“Itu
milikku Nukeu.” Rio merampas mainan milikku. “Enak saja, ini milikku. Kemarin
ayahku yang belikan. Kamu kan sudah punya, kenapa masih saja merampas milik
ku!” Terkadang aku jengkel dengan kelakuan Rio yang selalu saja merebut
barang-barang milikku. Hampir setiap hari aku selalu bertengkar dengannya,
walau karena hal sepele. Tak pernah satu hari kami tidak bertengkar.
“Nukeu
Nasutiooooon.” Tiba-tiba Rio melempar sebuah cake ke kepalaku dari lantai dua.
“Rioooooooo!!”
Aku langsung mengejar Rio.
“Coba
kejar kalau kamu bisa.” Rio menjulurkan lidahnya. Aku semakin geram padanya.
Aku terus mengejar RIo. Hingga akhirnya,
ketika kami sedang berkejaran di tepi kolam renang, Rio terpeleset dan jatuh ke
kolam. Beruntung dia jatuh kekolam yang dangkal. “hahahahahhahahaha sukurin.
Mangkanya jangan Jahil !” aku tertawa puas. Rio memanyunkan bibirnya dan
berenang ketepi.
Kejadian
semasa Taman kanak-kanak itu tak pernah aku lupakan. Rio adalah teman kecilku.
Aku tak pernah lupa dengan masa-masa ketika bersamanya. Ketika rambutku masih
berkepang dua dan Rio selalu memainkannya. Ketika Rio selalu memanggilku
ompong. Ketika Rio menumpahkan ice creamku. Ketika aku dan Rio berebut mainan.
Bahkan ketika Rio tak pernah berhenti menjahillku sewaktu SMP dan SMA dulu.
Kejadian-kejadian itu masih terekam baik di otakku.
Mengingat
semua hal itu tak terasa air mataku mengalir. Sepertinya aku benar-benar
merindukan Rio. Tapi aku tidak mungkin bertemu dengannnya. Aku hanya dapat
melepaskan kerinduanku pada patahan robot milik Rio sewaktu kecil yang pernah
aku rusak. Karena benda itulah satu-satunya kenangan ketika bersama Rio. Kini aku berada sangat jauh dari Rio. ketika
aku duduk dibangku SMA, orangtuaku pindah ke Sidney karena perusahaan papah
akan mengadakan kerjasama dengan perusahaan di Sidney, dan mau tidak mau akupun
harus ikut dengan mereka. Namun, ketika aku akan berangkat ke Sidney, aku belum
sempat memberitahu Rio, karena ketika aku
pergi kerumahnya dan hendak memberi tahu, Rio sedang tidak ada dirumah. Sejak
saat itulah aku benar-benar tidak pernah bertemu lagi dengan Rio. Terkadang aku
ingin kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Rio, tapi itu suatu hal yang
tidak mungkin. Karena aku tidak bisa meninggalkan kuliah ku disini. Dan
kalaupun aku pergi, dimana aku bisa menemukan Rio? apakah dia masih ditempat
yang sama ketika 17 tahun yang lalu?
***
Pagi
ini aku harus datang ke kampus lebih awal, karena aku harus mempersiapkan untuk
penelitian tentang anatomi manusia yang akan dilaksanakan hari ini. Ini adalah
praktikum terakhirku, karena ini adalah smester trakhirku. Sebentar lagi aku
akan mengabdi di masyarakat sebagai dokter.
“pagi
pah, mah” sapa ku kepada papa dan mamah.
“pagi
sayang.” Balas mamah dan papah bersamaan.
“aku
berangkat ya mah, pah.” Aku berlari menuju garasi dengan mulut penuh dengan
roti.
“anak
itu, selalu saja begitu.” Gerutu mama.
***
Aku
lelah sekali, setelah saharian penuh aku melakukan praktikum. Aku membaringkan
tubuhku di sofa ruang keluarga. Ku coba memejamkan mataku sambil menikmati
alunan music dari handphoneku.
“Nukeu.”
Suara mama mengejutkanku.
“iya
ma. Kenapa?” jawabku.
“setelah
kamu lulus kuliah, kita akan kembali ke Indonesia.” Ujar mama sambil tersenyum.
“hah?”
aku terbelalak mendengarnya.
“iya.
Kita akan pindah lagi ke Indonesia. Karena perusahaan papah di Indonesia sedang
mengalami krisis, oleh karena itu. Papah harus turun tangan dalam
menanganinya.” Jelas mama kepadaku.
“kita
gak akan pindah-pindah lagi kan?” tanyaku kepada mama.
“kemungkinan
seperti itu.” Mama tersenyum “papah sudah memutuskan, papah yang akan memegang
perusahaan di Indonesia, sedangkan perusahaan yang disini papah percayakan
kepada Om kamu. Dan ketika di Indonesia nanti, kamu sudah bisa bekerja di salah
satu rumasakit di Jakarta Barat, ” Mama
melanjutkan penjelasannya.
“rumasakit
milik bibi ma?” aku bertanya kepada mama. Mama hanya mengangguk membalas
pertanyaanku.
Aku
sangat senang mendengarnya. Aku akan segera kembali ke Indonesia. Dan berharap
bertemu dengannya.
***
Semua
mahasiswa sudah berkumpul di aula kampus ditemani dengan kedua orang tuanya.
Begitupun dengan aku, aku sudah berkumpul bersama mahasiswa lain ditemani mama
yang begitu cantik dan papa dengan menggunakan jas begitu gagahnya. Ini adalah
waktu yang ku tunggu-tunggu. Waktu dimana aku mengenakan toga dan resmi menjadi
seorang dokter seperti yang aku cita-citakan. Aku lulus dan mendapat gelar
dokter di Sidney University dengan nilai yang membuat mama dan papa bangga. Aku
lulus dengan gelar cumloud.
Seperti
yang mama katakan, setelah lulus kuliah aku dan keluargaku akan kembali ke
Indonesia. Tepat setelah acara di kampusku selesai, aku dan orangtuaku segera
terbang ke Indonesia.
***
Aku
sangat bahagia karena bisa meninjakan kaki lagi di nusantara. Aku kembali ke
Jakarta. Jakarta yang macet. Jakarta yang tak pernah lepas dari banjir. Tapi
aku merindukan hal itu, aku merindukan berlama-lama dimobil karena macet. Aku
merinndukan ketika membersihkan lumpur yang masuk kedalam rumah karena banjir.
Konyol memang, tapi aku merindukannya.
Akhirnya
aku sampai dirumahku, tidak ada yang berbeda. Hanya ada sedikit renovasi pada
halaman belakang saja. Aku segera menuju kamarku. Ku lempar koperku dan ku
jatuhkan tubuhku pada tempat tidur. Aku memandangi sekeliling kamarku, aku
kembali ingat pada Rio. dan aku, menangis lagi. Aku ingin sekali bertemu
dengannya. Tapi dimana?
“Ah
mungkin dia juga sudah lupa denganku” aku mengusap air mataku kasar.
Aku
segera tidur. Karena esok aku sudah mulai bekerja.
***
Pagi
ini aku sudah siap dengan span pendek dipadukan dengan kemeja abu-abu simple
yang di timpa dengan jas putih dengan stetoscop dikantongnya. Aku berjalan
menyusuri koridor rumasakit menuju ruangan bibiku. dr. Riyana pemilik rumasakit
ini.
“Pagi
bi” sapaku kepada bibi yang sedang sibuk dengan kertas-kertas dihadapannya.
“eh,
ya ampun Nukeu, kamu cantik sekali. Bagaimana kabarmu nak?”
Aku
berbincang-bincang cukup lama dengan bibi. Namun percakapan kami terpotong
karena bibi mendapat telfon bahwa ada pasien yang kritis. Bibi lalu menyuruhku
untuk menangani pasien itu.
“Nukeu,
kamu yang tangani ya?”
Aku
mengangguk mantap.
Lalu
aku segera menolong pasien itu dengan dibantu oleh beberapa dokter yang lain.
Ternyata cukup parah penyakit yang diderita pasien itu, ia menderita tumor otak
stadium akhir.
Setelah
menangani Pasien itu, aku menangani pasien-pasien yang lain.
***
Sudah
enam bulan aku berada di Indonesia. Aku masih merindukan Rio. Tapi aku tidak
kunjung menemukan informasi tentang Rio. Aku sering mencarinya di social media.
Tapi nihil. Aku juga sempat mencari ke rumah yang dulu ia tinggal, tapi
sia-sia. Ia sudah pindah sejak lama.
Hari
ini aku diamanatkan oleh bibi Riyana untuk menghadiri rapat Persatuan Dokter
Seluruh Indonesia di pulau dewata. Aku menyanggupinya, sekaligus aku ingin
berlibur kesana.
Sesampainya
disana, aku segera menuju hotel yang telah aku pesan sebelumnya. Aku ingin
segera beristirahat.
“Ini
kunci kamarnya bu.” Ujar resepsionis hotel itu seraya menyerahkan kunci
kamarku.
“Mba,
kunci kamar saya mana?” seorang pria tampan dan gagah datang meminta kunci
kamarnya. Entah mengapa aku terkesima melihatnya.
“ah.
Nukeu, ngeliat bule cakep di Sidney biasa aja, kenapa ngeliat dia terkesima.”
Gerutuku dalam hati. Aku segera menuju kamarku, terlihat dari kejauhan pria itu
menatapku. Seketika pipiku merah.
Aku
masih sangat terbayang wajah pria itu, aku tidak mengenalnya tetapi wajah itu
seakan tak asing lagi untukku. Seolah aku sudah lama mengenalnya dan sering
berjumpa dengannya.
***
Rapatpun
selesai. Ternyata pria yang aku temui di resepsionis hotel itu adalah seorang
dokter juga, ketika rapat, aku duduk berdamppingan dengannya. Dia benar-benar
membuatku terkesima.
Aku segera kembali ke hotel dan berganti
pakaian. Aku ingin menikmati indahnya pulau Dewata.
Aku
menghabiskan waktuku untuk berjalan-jalan dipantai dan berwisata kuliner
disekitarnya. Terik mata hari yang membakar kulitku tak ku hiraukan. Aku
seperti menemukan duniaku kembali. Tak terasa matahari telah kembali ke
peraduannya. Aku duduk dan meluruskan kakiku diatas lembutnya pasir pantai
sambil melihat matahari yang bersembunyi dibalik hamparan laut yang tiada
bertepi.
Aku rindu kamu.
Dimana aku akan menemukanmu?.
Ku tulis kata itu di atas pasir putih yang terhampar luas di sekelilingku.
“aku
juga sedang merindukan seseorang.” Tiba-tiba terdengar suara seorang pria
dibelakangku. Aku menoleh untuk memastikan siapa pria itu. Dan aku terkejut,
ternyata dia adalah pria yang aku temui di resepsionis hotel itu.
“aku
merindukan seseorang yang sangat aku sayang, sudah 17 tahun aku tidak bertemu
dengannya. Aku mencintainya, tapi belum sempat aku mengungkapkannya. Dia sudah
pergi meninggalkanku.” Pria itu lanjut bercerita. Aku hanya senyum dan
menganggukan kepala.
“Dia…
?” Aku memberanikan untuk bertanya. Tetapi belum sempat aku melanjutkan
pertanyaanku, pria itu memotongnya.
“Dia
teman kecilku. Aku sudah berteman dengannya sejak taman kanak-kanak. Tetapi
ketika duduk dibangku SMA, dia pindah. Dan setelah itu aku tak pernah bertemu
lagi dengannya.”
Aku
tercengang mendengar pengakuan pria itu. Mengapa semuanya sama? Atau
mungkin……….
Ketika
aku sedang terbang bersama khayalanku. Tiba-tiba pria itu menggenggam tanganku.
“Nukeu,
aku rindu kamu, aku sayang kamu.” Ujar pria itu.
“Hah?”
aku terkejut mendengarnya.
“kamu
ingat ini?” pria itu menunjukan sebuah benda yang tak asing lagi bagiku.
Patahan tubuh robot yang telah rusak. Tanpa disadari, air mataku mengalir.
“Rioo.” Aku berkata dengan suara
lirih. Rio benar-benar sangat berbeda, dia lebih terlihat dewasa
“Iya,
ini aku. Nukeu aku rindu kamu, dan selama ini aku selalu
menunggu kamu kembali ke Indonesia. Aku ingin mengatakan semuanya, aku ingin
mengatakan perasaanku yang tertunda. Nukeu aku sayang kamu. Aku ingin
memilikimu” Ujar Rio seraya mengapus air mataku.
“Rio,
aku rindu kamu.. dan aku… aku juga menyayangimu.” Ujarku masih dengan air mata
yang tak henti mengalir. Rio menggenggam tanganku erat.
“Aku
ingin hubungan kita berakhir bahagia. Terpisah bukan karena orang ketiga atau
terpisah karena kita berbeda, tapi karena waktu dimana aku tak bisa lagi
bernafas dan berdiri untukmu.” Genggaman tangan rio semakin erat. Air mataku
semakin deras mengalir.
“Aku
menemukanmu lagi.” Aku berkata dengan air mata bahagia. Tuhan, terimakasih
untuk semuanya.



