aku mau
keluarin sepedanya dulu." Ujar Fawaz seraya menyerahkan botol minumnya.
"Kok bagus si botol minumnya, buat aku
aja ya? hehe."
"Kamu suka? Ambil aja."
"Ahaha engga Waz, bercanda."
"Engga apa-apa ambil aja."
"Yang bener?"
"Iya." Fawaz tersenyum.
"Udah cepet naik." Ujar Fawaz.
"Waz, aku mau dibonceng didepan dong.
Bosen dibelakang mulu."
"Yaudah."
Dengan girang aku segera menaiki sepeda
Fawaz. Biasanya, aku diboncenga Fawaz dibelakang. Tapi entah kenapa kali ini
aku ingin dibonceng didepan. Sepanjang jalan, aku tak henti-hentinya bergurau.
Bahkan sesekali sepeda yang dikendarai Fawaz oleng. Tapi kami tak pernah
berhenti bergurau.
"Waz, salah gak sih kalau aku suka
sama seseorang?" Aku bertanya kepada Fawaz.
"Hah? uh uhm.. Emangnya kamu suka sama
siapa?" Fawaz menjawab dengan kaku.
"Hhhhh aku, aku suka Faisal Waz."
Tiba-tiba Fawaz berhenti mengayuh sepedanya.
"Kenapa berhenti?" Aku bertanya
kepada Fawaz.
"Eh engga. Aku kaget aja, ternyata
kamu suka yang klimis ya? hehe. Faisal anak sekolah sebelah kan?" ujar
Fawaz sambil melanjutkan mengayuh sepedanya.
"Iya. Tapi aku gak mungkinlah sama
dia, dia itu anak orang kaya, dia pintar. Sedangkan aku sebaliknya."
Suaraku merendah.
"Ya. Gak ada yang gak mungkin."
Fawaz menjawab singkat.
"Ah udahlah. Eh udah nyampe, yaudah
aku mau turun."
Fawaz tak menjawab apa-apa, ia terus melaju
dan mengayuh sepeda menjauh. Aku segera masuk rumah.
***
Aku merasa ada yang aneh. Semakin hari aku
dan Faisal semakin dekat. Bahkan Faisal sering mengantarku pulang, padahal
sebelumnya aku dan Faisal tak pernah dekat.
"Eh Fe'sti Hawa. Mau pulang gak?"
Ujar Fawaz yang tiba-tiba muncul dibelakangku.
"Ah kamu bikin kaget aja. Maaf Waz,
aku mau dianterin Faisal."
"Oh uhm. yaudah." Fawaz berlalu
meninggalkanku.
Sambil menggu kedatangan Faisal, aku duduk
dibangku taman sekolah dan seperti biasa aku selalu menggambar. Aku suka sekali
menggambar, apapun yang ku lihat atau apapun perasaanku, pasti aku selalu
mencurahkannya lewat gambar. Dengan gambar, aku seperti benar-benar hidup,
terkadang ketika sedang menggambar aku lupa waktu, terlalu terbuai dengan
keasyikan yang sebenarnya muncul karena kecintaanku terhadap dunia gambar.
"Hey gambar apa tuh?" Suara
Faisal mengejutkanku.
"Eh, kamu ngagetin aja. Ini aku lagi
gambar karikatur."
"Wah bagus, coba aku liat. Kamu mau
jadi designer ya? kok pinter banget gambar? atau Enginer?"
"Aku gak tau, masih bingung aku mau
ngambil jurusan apa nanti kalau kuliah."
"Yang penting disesuaikan sama
kemampuan kamu. Yuk pulang." Faisal menarik tanganku. Tuhan, aku lemas.
"Mobil kamu mana?" Aku bertanya
kepada Faisal.
"Aku gak mau bawa mobil lagi, soalnya
kamu lebih suka naik sepeda kan? udah buruan naik." Aku hanya tersenyum
lalu segera menaiki sepeda Faisal.
Dengan semangatnya Faisal mengayuh sepeda.
Kami meliuk-liuk ditengah jalanan komplek perumahan yang sepi. Sesekali Faisal
berputar-putar tak menentu mengelilingi komplek, hingga akhirnya Faisal
memarkirkan sepedanya didekat taman komplek didepan danau.
"Huuh cape banget muter-muter
komplek." Ujarku seraya meluruskan kaki ku diatas hamparan rumput yang
hijau.
"Kasian banget kamu." Tiba-tiba
Faisal mengeluarkan saputangannya dan mengusapkannya dipelipisku yang penuh
peluh. Aku terkejut, Faisal menyapukan saputangannya? Faisal mengusap
keringatku? Ini apa? aku tak percaya. Tuhan, tolong stabilkan kembali detak
jantungku.
"Eh.. Uhm.. Ma.. Makasih ya."
Ucapku terbata-bata. Faisal hanya terseyum membalasnya.
"Hawa?"
"Ya"
"Aku..... Suka sama kamu."
Perkataan itu sontak membuat jantungku
berhenti berdetak. Apa telingaku tidak salah mendengar? Tidak. Tidak. Mungkin
ini hanya Ilusiku saja. Ah tetapi tidak. Ini nyata! Faisal benar-benar
mengatakan itu padaku. Oh Tuhan, mengapa ini terjadi ditempat yang sepi seperti
ini, disini aku tidak bisa menutupi rona pipiku. Seandainya ini terjadi di
disekolah, aku bisa izin ke toilet atau seandainya ini terjadi di Mall, mungkin
aku bisa bersembuyi di kamar pas. Aku benar-benar kaku, aku tidak tahu harus
menjawab apa.
"Hawa? kok bengong.?"
"Eh iya maaf."
"Jadi gimana? Kamu mau kan jadi....
pacar aku?"
"Eh anu Mau." Dengan konyolnya
aku menjawab seperti itu. Tuhan aku bicara apa!
"Wah, aku seneng banget Hawa. Makasih
ya. Aku anter pulang yuk." Aku tak menjawab apa-apa. Aku masih mencerna
apa yang telah teradi. Jadi, sekarang aku sudah menjadi kekasih Faisal?
benarkah? Sungguh aku tak percaya. Ini seperti mimpi.
***
Semenjak aku menerima Faisal menjadi
kekasihku. Aku merasa semakin ada jarak antara aku dan Fawaz, aku merasa kami
semakin jauh. Tetapi mungkin yang lebih tepatnya adalah Fawaz yang semakin
menjauhiku. Aku tak mengerti, apa mungkin dia
seperti itu karna takut jika terlalu dekat denganku Faisal akan cemburu?
Aku tak tahu.
"Waz, UN sebentar lagi nih. Nanti sore
belajar bareng yuk?" Aku mencoba mendekati Fawaz dan berharap ia merespon
positif.
"Ayok." Jawabnya singkat.
"Dirumah aku ya?" Ujarku
"Nanti aku kesana." Ujarnya tetap
datar. Syukurlah, setidaknya Fawaz masih sepeti dulu, walaupun ada sedikit
perbedaan. Ia tak pernah sedingin itu sebelumnya.
***
3 bulan
yang lalu, aku telah melaksanakan Ujian Nasional. Dan hari ini adalah
pengumuman kelulusan sekaligus pengumuman penerimaan mahasiswa baru di
perguruan tinggi.
"Waz, aku takut." Aku berkata
kepada Fawaz.
"Jangan takut."
"Fawaz Muhammad. Selamat nak, Kamu
lulus dan nilai kamu begitu sempurna. 60,00. Kamu berhasil menerobos Harvard
University nak." Ujar Ibu Nafisa, Wali kelas kami. Seketika decak kagum
dan tepuk tangan orang-orang menggema seaula sekolah.
"Seanjutnya Fe'sti Hawa, Selamat nak
kamu lulus, nilai kamu juga sempurna. Hanya berbeda sedikit dengan Fawaz yaitu
59,80 .Kamu diterima di London University." Seketika sorak-sorak dan tepuk
tangan teman-teman menggema diseluruh ruangan. Aku dan Fawaz saling berpelukan,
aku menangis haru, bahagia sekaligus bangga karena perjuangan ku dalam belajar
menghasilkan buah yang manis. Ketika sedang meluapkan kebanggaan bersama Fawaz,
tiba-tiba handphone ku berdering. Ternyata Faisal menelfon ku. Aku tak sabar
ingin mendengar kabar keluluasan dariya.
"Halo Hawa" Ujar Faisal disebrang
telfon.
"Iyaa.. Kamu gimana? diterima
dimana?" Aku bertanya kegirangan. Tapi Faisal tak menjawab pertanyaanku.
"Kita ketemu ya, ditempat biasa."
"Oke." Aku menutup telfon dan
bergegas pulang karena takut Faisal menunggu lama di taman komplek.
"Mau kemana?" Teriak Fawaz.
"Ketemu Faisal." Aku tak
menghiraukan Fawaz, dengan berjalan dengan langkah cepat. Aku tak sabar ingin
mendengar cerita Faisal. Siapa tahu dia satu universitas dengan ku.
"Faisal." Aku menghampiri Faisal.
"Hawa.."
"Iya.. kenapa?"
"Kita putus aja ya?"
"Maksud kamu apa?"
"Hawa,, kita tak mungkin menjalankan
hubungan ini dengan jarak yang begitu jauh dan waktu yang tak sebentar."
Kaki ku lemas mendengar kata itu,
pandanganku kabur.
Aku tak mampu berbicara banyak kata. Aku
mencoba menahan kelopak mataku untuk tak menjatuhkan air mata.
"Kita akan kuliah berbeda negara, kamu
diterima di London kan? Dan aku, aku akan melanjutkan kuliah di Jerman. Dan
mungkin setelah kuliah, aku akan menetap disana untuk memegang perusahaan ayah.
Jadi kita gak mungkin melanjurkan hubungan ini Hawa."
"Tapi kita kan bisa menjalin hubungan
jarak jauh. Asalkan kita bisa saling percaya kenapa tidak?" Air mataku
tumpah. Wajahku memerah.
"Tapi aku akan menetap disana Hawa.
Jadi.. Maafkan aku, aku gak bisa."
"Mengapa hanya sebentar saja aku
merasa bahagia?! Kalau akhirnya kamu akan tinggalkan aku, kenapa kamu datang
hah?! Jika kamu disini hanya sebentar, mengapa kamu berikan harapan yang begitu
besar?!"
"Maafkan aku Hawa, maafkan aku.
Sejujurnya aku juga tak mau." Faisal menggenggam tanganku. Aku
menghempaskannya.
Perlahan Faisal berlalu meninggalkanku.
Kuihat punggungnya semakin menjauh, dan mungkin tak akan kembali. Aku tak bisa
melangkahkan kaki, aku tak mampu berdiri, karena sungguh, kejadian tadi
menyobek hati, menghancurkannya menjadi serpihan yang sulit diperbaiki,
menggores luka yang benar-benar perih. "Mengapa hanya sebentar aku
merasakan bahagia bersamanya? Aku yakin, suatu saat nanti aku pasti akan
dipertemukan dengan jodohku tanpa disangka-sangka. Biarkan Tuhan yang membuat
cerita, karena aku tahu, Tuhanlah yang lebih tahu segala yang terbaik."
***
"Selamat pagi Korea." Aku membuka
jendela kamar hotel ku. Kulihat indahnya pulau Jeju dan ku nikmati setiap udara
segar yang masuk kedalam kamarku. Dua minggu ini kebetulan sedang libur kerja. Aku ingin
liburan dan ingin menenagkan fikiran. Dua
tahun lalu aku sudah menyelesaikan kuliahku di London dan sejak lulus
kuliah, aku bekerja disebuah perusahaan besar di London, dan hari-hari ku
sesalu sisibukkan dengan pekerjaan yang menggunung. Oleh karena itu, aku ingin
memanfaatkan liburan kali ini. Kali ini aku memilih Korea sebagai negara
tujuanku berlibur. Entah mengapa, aku tertarik untuk menginjakkan kaki disini.
***
Aku puas berlibur kali ini, walaupun sendiri,
tapi aku tetap menikmatinya. Ku sandarkan tubuhku dikursi dekat sungai Han.
Mataku tal henti-hentinya memandang keseluruh sudut kota, jari dan pensilku tak
mau kalah. Mereka tal henti-hentinya melukiskan keindahan Korea diatas kertas
putih. Ketika sedang asik bergulat dengan pensil dan buku gambarku, tiba-tiba
mataku tertuju pada seseorang disana. Seseorang yang tengah duduk dibawah pohon
rindang disebrang sungai Han.
"Faisal!" Aku terkejut. Faisal
ada disini? Seketika aku teringat sesuatu. Apa mungkin memang Faisal jodohku?
Aku akan bertemu jodohku tanpa disangka-sangka. Ya! Dia jodohku. Aku berlari
menuju Faisal. Dengan spontan aku memeluknya. Tetapi mengapa perasaanku kali
ini berbeda? Mungkin karena aku sudah jarang bertemu lagi dengan dia.
"Hawa?" Faisal kaget melihatku.
Aku melepas pelukanku.
"Iya.. ini aku, Faisal aku fikir kita
tidak akan bertemu lagi, ternyata Tuhan mengabulkan doa ku. Aku tau kamu pasti
jod......"
"Sayang.."
Belum sempat aku melanjutkan perkataanku.
Seorang wanita jangkung dan berparas cantik menghampiri aku dan Faisal, dan ia
memanggil Faisal dengan sebutan 'sayang'.
"Ini siapa?" Ujar wanita itu.
"Ini teman aku sewaktu SMA, namanya
Festi Hawa. Hawa, kenalin ini Istri aku, Niken."
Aku menyodorkan tanganku. Sebenarnya
didalam sini hatiku mulai retak mendengar kata 'istri'. Tuhan, ternyata dia
adalah istri dari Faisal. Aku kira Faisal memang jodohku, aku kira Faisal
memang orang yang Tuhan ciptakan untukku dan dipertemukan denganku tanpa
disangka-sangka.Ternyata aku salah. Kenapa hatiku seperti ini? Oh Tuhan. Apakah
aku masih menaruh hati kepada Faisal? tidak. Itu tidak boleh terjadi. Ia sudah
milik orang lain. Ia sudah milik Niken. Setelah berbincang-bincang sekedarnya
dengan Faisal dan istrinya, aku mutuskan untuk pergi, mencari tempat lain yang
tentunya bukan disini. Aku berlari menyusuri pinggiran kota Seoul dengan air
mata yang tak hentinya mengalir. Aku berlari mengikuti langkah kaki yang entah
akan membawaku kemana. Aku berlari dengan tertunduk, aku tak igin orang-orang
melihay air mataku, tetapi tiba-tiba "BRAAAK!" Sial, aku menabrak
seseorang dihadapanku. Sebelum aku bangkit, aku menghapus air mata yang masih
berserakan dipipi.
"Hawa!" Pekik seseorang yang aku
tabrak tadi. Aku mendongok ke arahnya. Seketika mataku terbelalak. Kudapati
seorang pria yang sangat ku kenal, dengan kaca mata hitam yang sudah tak asing
lagi di ingatanku.
"Fawaz!" Fawaz membantu aku
bangkit karena tadi aku terjatuh karena menabrak dia.
"Sebaiknya kita ke apartement ku saja,
sekalian kamu istirahat disana." Sepertinya Fawaz faham dengan keadaanku.
Aku mengikuti Fawaz menuju apartementnya yang ternyata tidak jauh.
***
"Kamu tinggal di sini?" Tanyaku
kepada Fawaz sambil menyeruput teh hangat.
"Ya, aku jadi fotografer disini."
"Hebat." Aku tersenyum.
"Kamu kok ada di sini?" Tanya Fawaz. "Lagi Liburan."
Jawabku sambil kembali menyeruput teh hangat. "Tadi kenapa nangis?"
Fawaz kembali bertanya. Mendengar pertanyaan itu, air mataku kembali menggenang
dan akhirnya tumpah. Aku ceritakan semua pada Fawaz, aku tumpahkan semua
emosiku, aku kembali menangis dan kali ini aku menangis dibahu Fawaz.
"Mungkin pria yang Tuhan ciptakan dan
akan dipertukan tanpa disangka-sangka itu bukan dia." Ujar Fawaz seraya
menghapus air mataku.
"Ya mungkin."
"Bagaimana jika pria itu adalah
aku?"
Aku terkejut mendengarnya.
"Maksud kamu?"
"Hawa, dari dulu aku sayang sama kamu.
Tapi kamu lebih memilih Faisal. Sebenarnya aku cemburu ketika kamu sudah mulai
dekat dengan Faisal. Tapi aku memilih diam. Aku ingin kamu bahagia."
Aku tak bisa berkata apa-apa.
"Hawa.. " Fawaz membangkitkanku
dari duduk. Ia menuntunku kearah suatu ruangan di apartemennya. Ruangan dengan
cat berwarna putih tulang itu terlihat sangat terang, seperti banyak lampu didalamnya.
"Lihat." Fawaz membuka pintu
ruangan itu.
"Fawaz.. " Aku tak sanggup berkata-kata ketika kudapati
foto-fotoku memenuhi seluruh ruangan.
"Hawa, aku sayang kamu."
Aku memeluk Fawaz erat. Ternyata ada orang
yang benar-benar menyayangiku.
"Kenapa dulu kamu hanya diam?"
"Aku takut jika bicara, aku hanya akan
membuatmu kecewa."
"Padahal tidak."
Fawaz hanya terseyum. "Oh ya. Aku masih menyimpan ini,
kemanapun aku pergi aku selalu menyimpan minumanku disini." Aku menunjukan
tempat minum yang dulu diberikan Fawaz.
"Kok masih ada?"
"Ada dong." Aku menjulurkan
lidahku.
Fawaz mencubit hidungku. Aku dan Fawaz
saling berpandangan. Kami tertawa bersama. Ternyata Tuhan mengabulkan doaku.
Dia telahenciptakannya untukku dan mempertemukannya dengan ku tanpa
disangka-sangka. Aku juga tidak menyangka jika Fawazlah tokoh utama dalam
ceritanya-Nya. Tapi aku bahagia.
"Terimakasih Waz." Batinku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar