Senin, 16 Juni 2014

Pelabuhan Terakhir



Kedatanganya misterius. Kapan ia datang,  kepada siapa ia datang itu tidak dapat ditebak. Terkadang ia harus datang pada saat yang salah. Tapi kita tidak dapat menyembunyikannya, apalagi menghentikannya. Tapi apakah salah jika ternyata ia datang padaku dan aku hanya diam dan memendam? Aku hanya menyembunyikan  bukan menghentikan. Bukankah cinta bukan semata pengakuan lalu pada akhirnya membuat sebuah ikatan 'pacaran'? Tapi bukankah cinta yang tulus itu adalah  tersenyum membiarkan  dia bersama orang lain yang ia cinta?
"Mau sampai kapan nunggu dia? Sampe nenek-nenek? Kalau gak diungkapkan gak akan dapet." Ujar vyola yang tengah membereskan notebooknya.
"Bisa dapet kok. Kalau dia cinta dia akan datang."
"Lalu kamu tau kapan dia akan datang? Keburu dipatok orang lain. Lalu siapa lagi yang akan akan kamu sakiti karena dijadikan pelarian?". Aku merasa dihakimi. Sial.
"Tapi masa aku yang mengungkap kan?"
"Memangnya salah jika perempuan yang mengungkapkan? Lagian itu bukan bermaksud apa-apa. Kamu hanya ingin mengeluarkan semua perasaan kamu. Demi kamu juga kan? Lagian kamu kan pernah bilang, 'yang penting dia tau perasaan aku, walaupun nanti yang dia pilih bukan aku, gapapa. Yang penting aku lega udah bilang ke dia.' Nah sekarang tunggu apa lagi?" Vyola semakin meyakinkanku.
"Haaaaa Vyooo.. Tapi bagaimana dengan Sheryl? diakan sahabat aku?"
"Sheryl masalalunya Syahm? Dia sudah menyia-nyiakan Syahm bukan?" Tanya Vyola dengan tatapan tajam.
"Tapi dia sahabat aku!" Nada suaraku meninggi.
"Aku juga sahabat kamu kan? Kalau aku jadi Sheryl, aku akan dukung kamu, tak peduli itu masalaluku atau bukan. Jika itu membuat kamu bahagia kenapa tidak? Percayalah, semua akan baik-baik saja."
Aku hanya diam mendengar kata-kata Vyola. Apakah benar aku harus mengatakanya? Sementara jika aku hanya diam seperti ini, akan membuat hatiku semakin mati. Aku tak bisa membuka hati untuk dia dia dia yang mencintaiku. Karena hatiku sudah ku kunci hanya untuk Syahm.

***
Bel tanda pulang sekolahpun berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Aku berdiri didepan kelasku sambil menunggu Vyola yang masih piket. Ku sandarkan tubuhku ditiang koridor sambil mengamati orang-orang  yang lalu-lalang. Tapi tiba-tiba mataku tertuju pada seorang pria dengan tas merah dipunggungnya tengah berbicara dengan salah seorang guru. Mataku tak henti memandangnya. Walaupun jantungku menggebu dan berdegup tak menentu, mataku tak mau lepas darinya.
"Kia!" Aku terlonjak.
Ya Tuhan. Syahm memanggilku. Jantungku semakin berdegup tak menentu. Ku lihat Syahm menghampiriku. Dia semkin dekat, dekat, dan kini dia ada di hadapanku. Oh Tuhan, semoga ia tak menyadari getaran tubuhku, semoga ia tak melihat keringat ditengkuk ku.
"Aku panggil dari tadi juga." Syahm menggerutu.
Ah sedari tadi dia memanggilku? Apakah tadi dia melihat aku sedang memandangnya? Apakah tadi dia melihat aku mengamati setiap gerakannya? Apakah dia merekam senyumku yang mengembang ketika memperhatikannya? Aku tak tahu.

"Oh maaf." Aku tertunduk menutupi kegugupanku.
"Aris mana?"
"Tadi dia sudah pulang." Jawabku singkat.
"Oh yasudah makasih." Syahm tersenyum lalu berlalu meninggalkanku.
Bodoh sekali, mengapa aku tidak basa-basi agar dia tetap disini. Setidaknya bisa berbicara dengannya dengan jarak yang dekat untuk beberapa menit. Aku menyesal.

***
Aku mematut diri di hadapan cermin. Ku tatap mataku dalam-dalam, meyakinkan diri sendiri.
"Aku bisa. Aku berani. Aku bisa. Aku berani."
Perlahan aku tulis pesanku. Tangan ku bergetar, keningku mulai dipenuhi dengan air dingin. Vyola mentertawakanku disudut kasur.
"Vyolaaaaaa udah ke kiriiimmmmm. Ini gimana? Harus gimana? Aaaa aku patahin aja kali ya kartunya? Buang ajaaaaaa kartunya."
"Eh biasa aja.. Kalem, kalem.. tinggal kita tunggu balasannya."
Aku dan Vyola duduk diatas kasur sambil menatap handphone dihadapan kami. Kami menunggu jawabannya. Tak berapa lama, handphone ku bergetar, sontak Vyola menjerit kegirangan. Sementara aku, aku tak berani melihat hanpdphoneku, aku tak berani melihat siapa pengirimnya, apalagi harus membaca isinya.
"Kia, ini dari dia, ayo baca." Vyo menyodorkan handphoneku
"Aku gak berani."
"Udah cepet baca."
Aku meraih handphoneku dari tangan Vyola. Perlahan ku buka dan ku baca pesan singkat itu.

Sender: Syahm
Jadian yuk?

Tuhan! Seketika kaki ku lemas, tubuh ku seperti melayang.
"Vyoooooo cubit aku cubit aku!"
"Aw" Aku menjerit
"Katanya dicubit." Vyola terkekeh.
"Ya gak sekeras itu!" Aku menggerutu.
"Udah terima aja."
"Apa secepat itu? Kamu yakin dia juga menyukaiku?"
"Ya! Tidak ada yang tidak mungkin. Lagian Kamu sama Syahm sudah kenal lama kan? Sudah bersahabat sejak lama kan?"
Aku hanya diam. Mencoba mencerna semua. Tuhan, apa yang telah aku lakukan?

***
" Cie pulang bareng.. PJ PJ.." Teman-teman ku mengejek ku.
"Apa si.." Aku tersipu.
"Longlast ya" Ujar mereka serempak.
Aku hanya tersenyum membalasnya, lalu aku segera berlalu menghampiri Syahm yang telah menungguku.
"Tunggu dulu ya." Ujar Syahm.
"Mau kemana?"
Dia tidak menjawab. Ia hanya terseyum dan akhirnya berlalu meninggalkanku di halte.
"Nih.. maaf lama ya?" Ia memberiku sebuah minuman teh dingin.
"Makasih ya." Aku tersenyum.
Tak berapa lama, mobil yang hendak kami tumpangi tiba. Syahm segera memasukinya dan aku mengikuti. Syam duduk dibangku dekat sopir dan aku duduk disampingnya.
"Tangan kamu dingin sekali." Ujar Syahm seraya menggenggam tanganku.
Aku terbelalak, ia menggenggam tanganku. Jantungku kembali menggebu.
"Oh gapapa, aku udah biasa." Jawabku kaku.
Ku kira ia akan melepaskannya, tapi ternyata ia semakin erat menggenggamnya. Tanganku bukan semakin hangat,  tapi semakin dingin. Semoga saja Syahm tidak menyadari kegugupanku.

***
"Vyo pulang yu." Aku merengek.
"Nanti dulu."
"Kia, jangan pulang dulu." Bella berteriak dari dalam kelas.
"Mau apa si? Udah siang."
Mereka tidak menjawab apa-apa.
Aku duduk dibangku taman sekolah dibawah pohon yang rindang. Aku lelah sekali, aku ingin segera pulang. Akhirnya aku putuskan untuk lembali ke kelas. Belum sempat ku langkahkan kaki menuju kelas, aku dikejutkan dengan teriakan teman-temanku. Aku menoleh ke arah suara itu.
"Happy birtday Kiaaaaaa!" Teriak mereka kompak. Kulihat Bella memegang sebuah cake ulangtahun yang cantik dengan lilin merah menyala diatasnya. Disampingnya ada Syahm yang tersenyum malu.
"Happy birth day Kia, Happy Birthday Kia, Happy birthday happy birthday happy birthday Kia." Bereka bernyanyi seirama.
Aku terkejut. Tapi sungguh, aku senang. Ternyata ini adalah rencana Syam, ini adalah kejutan ulang tahunku yang terindah dari Syahm.
"Makasih ya?" Aku menghampiri Syahm yang tengah memperhatikan teman-temanku yang tengah berebut cake.
"Iya sama-sama." Syahm terseyum.
Syam bangkit dari duduknya, ia mengambil sepotong cake lalu kembali.
"Kia.." Ia mendekatkan sepotong cake itu ke mulutku. Aku tersenyum malu.
"Enak gak?"
"Enak. Karna kamu yang nyuapin." Aku menyeringai.
"Nih satu lagi." Syam memberiku sebuah kotak dengan lertas merah jambu bermotif hati yang membungkusnya.
"Apa ini?" Tanyaku
"Udah deeeh."
"Sekali lagi makasih ya." aku tersenyum.
"Kena" Aku mengoleskan cream cake ke wajah Syam. Syam tertawa lalu mengejarku dan hendak membalasnya. Melihat pemandangan itu, teman-temanku ikut berpesta dengan mencoret-coret cream cake ke wajah. Alhasil kami semua pulang dengan wajah lengket penuh gula.

Sesampainya dirumah, aku segera membersihkan tubuhku. Aku lelah sekali hari ini. Tapi aku senang, hari ini aku mendapat kejutan. Kejutan paling indah.

Ku keringkan rambutku dengan handuk. Tiba-tiba aku teringat dengan kado dari Syahm. Aku mengambilnya dari tasku, perlahan aku membukanya. Ternyata tas dengan gambar menara eiffel. Syahm tau aku sangat menyukai Paris. Dulu, Syahm pernah bilang, suatu saat dia akan mengajakku kesana, ke Paris.

***
Waktu memang tak pernah berhenti untuk berdetik. Dimulai pada tanggal 8 Agustus 2011, hampir sudah satu setengah tahun aku bersamanya. Bersama Syahm. Banyak sekali memori indah yang telah terekam bersamanya. Aku akan menyimpannya dan takkan pernah menghapusnya. Tapi ada satu hal yang selalu menghantui ku. Selalu membuatku ragu.
"Kamu boleh sahabatan sama dia. Tapi engga untuk pacaran, dia saudaramu." Kata-kata mamah itu yang selalu membayangiku. Membentur otakku dan membuat sesak hatiku. Apa yang harus aku lakukan? Jika harus ku korbankan hubunganku hanya karena alasan 'saudara', sungguh aku tak mau. Aku tak rela.

Sepulang sekolah, Syahm menemuiku dikelasku. Aku menceritakan semua padanya. Ia tak berkata apa-apa. Kulihat kebimbangan dari binar matanya. Ia terlihat dilema.
"Lalu bagaimana?" Nada suaranya merendah.
Aku hanya menggelengkan kepala dengan pipi penuh dengan air mata.
"Kalau kita tetap berjalan dibelakang tanpa restu orang tua, aku takut." Ujar Syahm.
"Lalu bagaimana?"
Syahm menghela nafas panjang. Ia menatapku, sementara aku, aku sama sekali tak berani menatap matanya.

***
Ku peluk erat boneka itu. Boneka Donal bebek lucu pemberian Syahm. Setiap aku merindukkannya, aku selalu memeluk boneka itu, ku tumpahkan semua rinduku pada Syahm lewat boneka itu. Air mataku tak bisa kubendung, ia mengalir dipipi tanpa henti. Menangisi seseorang yang kini tak bersamaku lagi. Satu minggu lalu,   aku memutuskan untuk menghakhiri hubungan ini. Sebenarnya aku tak ingin melakukan semua ini. Aku tak ingin ini terjadi. Tapi harus bagaimana lagi? Aku benci semuanya! Kenapa harus ada kata 'Saudara'? Kenapa harus hubungan ku dengannya yang dijadikan korbannya? Ingin sekali aku menentangnya. Aku ingin protes. Tapi bagai berbicara dengan dewa, aku tak mungkin menang. Walaupun hubungan ini berakhir, cinta ini tidak akan pernah berakhir. Hati ini akan tetap untuk mu Syahm. Aku akan tetap disini. Disini menunggumu untuk kembali. Kembali bersamaku lagi.

***
"Tante dokter cantik banget." Ujar seorang anak manis berkepang dua.
"Iya.. makasih ya Via. Via juga cantik. Persis mama kamu" Ujarku seraya mencubit pipi Via.
"Selamat ya Kia.." Ujar Vyola. Ia memelukku haru.
"Selamat ya buat kalian berdua." Ujar Ade.
"Iya makasih ya De." Aku dan Syahm terseyum.
"Papah, mama. Aku mau foto sama tante dokter sama Om Angrybirds." Via bergelayut ditangan ayahnya sambil memohon-mohon agar Vyola dan Ade memfotonya denganku dan Syahm. Lalu Vyola mengeluarkan kamera dan menyerahkannya kepada ade.
"3, 2, 1" Ade menghitung mundur dan akhirnya satu gambar berhasil di ambil.
"Om.. Om.. nanti kalau main ke rumah Via, main Angrybirds lagi ya sama Via?" Via menarik manja tangan Syahm.
"Iya cantik." Syahm tersenyum sambil mengelus lembut rambut gadis cilik itu.
"Mentang-mentang ahli IT, ke anak kecil udah ngajarin PC. Maen game pula." Ujarku sambil menyenggol lengan Syahm.
"Gapapa, buat melatih kemampuan otak tau." Syahm membela diri.
"Tapi radiasi dari PC akan merusak mata."
"Mentang-mentang dokter. Ngomonginnya kesehatan melulu." Syahm menyunggingkan bibirnya. Aku dan Vyola tertawa mendengar jawaban Syahm.
"Eh itu ada Ola." Vyola menunjuk ke arah seorang wanita berkacamata dengan terusan simple yang menawan.
"Olaaaa.." Aku menyambut kedatangan Ola.
"Waaah kamu cantik sekali. Apalagi disampingnya udah ada pangeran dambaannya." Ola menggodaku.
"Ih olaaa." Aku mencubitnya.
"Selamet ya Kia, Selamet ya Syahm." Ola memeluk aku dan Syahm bergantian.
"Weehh selamat ya broh." Ujar Aris, suami Ola kepada Syahm. Mereka saling merengkuh dengan gaya seorang pria pada umumnya.
"Selamat ya Kia." Ujar Aris.
"Iya Ris makasih ya." Ujarku seraya menjabat tangan Aris.
Tak lama setelah kedatangan Ola. Rina dan Bella datang bersamaan. Mereka telah membawa pangeran berkuda putihnya masing-masing. Aku sangat bahagia. Kini aku bisa melepas rindu bersama. Melepas rindu bersama mereka, kawan lama. Juga melepas rindu dengan dia, yang ku damba.

Aku berjalan menuju dermaga, dengan balutan kebaya putih anggun yang panjang dan rangkaian mawar putih ditanganku. Ku tatap langit senja. Indah.
"Aku cinta kamu." Ujar Syahm seraya melingkarkan tangannya dipinggangku.
"Aku juga." Aku berbisik ditelinganya.
Kutatap foto digapura masuk dermaga itu. Foto sepasang cucu adam yang saling mencinta. Dengan kebaya putih yang membalut cantik tubuh sang putri dan jas putih yang menempel gagah pada pangerannya. "Aidan Syahm and Adzkia Samha Saufa's Wedding" nama itu tertulis rapih pada foto aku dan Syahm. Sungguh kebahagiaan ini tiada duanya. Setelah bertahun-tahun terkatung-katung dalam dimensi ketidak pastian. Akhirnya aku menemukan ujung sebuah penantian. Kini kepada Syahmlah aku berlabuh. Mengabdi menjadi seorang istri, dan Syahmlah yang akan menuntunku menuju surga nanti.
Syahm mencium keningkku. Aku memeluknya. Orangtua ku dan orang tua Syham memandang ke arah kami. Mereka tersenyum. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar