Senin, 16 Juni 2014

My Destiny




Semilir angin menerpa wajahku, meniup jilbabku dan menerbangkan daun-daun kering disekelilingku. Aku duduk di bangku taman sekolah dekat pohon yang rindang dengan ice cream coklat digenggamanku.
"Dapet satu." Ujar Fawaz yang ternayata memotretku diam-diam dengan SLRnya.
"Biasa banget si kamu." Aku memukul Fawaz pelan seraya mengambil kamera ditangannya.
"Tapi bagus" Ujarku dengan senyum mengembang.
"Iya dong, siapa dulu fotografernya." Fawaz membanggakan dirinya.
Aku tak menghiraukan pembicaraannya. Aku semakin asyik menikmati ice creamku.
"Nih" Fawaz menyodorkan sebelah headsetnya kepadaku, aku menerimanya.
"Hah? lagu apa ini?" Ujarku sambil membetulkan letak headset ditelingaku.
"Kamu itu, kamu bangsa Indonesia atau bukan?."
"Yaiyalah. Pake nanya." Aku menggerutu kesal.
"Ya ini instrumental lagu Indonesia Raya. Pake nanya."
"Ih dasar orang aneh. Dengerin lagu kok instrumental."
"Memangnya salah?" Tanya Fawaz.
"Yaaa engga sih, udah ah ke kelas yuk, sebentar lagi masuk." Aku menarik tangan Fawaz.

Fawaz Muhammad. Laki-laki berkaca mata itu adalah teman kecilku, teman bermainku. Tapi aku dan Fawaz sempat terpisah beberapa tahun, karena sewaktu kami berusia 6 tahun, Fawaz dan keluarganya pindah ke Brisbane. Tetapi, sekarang Fawaz kembali ke Indonesia. Fawaz satu sekolah denganku bahkan satu kelas denganku, kelas 12 IPA 1.

Bel pulang sekolah pun berbunyi,  aku segera keluar kelas, Fawaz membuntutiku.
"Hawa, pegang dulu nih, aku mau keluarin sepedanya dulu." Ujar Fawaz seraya menyerahkan botol minumnya.
"Kok bagus si botol minumnya, buat aku aja ya? hehe."
"Kamu suka? Ambil aja."
"Ahaha engga Waz, bercanda."
"Engga apa-apa ambil aja."
"Yang bener?"
"Iya." Fawaz tersenyum.
"Udah cepet naik." Ujar Fawaz.
"Waz, aku mau dibonceng didepan dong. Bosen dibelakang mulu."
"Yaudah."
Dengan girang aku segera menaiki sepeda Fawaz. Biasanya, aku diboncenga Fawaz dibelakang. Tapi entah kenapa kali ini aku ingin dibonceng didepan. Sepanjang jalan, aku tak henti-hentinya bergurau. Bahkan sesekali sepeda yang dikendarai Fawaz oleng. Tapi kami tak pernah berhenti bergurau.
"Waz, salah gak sih kalau aku suka sama seseorang?" Aku bertanya kepada Fawaz.
"Hah? uh uhm.. Emangnya kamu suka sama siapa?" Fawaz menjawab dengan kaku.
"Hhhhh aku, aku suka Faisal Waz."
Tiba-tiba Fawaz berhenti mengayuh sepedanya.
"Kenapa berhenti?" Aku bertanya kepada Fawaz.
"Eh engga. Aku kaget aja, ternyata kamu suka yang klimis ya? hehe. Faisal anak sekolah sebelah kan?" ujar Fawaz sambil melanjutkan mengayuh sepedanya.
"Iya. Tapi aku gak mungkinlah sama dia, dia itu anak orang kaya, dia pintar. Sedangkan aku sebaliknya." Suaraku merendah.
"Ya. Gak ada yang gak mungkin." Fawaz menjawab singkat.
"Ah udahlah. Eh udah nyampe, yaudah aku mau turun."
Fawaz tak menjawab apa-apa, ia terus melaju dan mengayuh sepeda menjauh. Aku segera masuk rumah.

***
Aku merasa ada yang aneh. Semakin hari aku dan Faisal semakin dekat. Bahkan Faisal sering mengantarku pulang, padahal sebelumnya aku dan Faisal tak pernah dekat.
"Eh Fe'sti Hawa. Mau pulang gak?" Ujar Fawaz yang tiba-tiba muncul dibelakangku.
"Ah kamu bikin kaget aja. Maaf Waz, aku mau dianterin Faisal."
"Oh uhm. yaudah." Fawaz berlalu meninggalkanku.

Sambil menggu kedatangan Faisal, aku duduk dibangku taman sekolah dan seperti biasa aku selalu menggambar. Aku suka sekali menggambar, apapun yang ku lihat atau apapun perasaanku, pasti aku selalu mencurahkannya lewat gambar. Dengan gambar, aku seperti benar-benar hidup, terkadang ketika sedang menggambar aku lupa waktu, terlalu terbuai dengan keasyikan yang sebenarnya muncul karena kecintaanku terhadap dunia gambar.
"Hey gambar apa tuh?" Suara Faisal mengejutkanku.
"Eh, kamu ngagetin aja. Ini aku lagi gambar karikatur."
"Wah bagus, coba aku liat. Kamu mau jadi designer ya? kok pinter banget gambar? atau Enginer?"
"Aku gak tau, masih bingung aku mau ngambil jurusan apa nanti kalau kuliah."
"Yang penting disesuaikan sama kemampuan kamu. Yuk pulang." Faisal menarik tanganku. Tuhan, aku lemas.
"Mobil kamu mana?" Aku bertanya kepada Faisal.
"Aku gak mau bawa mobil lagi, soalnya kamu lebih suka naik sepeda kan? udah buruan naik." Aku hanya tersenyum lalu segera menaiki sepeda Faisal.

Dengan semangatnya Faisal mengayuh sepeda. Kami meliuk-liuk ditengah jalanan komplek perumahan yang sepi. Sesekali Faisal berputar-putar tak menentu mengelilingi komplek, hingga akhirnya Faisal memarkirkan sepedanya didekat taman komplek didepan danau.
"Huuh cape banget muter-muter komplek." Ujarku seraya meluruskan kaki ku diatas hamparan rumput yang hijau.
"Kasian banget kamu." Tiba-tiba Faisal mengeluarkan saputangannya dan mengusapkannya dipelipisku yang penuh peluh. Aku terkejut, Faisal menyapukan saputangannya? Faisal mengusap keringatku? Ini apa? aku tak percaya. Tuhan, tolong stabilkan kembali detak jantungku.
"Eh.. Uhm.. Ma.. Makasih ya." Ucapku terbata-bata. Faisal hanya terseyum membalasnya.
"Hawa?"
"Ya"
"Aku..... Suka sama kamu."
Perkataan itu sontak membuat jantungku berhenti berdetak. Apa telingaku tidak salah mendengar? Tidak. Tidak. Mungkin ini hanya Ilusiku saja. Ah tetapi tidak. Ini nyata! Faisal benar-benar mengatakan itu padaku. Oh Tuhan, mengapa ini terjadi ditempat yang sepi seperti ini, disini aku tidak bisa menutupi rona pipiku. Seandainya ini terjadi di disekolah, aku bisa izin ke toilet atau seandainya ini terjadi di Mall, mungkin aku bisa bersembuyi di kamar pas. Aku benar-benar kaku, aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Hawa? kok bengong.?"
"Eh iya maaf."
"Jadi gimana? Kamu mau kan jadi.... pacar aku?"
"Eh anu Mau." Dengan konyolnya aku menjawab seperti itu. Tuhan aku bicara apa!
"Wah, aku seneng banget Hawa. Makasih ya. Aku anter pulang yuk." Aku tak menjawab apa-apa. Aku masih mencerna apa yang telah teradi. Jadi, sekarang aku sudah menjadi kekasih Faisal? benarkah? Sungguh aku tak percaya. Ini seperti mimpi.

***
Semenjak aku menerima Faisal menjadi kekasihku. Aku merasa semakin ada jarak antara aku dan Fawaz, aku merasa kami semakin jauh. Tetapi mungkin yang lebih tepatnya adalah Fawaz yang semakin menjauhiku. Aku tak mengerti, apa mungkin dia   seperti itu karna takut jika terlalu dekat denganku Faisal akan cemburu? Aku tak tahu.
"Waz, UN sebentar lagi nih. Nanti sore belajar bareng yuk?" Aku mencoba mendekati Fawaz dan berharap ia merespon positif.
"Ayok." Jawabnya singkat.
"Dirumah aku ya?" Ujarku
"Nanti aku kesana." Ujarnya tetap datar. Syukurlah, setidaknya Fawaz masih sepeti dulu, walaupun ada sedikit perbedaan. Ia tak pernah sedingin itu sebelumnya.

***
3 bulan  yang lalu, aku telah melaksanakan Ujian Nasional. Dan hari ini adalah pengumuman kelulusan sekaligus pengumuman penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi.
"Waz, aku takut." Aku berkata kepada Fawaz.
"Jangan takut."
"Fawaz Muhammad. Selamat nak, Kamu lulus dan nilai kamu begitu sempurna. 60,00. Kamu berhasil menerobos Harvard University nak." Ujar Ibu Nafisa, Wali kelas kami. Seketika decak kagum dan tepuk tangan orang-orang menggema seaula sekolah.
"Seanjutnya Fe'sti Hawa, Selamat nak kamu lulus, nilai kamu juga sempurna. Hanya berbeda sedikit dengan Fawaz yaitu 59,80 .Kamu diterima di London University." Seketika sorak-sorak dan tepuk tangan teman-teman menggema diseluruh ruangan. Aku dan Fawaz saling berpelukan, aku menangis haru, bahagia sekaligus bangga karena perjuangan ku dalam belajar menghasilkan buah yang manis. Ketika sedang meluapkan kebanggaan bersama Fawaz, tiba-tiba handphone ku berdering. Ternyata Faisal menelfon ku. Aku tak sabar ingin mendengar kabar keluluasan dariya.
"Halo Hawa" Ujar Faisal disebrang telfon.
"Iyaa.. Kamu gimana? diterima dimana?" Aku bertanya kegirangan. Tapi Faisal tak menjawab pertanyaanku.
"Kita ketemu ya, ditempat biasa."
"Oke." Aku menutup telfon dan bergegas pulang karena takut Faisal menunggu lama di taman komplek.
"Mau kemana?" Teriak Fawaz.
"Ketemu Faisal." Aku tak menghiraukan Fawaz, dengan berjalan dengan langkah cepat. Aku tak sabar ingin mendengar cerita Faisal. Siapa tahu dia satu universitas dengan ku.

"Faisal." Aku menghampiri Faisal.
"Hawa.."
"Iya.. kenapa?"
"Kita putus aja ya?"
"Maksud kamu apa?"
"Hawa,, kita tak mungkin menjalankan hubungan ini dengan jarak yang begitu jauh dan waktu yang tak sebentar."
Kaki ku lemas mendengar kata itu, pandanganku kabur.
Aku tak mampu berbicara banyak kata. Aku mencoba menahan kelopak mataku untuk tak menjatuhkan air mata.
"Kita akan kuliah berbeda negara, kamu diterima di London kan? Dan aku, aku akan melanjutkan kuliah di Jerman. Dan mungkin setelah kuliah, aku akan menetap disana untuk memegang perusahaan ayah. Jadi kita gak mungkin melanjurkan hubungan ini Hawa."
"Tapi kita kan bisa menjalin hubungan jarak jauh. Asalkan kita bisa saling percaya kenapa tidak?" Air mataku tumpah. Wajahku memerah.
"Tapi aku akan menetap disana Hawa. Jadi.. Maafkan aku, aku gak bisa."
"Mengapa hanya sebentar saja aku merasa bahagia?! Kalau akhirnya kamu akan tinggalkan aku, kenapa kamu datang hah?! Jika kamu disini hanya sebentar, mengapa kamu berikan harapan yang begitu besar?!"
"Maafkan aku Hawa, maafkan aku. Sejujurnya aku juga tak mau." Faisal menggenggam tanganku. Aku menghempaskannya.
Perlahan Faisal berlalu meninggalkanku. Kuihat punggungnya semakin menjauh, dan mungkin tak akan kembali. Aku tak bisa melangkahkan kaki, aku tak mampu berdiri, karena sungguh, kejadian tadi menyobek hati, menghancurkannya menjadi serpihan yang sulit diperbaiki, menggores luka yang benar-benar perih. "Mengapa hanya sebentar aku merasakan bahagia bersamanya? Aku yakin, suatu saat nanti aku pasti akan dipertemukan dengan jodohku tanpa disangka-sangka. Biarkan Tuhan yang membuat cerita, karena aku tahu, Tuhanlah yang lebih tahu segala yang terbaik."

***
"Selamat pagi Korea." Aku membuka jendela kamar hotel ku. Kulihat indahnya pulau Jeju dan ku nikmati setiap udara segar yang masuk kedalam kamarku. Dua minggu ini  kebetulan sedang libur kerja. Aku ingin liburan dan ingin menenagkan fikiran. Dua   tahun lalu aku sudah menyelesaikan kuliahku di London dan sejak lulus kuliah, aku bekerja disebuah perusahaan besar di London, dan hari-hari ku sesalu sisibukkan dengan pekerjaan yang menggunung. Oleh karena itu, aku ingin memanfaatkan liburan kali ini. Kali ini aku memilih Korea sebagai negara tujuanku berlibur. Entah mengapa, aku tertarik untuk menginjakkan kaki disini.

***
Aku puas berlibur kali ini, walaupun sendiri, tapi aku tetap menikmatinya. Ku sandarkan tubuhku dikursi dekat sungai Han. Mataku tal henti-hentinya memandang keseluruh sudut kota, jari dan pensilku tak mau kalah. Mereka tal henti-hentinya melukiskan keindahan Korea diatas kertas putih. Ketika sedang asik bergulat dengan pensil dan buku gambarku, tiba-tiba mataku tertuju pada seseorang disana. Seseorang yang tengah duduk dibawah pohon rindang disebrang sungai Han.
"Faisal!" Aku terkejut. Faisal ada disini? Seketika aku teringat sesuatu. Apa mungkin memang Faisal jodohku? Aku akan bertemu jodohku tanpa disangka-sangka. Ya! Dia jodohku. Aku berlari menuju Faisal. Dengan spontan aku memeluknya. Tetapi mengapa perasaanku kali ini berbeda? Mungkin karena aku sudah jarang bertemu lagi dengan dia.
"Hawa?" Faisal kaget melihatku. Aku melepas pelukanku.
"Iya.. ini aku, Faisal aku fikir kita tidak akan bertemu lagi, ternyata Tuhan mengabulkan doa ku. Aku tau kamu pasti jod......"
"Sayang.."
Belum sempat aku melanjutkan perkataanku. Seorang wanita jangkung dan berparas cantik menghampiri aku dan Faisal, dan ia memanggil Faisal dengan sebutan 'sayang'.
"Ini siapa?" Ujar wanita itu.
"Ini teman aku sewaktu SMA, namanya Festi Hawa. Hawa, kenalin ini Istri aku, Niken."
Aku menyodorkan tanganku. Sebenarnya didalam sini hatiku mulai retak mendengar kata 'istri'. Tuhan, ternyata dia adalah istri dari Faisal. Aku kira Faisal memang jodohku, aku kira Faisal memang orang yang Tuhan ciptakan untukku dan dipertemukan denganku tanpa disangka-sangka.Ternyata aku salah. Kenapa hatiku seperti ini? Oh Tuhan. Apakah aku masih menaruh hati kepada Faisal? tidak. Itu tidak boleh terjadi. Ia sudah milik orang lain. Ia sudah milik Niken. Setelah berbincang-bincang sekedarnya dengan Faisal dan istrinya, aku mutuskan untuk pergi, mencari tempat lain yang tentunya bukan disini. Aku berlari menyusuri pinggiran kota Seoul dengan air mata yang tak hentinya mengalir. Aku berlari mengikuti langkah kaki yang entah akan membawaku kemana. Aku berlari dengan tertunduk, aku tak igin orang-orang melihay air mataku, tetapi tiba-tiba "BRAAAK!" Sial, aku menabrak seseorang dihadapanku. Sebelum aku bangkit, aku menghapus air mata yang masih berserakan dipipi.
"Hawa!" Pekik seseorang yang aku tabrak tadi. Aku mendongok ke arahnya. Seketika mataku terbelalak. Kudapati seorang pria yang sangat ku kenal, dengan kaca mata hitam yang sudah tak asing lagi di ingatanku.
"Fawaz!" Fawaz membantu aku bangkit karena tadi aku terjatuh karena menabrak dia.
"Sebaiknya kita ke apartement ku saja, sekalian kamu istirahat disana." Sepertinya Fawaz faham dengan keadaanku. Aku mengikuti Fawaz menuju apartementnya yang ternyata tidak jauh.

***
"Kamu tinggal di sini?" Tanyaku kepada Fawaz sambil menyeruput teh hangat.
"Ya, aku jadi fotografer disini."
"Hebat." Aku tersenyum. "Kamu kok ada di sini?" Tanya Fawaz. "Lagi Liburan." Jawabku sambil kembali menyeruput teh hangat. "Tadi kenapa nangis?" Fawaz kembali bertanya. Mendengar pertanyaan itu, air mataku kembali menggenang dan akhirnya tumpah. Aku ceritakan semua pada Fawaz, aku tumpahkan semua emosiku, aku kembali menangis dan kali ini aku menangis dibahu Fawaz.
"Mungkin pria yang Tuhan ciptakan dan akan dipertukan tanpa disangka-sangka itu bukan dia." Ujar Fawaz seraya menghapus air mataku.
"Ya mungkin."
"Bagaimana jika pria itu adalah aku?"
Aku terkejut mendengarnya.
"Maksud kamu?"
"Hawa, dari dulu aku sayang sama kamu. Tapi kamu lebih memilih Faisal. Sebenarnya aku cemburu ketika kamu sudah mulai dekat dengan Faisal. Tapi aku memilih diam. Aku ingin kamu bahagia."
Aku tak bisa berkata apa-apa.
"Hawa.. " Fawaz membangkitkanku dari duduk. Ia menuntunku kearah suatu ruangan di apartemennya. Ruangan dengan cat berwarna putih tulang itu terlihat sangat terang,  seperti banyak lampu didalamnya.
"Lihat." Fawaz membuka pintu ruangan itu.
"Fawaz.. " Aku tak sanggup berkata-kata ketika kudapati foto-fotoku memenuhi seluruh ruangan.
"Hawa, aku sayang kamu."
Aku memeluk Fawaz erat. Ternyata ada orang yang benar-benar menyayangiku.
"Kenapa dulu kamu hanya diam?"
"Aku takut jika bicara, aku hanya akan membuatmu kecewa."
"Padahal tidak."
Fawaz hanya terseyum. "Oh ya. Aku masih menyimpan ini, kemanapun aku pergi aku selalu menyimpan minumanku disini." Aku menunjukan tempat minum yang dulu diberikan Fawaz.
"Kok masih ada?"
"Ada dong." Aku menjulurkan lidahku.
Fawaz mencubit hidungku. Aku dan Fawaz saling berpandangan. Kami tertawa bersama. Ternyata Tuhan mengabulkan doaku. Dia telahenciptakannya untukku dan mempertemukannya dengan ku tanpa disangka-sangka. Aku juga tidak menyangka jika Fawazlah tokoh utama dalam ceritanya-Nya. Tapi aku bahagia.
"Terimakasih Waz." Batinku.

Pelabuhan Terakhir



Kedatanganya misterius. Kapan ia datang,  kepada siapa ia datang itu tidak dapat ditebak. Terkadang ia harus datang pada saat yang salah. Tapi kita tidak dapat menyembunyikannya, apalagi menghentikannya. Tapi apakah salah jika ternyata ia datang padaku dan aku hanya diam dan memendam? Aku hanya menyembunyikan  bukan menghentikan. Bukankah cinta bukan semata pengakuan lalu pada akhirnya membuat sebuah ikatan 'pacaran'? Tapi bukankah cinta yang tulus itu adalah  tersenyum membiarkan  dia bersama orang lain yang ia cinta?
"Mau sampai kapan nunggu dia? Sampe nenek-nenek? Kalau gak diungkapkan gak akan dapet." Ujar vyola yang tengah membereskan notebooknya.
"Bisa dapet kok. Kalau dia cinta dia akan datang."
"Lalu kamu tau kapan dia akan datang? Keburu dipatok orang lain. Lalu siapa lagi yang akan akan kamu sakiti karena dijadikan pelarian?". Aku merasa dihakimi. Sial.
"Tapi masa aku yang mengungkap kan?"
"Memangnya salah jika perempuan yang mengungkapkan? Lagian itu bukan bermaksud apa-apa. Kamu hanya ingin mengeluarkan semua perasaan kamu. Demi kamu juga kan? Lagian kamu kan pernah bilang, 'yang penting dia tau perasaan aku, walaupun nanti yang dia pilih bukan aku, gapapa. Yang penting aku lega udah bilang ke dia.' Nah sekarang tunggu apa lagi?" Vyola semakin meyakinkanku.
"Haaaaa Vyooo.. Tapi bagaimana dengan Sheryl? diakan sahabat aku?"
"Sheryl masalalunya Syahm? Dia sudah menyia-nyiakan Syahm bukan?" Tanya Vyola dengan tatapan tajam.
"Tapi dia sahabat aku!" Nada suaraku meninggi.
"Aku juga sahabat kamu kan? Kalau aku jadi Sheryl, aku akan dukung kamu, tak peduli itu masalaluku atau bukan. Jika itu membuat kamu bahagia kenapa tidak? Percayalah, semua akan baik-baik saja."
Aku hanya diam mendengar kata-kata Vyola. Apakah benar aku harus mengatakanya? Sementara jika aku hanya diam seperti ini, akan membuat hatiku semakin mati. Aku tak bisa membuka hati untuk dia dia dia yang mencintaiku. Karena hatiku sudah ku kunci hanya untuk Syahm.

***
Bel tanda pulang sekolahpun berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Aku berdiri didepan kelasku sambil menunggu Vyola yang masih piket. Ku sandarkan tubuhku ditiang koridor sambil mengamati orang-orang  yang lalu-lalang. Tapi tiba-tiba mataku tertuju pada seorang pria dengan tas merah dipunggungnya tengah berbicara dengan salah seorang guru. Mataku tak henti memandangnya. Walaupun jantungku menggebu dan berdegup tak menentu, mataku tak mau lepas darinya.
"Kia!" Aku terlonjak.
Ya Tuhan. Syahm memanggilku. Jantungku semakin berdegup tak menentu. Ku lihat Syahm menghampiriku. Dia semkin dekat, dekat, dan kini dia ada di hadapanku. Oh Tuhan, semoga ia tak menyadari getaran tubuhku, semoga ia tak melihat keringat ditengkuk ku.
"Aku panggil dari tadi juga." Syahm menggerutu.
Ah sedari tadi dia memanggilku? Apakah tadi dia melihat aku sedang memandangnya? Apakah tadi dia melihat aku mengamati setiap gerakannya? Apakah dia merekam senyumku yang mengembang ketika memperhatikannya? Aku tak tahu.

"Oh maaf." Aku tertunduk menutupi kegugupanku.
"Aris mana?"
"Tadi dia sudah pulang." Jawabku singkat.
"Oh yasudah makasih." Syahm tersenyum lalu berlalu meninggalkanku.
Bodoh sekali, mengapa aku tidak basa-basi agar dia tetap disini. Setidaknya bisa berbicara dengannya dengan jarak yang dekat untuk beberapa menit. Aku menyesal.

***
Aku mematut diri di hadapan cermin. Ku tatap mataku dalam-dalam, meyakinkan diri sendiri.
"Aku bisa. Aku berani. Aku bisa. Aku berani."
Perlahan aku tulis pesanku. Tangan ku bergetar, keningku mulai dipenuhi dengan air dingin. Vyola mentertawakanku disudut kasur.
"Vyolaaaaaa udah ke kiriiimmmmm. Ini gimana? Harus gimana? Aaaa aku patahin aja kali ya kartunya? Buang ajaaaaaa kartunya."
"Eh biasa aja.. Kalem, kalem.. tinggal kita tunggu balasannya."
Aku dan Vyola duduk diatas kasur sambil menatap handphone dihadapan kami. Kami menunggu jawabannya. Tak berapa lama, handphone ku bergetar, sontak Vyola menjerit kegirangan. Sementara aku, aku tak berani melihat hanpdphoneku, aku tak berani melihat siapa pengirimnya, apalagi harus membaca isinya.
"Kia, ini dari dia, ayo baca." Vyo menyodorkan handphoneku
"Aku gak berani."
"Udah cepet baca."
Aku meraih handphoneku dari tangan Vyola. Perlahan ku buka dan ku baca pesan singkat itu.

Sender: Syahm
Jadian yuk?

Tuhan! Seketika kaki ku lemas, tubuh ku seperti melayang.
"Vyoooooo cubit aku cubit aku!"
"Aw" Aku menjerit
"Katanya dicubit." Vyola terkekeh.
"Ya gak sekeras itu!" Aku menggerutu.
"Udah terima aja."
"Apa secepat itu? Kamu yakin dia juga menyukaiku?"
"Ya! Tidak ada yang tidak mungkin. Lagian Kamu sama Syahm sudah kenal lama kan? Sudah bersahabat sejak lama kan?"
Aku hanya diam. Mencoba mencerna semua. Tuhan, apa yang telah aku lakukan?

***
" Cie pulang bareng.. PJ PJ.." Teman-teman ku mengejek ku.
"Apa si.." Aku tersipu.
"Longlast ya" Ujar mereka serempak.
Aku hanya tersenyum membalasnya, lalu aku segera berlalu menghampiri Syahm yang telah menungguku.
"Tunggu dulu ya." Ujar Syahm.
"Mau kemana?"
Dia tidak menjawab. Ia hanya terseyum dan akhirnya berlalu meninggalkanku di halte.
"Nih.. maaf lama ya?" Ia memberiku sebuah minuman teh dingin.
"Makasih ya." Aku tersenyum.
Tak berapa lama, mobil yang hendak kami tumpangi tiba. Syahm segera memasukinya dan aku mengikuti. Syam duduk dibangku dekat sopir dan aku duduk disampingnya.
"Tangan kamu dingin sekali." Ujar Syahm seraya menggenggam tanganku.
Aku terbelalak, ia menggenggam tanganku. Jantungku kembali menggebu.
"Oh gapapa, aku udah biasa." Jawabku kaku.
Ku kira ia akan melepaskannya, tapi ternyata ia semakin erat menggenggamnya. Tanganku bukan semakin hangat,  tapi semakin dingin. Semoga saja Syahm tidak menyadari kegugupanku.

***
"Vyo pulang yu." Aku merengek.
"Nanti dulu."
"Kia, jangan pulang dulu." Bella berteriak dari dalam kelas.
"Mau apa si? Udah siang."
Mereka tidak menjawab apa-apa.
Aku duduk dibangku taman sekolah dibawah pohon yang rindang. Aku lelah sekali, aku ingin segera pulang. Akhirnya aku putuskan untuk lembali ke kelas. Belum sempat ku langkahkan kaki menuju kelas, aku dikejutkan dengan teriakan teman-temanku. Aku menoleh ke arah suara itu.
"Happy birtday Kiaaaaaa!" Teriak mereka kompak. Kulihat Bella memegang sebuah cake ulangtahun yang cantik dengan lilin merah menyala diatasnya. Disampingnya ada Syahm yang tersenyum malu.
"Happy birth day Kia, Happy Birthday Kia, Happy birthday happy birthday happy birthday Kia." Bereka bernyanyi seirama.
Aku terkejut. Tapi sungguh, aku senang. Ternyata ini adalah rencana Syam, ini adalah kejutan ulang tahunku yang terindah dari Syahm.
"Makasih ya?" Aku menghampiri Syahm yang tengah memperhatikan teman-temanku yang tengah berebut cake.
"Iya sama-sama." Syahm terseyum.
Syam bangkit dari duduknya, ia mengambil sepotong cake lalu kembali.
"Kia.." Ia mendekatkan sepotong cake itu ke mulutku. Aku tersenyum malu.
"Enak gak?"
"Enak. Karna kamu yang nyuapin." Aku menyeringai.
"Nih satu lagi." Syam memberiku sebuah kotak dengan lertas merah jambu bermotif hati yang membungkusnya.
"Apa ini?" Tanyaku
"Udah deeeh."
"Sekali lagi makasih ya." aku tersenyum.
"Kena" Aku mengoleskan cream cake ke wajah Syam. Syam tertawa lalu mengejarku dan hendak membalasnya. Melihat pemandangan itu, teman-temanku ikut berpesta dengan mencoret-coret cream cake ke wajah. Alhasil kami semua pulang dengan wajah lengket penuh gula.

Sesampainya dirumah, aku segera membersihkan tubuhku. Aku lelah sekali hari ini. Tapi aku senang, hari ini aku mendapat kejutan. Kejutan paling indah.

Ku keringkan rambutku dengan handuk. Tiba-tiba aku teringat dengan kado dari Syahm. Aku mengambilnya dari tasku, perlahan aku membukanya. Ternyata tas dengan gambar menara eiffel. Syahm tau aku sangat menyukai Paris. Dulu, Syahm pernah bilang, suatu saat dia akan mengajakku kesana, ke Paris.

***
Waktu memang tak pernah berhenti untuk berdetik. Dimulai pada tanggal 8 Agustus 2011, hampir sudah satu setengah tahun aku bersamanya. Bersama Syahm. Banyak sekali memori indah yang telah terekam bersamanya. Aku akan menyimpannya dan takkan pernah menghapusnya. Tapi ada satu hal yang selalu menghantui ku. Selalu membuatku ragu.
"Kamu boleh sahabatan sama dia. Tapi engga untuk pacaran, dia saudaramu." Kata-kata mamah itu yang selalu membayangiku. Membentur otakku dan membuat sesak hatiku. Apa yang harus aku lakukan? Jika harus ku korbankan hubunganku hanya karena alasan 'saudara', sungguh aku tak mau. Aku tak rela.

Sepulang sekolah, Syahm menemuiku dikelasku. Aku menceritakan semua padanya. Ia tak berkata apa-apa. Kulihat kebimbangan dari binar matanya. Ia terlihat dilema.
"Lalu bagaimana?" Nada suaranya merendah.
Aku hanya menggelengkan kepala dengan pipi penuh dengan air mata.
"Kalau kita tetap berjalan dibelakang tanpa restu orang tua, aku takut." Ujar Syahm.
"Lalu bagaimana?"
Syahm menghela nafas panjang. Ia menatapku, sementara aku, aku sama sekali tak berani menatap matanya.

***
Ku peluk erat boneka itu. Boneka Donal bebek lucu pemberian Syahm. Setiap aku merindukkannya, aku selalu memeluk boneka itu, ku tumpahkan semua rinduku pada Syahm lewat boneka itu. Air mataku tak bisa kubendung, ia mengalir dipipi tanpa henti. Menangisi seseorang yang kini tak bersamaku lagi. Satu minggu lalu,   aku memutuskan untuk menghakhiri hubungan ini. Sebenarnya aku tak ingin melakukan semua ini. Aku tak ingin ini terjadi. Tapi harus bagaimana lagi? Aku benci semuanya! Kenapa harus ada kata 'Saudara'? Kenapa harus hubungan ku dengannya yang dijadikan korbannya? Ingin sekali aku menentangnya. Aku ingin protes. Tapi bagai berbicara dengan dewa, aku tak mungkin menang. Walaupun hubungan ini berakhir, cinta ini tidak akan pernah berakhir. Hati ini akan tetap untuk mu Syahm. Aku akan tetap disini. Disini menunggumu untuk kembali. Kembali bersamaku lagi.

***
"Tante dokter cantik banget." Ujar seorang anak manis berkepang dua.
"Iya.. makasih ya Via. Via juga cantik. Persis mama kamu" Ujarku seraya mencubit pipi Via.
"Selamat ya Kia.." Ujar Vyola. Ia memelukku haru.
"Selamat ya buat kalian berdua." Ujar Ade.
"Iya makasih ya De." Aku dan Syahm terseyum.
"Papah, mama. Aku mau foto sama tante dokter sama Om Angrybirds." Via bergelayut ditangan ayahnya sambil memohon-mohon agar Vyola dan Ade memfotonya denganku dan Syahm. Lalu Vyola mengeluarkan kamera dan menyerahkannya kepada ade.
"3, 2, 1" Ade menghitung mundur dan akhirnya satu gambar berhasil di ambil.
"Om.. Om.. nanti kalau main ke rumah Via, main Angrybirds lagi ya sama Via?" Via menarik manja tangan Syahm.
"Iya cantik." Syahm tersenyum sambil mengelus lembut rambut gadis cilik itu.
"Mentang-mentang ahli IT, ke anak kecil udah ngajarin PC. Maen game pula." Ujarku sambil menyenggol lengan Syahm.
"Gapapa, buat melatih kemampuan otak tau." Syahm membela diri.
"Tapi radiasi dari PC akan merusak mata."
"Mentang-mentang dokter. Ngomonginnya kesehatan melulu." Syahm menyunggingkan bibirnya. Aku dan Vyola tertawa mendengar jawaban Syahm.
"Eh itu ada Ola." Vyola menunjuk ke arah seorang wanita berkacamata dengan terusan simple yang menawan.
"Olaaaa.." Aku menyambut kedatangan Ola.
"Waaah kamu cantik sekali. Apalagi disampingnya udah ada pangeran dambaannya." Ola menggodaku.
"Ih olaaa." Aku mencubitnya.
"Selamet ya Kia, Selamet ya Syahm." Ola memeluk aku dan Syahm bergantian.
"Weehh selamat ya broh." Ujar Aris, suami Ola kepada Syahm. Mereka saling merengkuh dengan gaya seorang pria pada umumnya.
"Selamat ya Kia." Ujar Aris.
"Iya Ris makasih ya." Ujarku seraya menjabat tangan Aris.
Tak lama setelah kedatangan Ola. Rina dan Bella datang bersamaan. Mereka telah membawa pangeran berkuda putihnya masing-masing. Aku sangat bahagia. Kini aku bisa melepas rindu bersama. Melepas rindu bersama mereka, kawan lama. Juga melepas rindu dengan dia, yang ku damba.

Aku berjalan menuju dermaga, dengan balutan kebaya putih anggun yang panjang dan rangkaian mawar putih ditanganku. Ku tatap langit senja. Indah.
"Aku cinta kamu." Ujar Syahm seraya melingkarkan tangannya dipinggangku.
"Aku juga." Aku berbisik ditelinganya.
Kutatap foto digapura masuk dermaga itu. Foto sepasang cucu adam yang saling mencinta. Dengan kebaya putih yang membalut cantik tubuh sang putri dan jas putih yang menempel gagah pada pangerannya. "Aidan Syahm and Adzkia Samha Saufa's Wedding" nama itu tertulis rapih pada foto aku dan Syahm. Sungguh kebahagiaan ini tiada duanya. Setelah bertahun-tahun terkatung-katung dalam dimensi ketidak pastian. Akhirnya aku menemukan ujung sebuah penantian. Kini kepada Syahmlah aku berlabuh. Mengabdi menjadi seorang istri, dan Syahmlah yang akan menuntunku menuju surga nanti.
Syahm mencium keningkku. Aku memeluknya. Orangtua ku dan orang tua Syham memandang ke arah kami. Mereka tersenyum.