Selasa, 25 Maret 2014

Kutemukan Kau di Pulau Dewata




“Itu milikku Nukeu.” Rio merampas mainan milikku. “Enak saja, ini milikku. Kemarin ayahku yang belikan. Kamu kan sudah punya, kenapa masih saja merampas milik ku!” Terkadang aku jengkel dengan kelakuan Rio yang selalu saja merebut barang-barang milikku. Hampir setiap hari aku selalu bertengkar dengannya, walau karena hal sepele. Tak pernah satu hari kami tidak bertengkar.  
“Nukeu Nasutiooooon.” Tiba-tiba Rio melempar sebuah cake ke kepalaku dari lantai  dua.
“Rioooooooo!!” Aku langsung mengejar Rio.
“Coba kejar kalau kamu bisa.” Rio menjulurkan lidahnya. Aku semakin geram padanya. Aku terus mengejar  RIo. Hingga akhirnya, ketika kami sedang berkejaran di tepi kolam renang, Rio terpeleset dan jatuh ke kolam. Beruntung dia jatuh kekolam yang dangkal. “hahahahahhahahaha sukurin. Mangkanya jangan Jahil !” aku tertawa puas. Rio memanyunkan bibirnya dan berenang ketepi.
Kejadian semasa Taman kanak-kanak itu tak pernah aku lupakan. Rio adalah teman kecilku. Aku tak pernah lupa dengan masa-masa ketika bersamanya. Ketika rambutku masih berkepang dua dan Rio selalu memainkannya. Ketika Rio selalu memanggilku ompong. Ketika Rio menumpahkan ice creamku. Ketika aku dan Rio berebut mainan. Bahkan ketika Rio tak pernah berhenti menjahillku sewaktu SMP dan SMA dulu. Kejadian-kejadian itu masih terekam baik di otakku.  
Mengingat semua hal itu tak terasa air mataku mengalir. Sepertinya aku benar-benar merindukan Rio. Tapi aku tidak mungkin bertemu dengannnya. Aku hanya dapat melepaskan kerinduanku pada patahan robot milik Rio sewaktu kecil yang pernah aku rusak. Karena benda itulah satu-satunya kenangan ketika bersama Rio.  Kini aku berada sangat jauh dari Rio. ketika aku duduk dibangku SMA, orangtuaku pindah ke Sidney karena perusahaan papah akan mengadakan kerjasama dengan perusahaan di Sidney, dan mau tidak mau akupun harus ikut dengan mereka. Namun, ketika aku akan berangkat ke Sidney, aku belum sempat memberitahu Rio, karena ketika aku  pergi kerumahnya dan hendak memberi tahu, Rio sedang tidak ada dirumah. Sejak saat itulah aku benar-benar tidak pernah bertemu lagi dengan Rio. Terkadang aku ingin kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Rio, tapi itu suatu hal yang tidak mungkin. Karena aku tidak bisa meninggalkan kuliah ku disini. Dan kalaupun aku pergi, dimana aku bisa menemukan Rio? apakah dia masih ditempat yang sama ketika 17  tahun yang lalu?
***
Pagi ini aku harus datang ke kampus lebih awal, karena aku harus mempersiapkan untuk penelitian tentang anatomi manusia yang akan dilaksanakan hari ini. Ini adalah praktikum terakhirku, karena ini adalah smester trakhirku. Sebentar lagi aku akan mengabdi di masyarakat sebagai dokter.
“pagi pah, mah” sapa ku kepada papa dan mamah.
“pagi sayang.” Balas mamah dan papah bersamaan.
“aku berangkat ya mah, pah.” Aku berlari menuju garasi dengan mulut penuh dengan roti.
“anak itu, selalu saja begitu.” Gerutu mama.

***
Aku lelah sekali, setelah saharian penuh aku melakukan praktikum. Aku membaringkan tubuhku di sofa ruang keluarga. Ku coba memejamkan mataku sambil menikmati alunan music dari handphoneku.
“Nukeu.” Suara mama mengejutkanku.
“iya ma. Kenapa?” jawabku.
“setelah kamu lulus kuliah, kita akan kembali ke Indonesia.” Ujar mama sambil tersenyum.
“hah?” aku terbelalak mendengarnya.
“iya. Kita akan pindah lagi ke Indonesia. Karena perusahaan papah di Indonesia sedang mengalami krisis, oleh karena itu. Papah harus turun tangan dalam menanganinya.” Jelas mama kepadaku.
“kita gak akan pindah-pindah lagi kan?” tanyaku kepada mama.
“kemungkinan seperti itu.” Mama tersenyum “papah sudah memutuskan, papah yang akan memegang perusahaan di Indonesia, sedangkan perusahaan yang disini papah percayakan kepada Om kamu. Dan ketika di Indonesia nanti, kamu sudah bisa bekerja di salah satu rumasakit di Jakarta Barat,  ” Mama melanjutkan penjelasannya.
“rumasakit milik bibi ma?” aku bertanya kepada mama. Mama hanya mengangguk membalas pertanyaanku.
Aku sangat senang mendengarnya. Aku akan segera kembali ke Indonesia. Dan berharap bertemu dengannya.

***
Semua mahasiswa sudah berkumpul di aula kampus ditemani dengan kedua orang tuanya. Begitupun dengan aku, aku sudah berkumpul bersama mahasiswa lain ditemani mama yang begitu cantik dan papa dengan menggunakan jas begitu gagahnya. Ini adalah waktu yang ku tunggu-tunggu. Waktu dimana aku mengenakan toga dan resmi menjadi seorang dokter seperti yang aku cita-citakan. Aku lulus dan mendapat gelar dokter di Sidney University dengan nilai yang membuat mama dan papa bangga. Aku lulus dengan gelar cumloud.
Seperti yang mama katakan, setelah lulus kuliah aku dan keluargaku akan kembali ke Indonesia. Tepat setelah acara di kampusku selesai, aku dan orangtuaku segera terbang ke Indonesia.
***
Aku sangat bahagia karena bisa meninjakan kaki lagi di nusantara. Aku kembali ke Jakarta. Jakarta yang macet. Jakarta yang tak pernah lepas dari banjir. Tapi aku merindukan hal itu, aku merindukan berlama-lama dimobil karena macet. Aku merinndukan ketika membersihkan lumpur yang masuk kedalam rumah karena banjir. Konyol memang, tapi aku merindukannya.
Akhirnya aku sampai dirumahku, tidak ada yang berbeda. Hanya ada sedikit renovasi pada halaman belakang saja. Aku segera menuju kamarku. Ku lempar koperku dan ku jatuhkan tubuhku pada tempat tidur. Aku memandangi sekeliling kamarku, aku kembali ingat pada Rio. dan aku, menangis lagi. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi dimana?
“Ah mungkin dia juga sudah lupa denganku” aku mengusap air mataku kasar.
Aku segera tidur. Karena esok aku sudah mulai bekerja.
***
Pagi ini aku sudah siap dengan span pendek dipadukan dengan kemeja abu-abu simple yang di timpa dengan jas putih dengan stetoscop dikantongnya. Aku berjalan menyusuri koridor rumasakit menuju ruangan bibiku. dr. Riyana pemilik rumasakit ini.
“Pagi bi” sapaku kepada bibi yang sedang sibuk dengan kertas-kertas dihadapannya.
“eh, ya ampun Nukeu, kamu cantik sekali. Bagaimana kabarmu nak?”
Aku berbincang-bincang cukup lama dengan bibi. Namun percakapan kami terpotong karena bibi mendapat telfon bahwa ada pasien yang kritis. Bibi lalu menyuruhku untuk menangani pasien itu.
“Nukeu, kamu yang tangani ya?”
Aku mengangguk mantap.
Lalu aku segera menolong pasien itu dengan dibantu oleh beberapa dokter yang lain. Ternyata cukup parah penyakit yang diderita pasien itu, ia menderita tumor otak stadium akhir.
Setelah menangani Pasien itu, aku menangani pasien-pasien yang lain.
***
Sudah enam bulan aku berada di Indonesia. Aku masih merindukan Rio. Tapi aku tidak kunjung menemukan informasi tentang Rio. Aku sering mencarinya di social media. Tapi nihil. Aku juga sempat mencari ke rumah yang dulu ia tinggal, tapi sia-sia. Ia sudah pindah sejak lama.
Hari ini aku diamanatkan oleh bibi Riyana untuk menghadiri rapat Persatuan Dokter Seluruh Indonesia di pulau dewata. Aku menyanggupinya, sekaligus aku ingin berlibur kesana.
Sesampainya disana, aku segera menuju hotel yang telah aku pesan sebelumnya. Aku ingin segera beristirahat.
“Ini kunci kamarnya bu.” Ujar resepsionis hotel itu seraya menyerahkan kunci kamarku.
“Mba, kunci kamar saya mana?” seorang pria tampan dan gagah datang meminta kunci kamarnya. Entah mengapa aku terkesima melihatnya.
“ah. Nukeu, ngeliat bule cakep di Sidney biasa aja, kenapa ngeliat dia terkesima.” Gerutuku dalam hati. Aku segera menuju kamarku, terlihat dari kejauhan pria itu menatapku. Seketika pipiku merah.
Aku masih sangat terbayang wajah pria itu, aku tidak mengenalnya tetapi wajah itu seakan tak asing lagi untukku. Seolah aku sudah lama mengenalnya dan sering berjumpa dengannya.
***
Rapatpun selesai. Ternyata pria yang aku temui di resepsionis hotel itu adalah seorang dokter juga, ketika rapat, aku duduk berdamppingan dengannya. Dia benar-benar membuatku terkesima.
 Aku segera kembali ke hotel dan berganti pakaian. Aku ingin menikmati indahnya pulau Dewata.
Aku menghabiskan waktuku untuk berjalan-jalan dipantai dan berwisata kuliner disekitarnya. Terik mata hari yang membakar kulitku tak ku hiraukan. Aku seperti menemukan duniaku kembali. Tak terasa matahari telah kembali ke peraduannya. Aku duduk dan meluruskan kakiku diatas lembutnya pasir pantai sambil melihat matahari yang bersembunyi dibalik hamparan laut yang tiada bertepi.
Aku rindu kamu. Dimana aku akan menemukanmu?. Ku tulis kata itu di atas pasir putih yang terhampar luas di sekelilingku.
“aku juga sedang merindukan seseorang.” Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dibelakangku. Aku menoleh untuk memastikan siapa pria itu. Dan aku terkejut, ternyata dia adalah pria yang aku temui di resepsionis hotel itu.
“aku merindukan seseorang yang sangat aku sayang, sudah 17 tahun aku tidak bertemu dengannya. Aku mencintainya, tapi belum sempat aku mengungkapkannya. Dia sudah pergi meninggalkanku.” Pria itu lanjut bercerita. Aku hanya senyum dan menganggukan kepala.
“Dia… ?” Aku memberanikan untuk bertanya. Tetapi belum sempat aku melanjutkan pertanyaanku, pria itu memotongnya.
“Dia teman kecilku. Aku sudah berteman dengannya sejak taman kanak-kanak. Tetapi ketika duduk dibangku SMA, dia pindah. Dan setelah itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya.”
Aku tercengang mendengar pengakuan pria itu. Mengapa semuanya sama? Atau mungkin……….
Ketika aku sedang terbang bersama khayalanku. Tiba-tiba pria itu menggenggam tanganku.
“Nukeu, aku rindu kamu, aku sayang kamu.” Ujar pria itu.
“Hah?” aku terkejut mendengarnya.
“kamu ingat ini?” pria itu menunjukan sebuah benda yang tak asing lagi bagiku. Patahan tubuh robot yang telah rusak. Tanpa disadari, air mataku mengalir.
“Rioo.” Aku berkata dengan suara lirih. Rio benar-benar sangat berbeda, dia lebih terlihat dewasa
“Iya, ini aku.  Nukeu  aku rindu kamu, dan selama ini aku selalu menunggu kamu kembali ke Indonesia. Aku ingin mengatakan semuanya, aku ingin mengatakan perasaanku yang tertunda. Nukeu aku sayang kamu. Aku ingin memilikimu” Ujar Rio seraya mengapus air mataku.
“Rio, aku rindu kamu.. dan aku… aku juga menyayangimu.” Ujarku masih dengan air mata yang tak henti mengalir. Rio menggenggam tanganku erat.
“Aku ingin hubungan kita berakhir bahagia. Terpisah bukan karena orang ketiga atau terpisah karena kita berbeda, tapi karena waktu dimana aku tak bisa lagi bernafas dan berdiri untukmu.” Genggaman tangan rio semakin erat. Air mataku semakin deras mengalir.
“Aku menemukanmu lagi.” Aku berkata dengan air mata bahagia. Tuhan, terimakasih untuk semuanya.  

Kamis, 20 Maret 2014

The Dream of Eiffel





Duduk di bangku SMA kelas 12 semester akhir itu banyak rasa. Salah satunya adalah rasa senang, senang karena tak lama lagi akan segera memcicipi bangku kuliah, apalagi jika bisa kuliah di perguruan tinggi yang selalu diimpikan. Tetapi, membosankan sekali jika setiap hari harus mengikuti pelajaran tambahan. Bagai mana tidak? Setiap hari aku selalu dihadapkan dengan soal-soal yang hampir membuat kepalaku pecah. Dari pukul tujuh pagi hingga pukul empat sore aku harus duduk dan bergelut dengan rumus-rumus dan materi bak gunung yang indahnya bukan main. Fisika,  kimia, biologi, matematik. Semua hal itu kini seolah menjadi makan sehari-hariku. “Kalau mau sukses, ya harus ada pengorbanannya, ya contohnya seperti sekarang ini, kamu harus mengorbankan waktu, tenaga dan fikiranmu demi masa depanmu, apa kamu mau tidak lulus ujian?”. Kata-kata horror itu langsung merasuk kedalam fikiranku. Aku mau lulus ujian! Aku mau kuliah ke universitas bonafied di luar negeri. “Daniel! Kalau ngomong difikir dulu dong! Masak tidak lulus ujian?!”. Cerocos ku kepada Daniel seraya menimpakan buku matematika yang tengah kami pelajari bersama. “Azzura Caroline Rusya, dengarkan aku ya? Kalau kamu mau lulus dengan nilai yang memuaskan dan kamu dapat kuliah di luar negeri, kamu harus belajar, sudah untung sekolah mengadakan belajar tambahan gratis, coba kamu manfaatkan! Jangan bisanya hanya malas-malasan saja!” Apa? Daniel bilang aku malas-malasan? Aku tidak terima! “Ngomong seenak jidat mu! Malas-malasan apa? Setiap hari aku belajar dengan sungguh-sungguh. Oke liat aja nanti, aku pasti bisa membuktikannya.” Aku membalas perkataan kekasihku yang bawel itu. “oke, kalau begitu.” Balas Daniel seraya menjulurkan lidahnya kepadaku. Kami lalu melanjutkan kembali berlajar matematika. Aku dan Daniel memiliki cita-cita yang berbeda. Pria yang berperawakan ideal dan berkacamata minus itu ingin menjadi seorang konsultan, Daniel sangat pintar, ia pernah mendapat medali emas OSN bidang Fisika tingkat nasional. sedangkan aku ingin menjadi seorang Arsitek. Karena aku hobi sekali menggambar dan membuat design-design Bangunan atau tata letak kota. Tetapi, aku dan Daniel ingin kuliah di Universitas yang sama walaupun berbeda jurusan. Entah mengapa, aku dan Danniel memilih Prancis sebagai Negara tujuan kami untuk menimba ilmu nanti. Disana kami ingin menunjukan prestasi kami dan membawa nama baik Indonesia.
***
Waktu memang tak pernah berhenti untuk berdetik. Tak terasa, hari ini adalah hari pertama ku melaksanakan ujian nasional yang menentukan masa depanku nanti. Diawali dengan meminta restu dan doa kepada mama dan papa, aku siap untuk menaklukan soal-soal yang di ujikan. Aku membaca setiap lembar soal dengan teliti dan menuliskan jawabannya pada selembar kertas jawaban dengan sangat hati-hati.
Aku berada dalam satu ruang test yang sama dengan Daniel. Ku lihat Daniel begitu sungguh-sungguh menggerjakan setiap soalnya. Aku bangga.
***
Satu minggu sudah aku melaksanakan Ujian Nasional. Aku merasa sangat lega.
“Huuh, aku lega. Akhirnya kita selesai melaksanakan Ujian Nasional ya sayang.” Ujar Daniel.
“Ehh sayang-sayang.” Godaku kepada Daniel.
“Memangnya salah kalau aku manggil kamu sayang?” Ujar Daniel dengan nada ketus.
“Eh, iya iya. Bercanda, jangan marah dong sayang.” Aku kembali menggoda Daniel sambil menarik hidungnya yang mancung.
“Zura, selama Ujian gak ada kendala kan? Kamu yakin kan bakal diterima di Universitas yang kita cita-citakan?” Tanya Daniel kepadaku.
“Tak ada kendala, aku mengerjakannya dengan mudah, ya itu berkat belajar kita, doakan saja semoga tak sia-sia.” Jawabku dengan senyum yang mengembang. Daniel hanya mencubit pipiku.
“Oh iya, kita kan belum menyerahkan berkas yang kemarin kepada Pak Sumitro.” Ujar Daniel tiba-tiba.
“Oh iya, aku lupa, ayok kita segera ke Pak Sumitro sebelum beliau pulang.” Aku dan Daniel segera mencari pak Sumitro.
Pak Sumitro adalah Guru yang membantu mendaftarkan murid-muridnya ke perguruan tinggi yang mereka inginkan. Termasuk Aku dan Danel. Aku dan Daniel dibantu oleh Pak Sumitro untuk daftar ke Paris University. Selain ke Paris University, aku dan Daniel juga mendaftarkan diri ke beberapa Universitas lain untuk mengantisipasi ketika kami tidak diterima di sana. Kami juga mendaftar di beberapa universitas di dalam negeri. Karena pada saat itu, tidak ada batasan untuk memilih universitas yang diinginkan.

***
Waktu yang ditunggu-tunggupun tiba. Semua anak berkumpul didepan papan pengumuman untuk melihat hasil Ujiannya sekaligus memastikan apakah dirinya diterima di perguruan tinggi yang ia inginkan atau tidak. Aku dan Daniel pun segera berlari mengampiri kerumunan anak-anak. Mata kami sibuk mencari nama Azzura Caroline Rusya dan Daniel Beheniq Ragya. Dan ya! Ini dia.
Nama Siswa
Nilai Ujian Nasional
Diterima di Univeritas
Azzura C. Rusya
58,90
Berlin University
Daniel B. Ragya
60,00
New York University

Aku terbelalak melihatnya. Entah aku harus bangga atau aku harus menangis. Aku hanya diam dan menatap Daniel kosong. Aku dapat meramalkan air muka Daniel. Ia terlihat dilema. 
“Ambil dan pergilah.” Ucapku kepada Daniel, air mata ku mengalir tanpa jeda. Entah apa sebabnya, mungkin karena aku bangga kepada Daniel, orang yang aku sayang berhasil mendapatkan nilai yang begitu sempurna. Atau mungkin aku menangis karena sebentar lagi Daniel akan meninggalkan aku. Atau mungkin aku menangis karena cita-cita ku bersama Daniel untuk kuliah bersama di Paris University pupus. Entahlah.
“Aku berjanji aku akan kembali padamu.” Ujar Daniel seraya memelukku.
“Tidak usah membuat janji jika kita tidak tau apakah kita bisa menepati. Serahkan semuanya kepada Illahi. Kita akan bertemu lagi jika Ia menghendaki.” Sebenarnya sangat perih untukku mengatakan itu.
“Zura, kenapa kamu berkata seperti itu?” Tanya Daniel.
“Daniel, aku sayang kamu, ingat ya, aku sayang kamu. Jadi kamu berhentilah bertanya seperti itu. Kekuatan cinta yang akan menjawab segalanya. Kamu pasti mengerti.”

***
08 Agustus 2013. Saat itulah aku benar-benar berpisah dengan Daniel. Daniel sudah terbang dengan pesawat tujuan New York, Amerika pukul 21.00 WIB. kakiku terasa sangat lemas ketika Daniel mencium keningku dan perlahan berjalan menjauh   dengan koper di tangannya. Aku takut Danielku tak kembali. Hhh sekali lagi, aku pasrahkan semuanya kepada Illahi. Aku hanya duduk di kursi tunggu airport bersama keluargaku dan keluarga Daniel yang belum pulang untuk menunggu keberangkatanku ke Berlin. Satu jam setelah pesawat Daniel meluncur, akhirnya Pesawat dengan nomor penerbangan GAO21 tujuan Berlinpun mendarat. Lalu aku berpamitan dengan keluargaku dan keluarga Daniel, air mataku kembali mengalir.
Daniel, apakah kita dapat bertegur sapa? Walau kita terpisah oleh benua yang berbeda?

***
Kulihat Calenderku yang berdiri di atas meja riasku. Terlihat sebuah angka yang dilingkari pada calendar itu, 08 Agustus 2013. Tapi kini 08 Agustus 2018. Sudah lima tahun lalu hal itu terjadi. Aku tak pernah melupakan tanggal bersejarah itu, tanggal ketika aku dan Daniel terbang menuju benua yang berbeda. Hingga saat ini aku tak pernah lupa, ketika Daniel mencium keningku dan perlahan menjauh dari pandangan mataku. Aku ingat semua memori itu.
“haaaah indahnya.” Ku buka jendela kamar apartemenku agar udara pagi masuk kedalam. Ku pandangi pemandangan sekitar yang begitu indah. Termasuk menara Eifel yang berdiri kokoh tepat di depan jendela apartemenku. Ya, menera Eifel. Sekarang aku ada di Paris, Prancis. Sudah 1 tahun aku tinggal disini. Setelah lulus kuliah pada tahun 2017, aku ditarik oleh sebuah perusahaan besar Prancis, dan akhirnya aku bermigrasi dan tinggal disini. Ditempat yang dulu aku cita-citakan bersama Daniel, Prancis.
Ketika aku sedang menikmati segarnya udara pagi dan melihat indahnya pemandangan, tiba-tiba seorang pria mengampiriku lalu melingkarkan tangannya dipinggangku.
“Selamat pagi sayang.” Sambutnya
“Selamat pagi juga sayang.” Aku membalas ucapannya. “kok sudah bangun?” aku lanjut bertanya.
Ia tak menjawab apa-apa. Ia hanya tersenyum dan memberikan kecupan di keningku.   kecupan yang tak ada bedanya ketika di airport dulu. Ya, kecupan seorang Daniel.
Kini aku sudah menikah dengannya. Setelah aku dan Daniel lulus kuliah, tak kuduga kami ditarik oleh perusahaan yang sama di Prancis. Awalnya aku tak percaya, aku takut ini hanya ilusiku saja. Tapi ternyata tidak. Ini adalah nyata, ini adalah realita.
Tuhan memang Maha Adil, Ia telah merencanakan rencana yang lebih indah dari apa yang kita kira. Tuhan telah benar-benar mengatur segalanya dengan bijaksana. Aku benar-benar bersyukur. Tuhan telah memberikanku kebahagiaan yang tiada tara. Dan kini, atas kekuatan cinta dan ridha-Nya, aku dapat kembali bersama Daniel bahkan kini aku dan Daniel dapat tinggal bersama di Paris, tempat yang kita damba.
Kekuatan cinta dan Ridha-Nya adalah kuci utamanya.



Selasa, 11 Maret 2014

The Voice Note



“Gilang!!!!...”
Ya “Gilang” nama yang selalu aku teriakin setiap hari. Karna
keusilannya yang selalu bikin aku jengkel. Gilang adalah teman satu
kelasku. Dia itu cakep, pintar, dan pada dasarnya dia itu baik dan
perhatian, tapi karena keusilan dan kejailannya, sifat baik, perhatian
dan pintarnya itu ketutup gitu   -_-.
Kali ini adalah kesekian ribu kalinya dia bikin kesel dan jengkel,
saat itu Pak Anto guru kimia di sekolahku memasuki ruang kelasku.
“Ketua kelas 10 MIA 1 mana?”
“saya Pak” jawab Rio ketua kelas di kelasku.
“Bapak tidak bisa masuk kelas hari ini karena ada rapat guru. Jadi,
sekarang kerjakan saja soal-soal yang ada dibuku cetak dan oh ya,
hasil ulangan harian kemarin dapat diambil dimeja bapak, Rio! Kamu
ambil dan bagikan.” Amanat Pak Anto yang setelah itu berlalu
meninggalkan kelasku.
“Rio! Aku ikut denganmu ya, mengambil kertas ulangannya? Atau biar aku
saja yang mengambilnya, lagian kamu lagi sibuk mendata siswa kan?”
celoteh Gilang tiba-tiba.
“ya sudah terimakasih” jawab Rio singkat.
Sebenarnya aku merasa aneh, kenapa Gilang tiba-tiba baik seperti itu,
padahal dia paling anti kalau disuruh keruang guru, karena dia takut
bertemu dengan Pak Setyo guru BK kami yang selalu menghukum dia karna
kelakuannya yang abnormal -_- hah tapi ya sudahlah, mungkin dia telah
menerima ilham dari-Nya.
Sambil menunggu Gilang yang sedang mengambil hasil ulangan harian
kemarin, aku mengerjakan tugas yang telah diamanatkan Pak Anto
sebelumnya. Tapi hati aku gak tenang memikirkan hasil ulangan harian
kimia ku, karna kemampuanku dipelajaran kimia memang kurang, berbeda
dengan Gilang yang usil dan jailnya gak ketulungan tetapi dia selalu
mendapat nilai yang bagus dalam bidang studi ini.
“Anisa Nurul” panggil Gilang kepada Anisa seraya memberikan kertas
hasil ulangannya.
“Viora Desti Hawa”
“Aulia Veronika”
“Muhammad Sulaiman”
Huh aku semakin panas dingin dan ingin segera melihat hasil ulanganku.
Aku takut aku harus mengulang ulangan harian itu. Tapi sampai akhirpun
namaku tidak disebut juga.
“Gilang!! Punyaku kemana? Jangan bilang kamu sembunyikan!!”  tuduhku
kepada Gilang.
“Enak saja!!! Kata Pak Anto, yang tidak dibagikan itu yang nilainya
kecil dan harus mengulang. Punya kamu kan tidak ada, artinya nilai
kamu kecil dan harus mengulang.” Gumam Gilang yang ekspresi wajahnya
minta ditabok.
“Hah? Serius? Masa aku harus mengulang lagi?” gerutuku kepada Gilang.
“Gak usah merengut kaleee, habis rapat guru selesai, kamu temui Pak
Anto di ruang guru. Selamat remedial ya...  nikmatin soalnya, kalau
gak bisa jawab, senyumin aja, biar waktu yang menjawabnya. Haahahahaha
.”
“GILAAAANGGGG!!!” teriakku semakin sewot.
“Jangan marah dong cantik.” Goda gilang kepadaku.
“Apaan sih, pergi sana.” Kataku kepada Gilang sambil mendorongnya agar
cepat pergi.
Setelah rapat guru selesai, aku segera menemui Pak Anto di ruang guru.
“Permisi pak , pak saya mau minta soal remedial untuk ulangan harian
kemarin Pak.”
“Nama kamu siapa ? kelas apa ?” tanya Pak Anto
“Alya Maharani dari 10 MIA 1 Pak.” Jawabku
“Sebentar.. Alya, kamu tidak remedial, nilai kamu cukup nak.”
“Masa si pak?” tanyaku penasaran
“Iya, coba ini lihat” kata Pak Anto sambil menunjukan nilaiku.
HAH!! Ternyata Gilang ngerjain aku lagi! Memang dasar anak itu gak ada
habisnya ngerjain aku.
“Gilang!! Dasar kamu ya, kalau itu kenapa si selalu bikin aku jengkel
, selalu bikin aku kesel, apa si salah aku ke kamu? apa? Sekarang
balikin gak kertas ulangannya!” gertakku pada Gilang.
Aku tidak tahan lagi menahan emosiku, bahkan aku gak sadar kalau aku
memarahi Gilang di depan orang banyak.
“Eh.. sabar dong nona, iya iya aku minta maaf, ini aku balikin.”
Gilang lalu menyodorkan selembar kertas putih yang di atasnya terdapat
huruf B yang dilingkari oleh spidol merah. Aku segera mengambilnya dan
bergegas meninggalkan Gilang.
Bel tanda pulang sekolahpun  berbunyi, aku segera meninggalkan sekolah
karena entah kenapa tubuhku terasa lelah sekali. Sesampainya dirumah,
aku segera membaringkan tubuhku di atas kasur. Tiba-tiba aku teringat
hasil ulanganku, lalu aku mengambilnya dan membukanya.
Ketika aku membukanya, aku terkejut. Karena didalam kertas ulangan itu
terselip kertas kecil berwarna merah jambu.  “ heh cemong, besok
pulang bareng yuk” begitu tulisan yang ada dikertas merah jambu itu,
aku tahu yang menulis itu pasti Gilang, karna Cuma Gilang yang
memanggilku dengan sebutan cemong.
“Hhhh.. apaan si Gilang, paling juga Cuma ngerjain aku.” Gerutuku
sambil menyimpan kertas merah jambu itu keatas meja belajarku.
Keesokan harinya, aku menjalani rutinitasku seperti biasa, pukul tujuh
kurang lima belas menit aku berangkat sekolah dan pulang pukul 3 sore
aku pulang. Ketika aku menuju gerbang sekolah dan bergegas pulang,
ternyata Gilang sudah menungguku.
“Heh Cemong, yuk pulang”
“apa? Kamu ngajak pulang aku?” sahutku datar
“iya lah, udah cepet naik”
Setelah aku pikir-pikir lebih baik aku terima saja tawaran Gilang,
lumayan kan gratis hehehe.. lalu aku segera menaiki motor matic
berwarna merah itu.
“Eh Gilang, kok kesini? Arah kerumah aku kan kesana? Kamu hilang
ingatan?” kataku kepada Gilang sambil memukul pundaknya.
“Kamu mau aku culik”
“Apaan si kamu, cepet puter balik gak?!”
“Hahaha bercanda, mana mungkin aku mau culik kamu, gak ada untungnya,
udah kamu tenang aja” Gilang berkata dengan seyumnya yang baru
kusadari ternyata manis juga, hehe..
“terus kita mau kemana?” tanyaku kepada Gilang
“Bawel amat, udah diem coba” sahut gilang sambil tersenyum meragukan.
Aku Cuma bisa diam, dan akhirnya kita sampai disuatu tempat, tempat
yang membuatku takjub, belum pernah aku melihat tempat seindah ini,
danau dengan air yang jernih dan dikelilingi pepohonan yang rindang.
“Gilang, selama aku tinggal dikota ini, belum pernah aku melihat
tempat seindah ini, yang aku lihat hanya gedung-gedung pencakar langit
yang berbaris dipinggiran jalan.”  Kataku kepada Gilang sambil tidak
bosan-bosannya aku melihat kesekeliling tempat itu, benar-benar indah.
“Hahah iya dong, awalnya aku menemukan tempat ini ketika aku sedang
bermain bersama Reno, tadinya tempat ini sangat kotor, tapi aku dan
Reno mencoba membersihkannya dan akhirnya jadilah seperti  ini, ya
bisa dibilang tempat ini tempat rahasiaku bersama Reno, tapi sekarang
aku memberitahumu, kamu senang bukan? Jarang sekali orang yang kesini,
karna tempat ini cukup jauh dari pemukiman warga.” Jelas Gilang
panjang lebar.
“ Iya, aku senang sekali, makasih Gilang.” Kataku kepada Gilang sambil
tersenyum.
Cukup lama aku berada di tempat itu bersama Gilang. Waktu menunjukan
pukul 5 sore, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.
“Dari mana saja kamu? “ Pertanyaan mamah langsung menyambar telingaku.
“tadi habis main dulu sama Gilang mah.” Jawabku singkat.
“Oh yasudah cepat mandi lalu makan”
“Iya mah.” Sahutku kepada mamah.
Aku segera menuju kekamarku dan bergegas mandi dan makan. Aku lelah
dan akhirnya aku tidur.
Kring.... Kring.... Kring....
“Hah?! Udah jam 7 kurang?! Aku telat,!! Gawat !!!”  suara alarm
dikamarku membangunkanku dari mimpiku, aku telat! gawat! Aku segera
menuju kamar mandi dan setelah itu aku buru-buru sarapan.
“Mah, aku berangkat ya mah.” Aku pamit kepada mamah
“Kenapa buru-buru Alya?”
“Telat mah”
Aku segera berlari menuju gerbang dan segera memanggil taxi.
“hhhh syukurlah, aku gak telat” gumamku sambil menyusuri lorong disekolahku.
Sesampainya dikelas aku segera duduk dibangkuku, dan sedikit membaca
pelajaran yang akan dipelajari sekarang. Tapi aku tidak kunjung
melihat Gilang. Kemana dia?.
Bel tanda masukpun berbunyi, aku semakin resah, karena Gilang tak
kunjung datang.
“pengabsen mana?” tanya Bu Dinda, wali kelasku.
“saya bu.” Jawab Vyora, pengabsen dikelasku.
“Tadi orang tua Gilang menelfon ibu, katanya dia tidak bisa hadir hari
ini karena sakit, tolong kamu catat ya?”
“Baik bu” jawab Vyora singkat.
Hah!! Gilang sakit? Dia sakit apa? Aah paling dia hanya kurang
istirahat, karna kerjaannya main saja, pulang sekolahpun dia langsung
main. Paling dia hanya satu hari ini absennya. Aku coba menghibur
diriku sendiri. Sebenarnya aku mengkhawatirkan keadaan gilang. Aku
ingin menjenguknya, tapi buat apa aku menjenguk orang yang selalu
menjahiliku, huuuh.
Tiga hari sudah Gilang tidak masuk sekolah, dan tiga hari ini juga aku
selalu merasa ada yang hilang, aku merasa kehilangan seorang Gilang
yang selalu membuat aku jengkel, aku kehilangan seorang Gilang yang
selalu jahil, aku kehilangan senyum manis Gilang yang dulu pernah dia
berikan, aku kehilangan GILANG!! Kenapa aku seperti ini? Apakah ini
yang namanya rindu? Aku rindu Gilang....
Perasaanku semakin tak menentu, akhirnya aku putuskan untuk menjenguk
Gilang kerumahnya.
“Permisi”
“Iya, tunggu sebentar.” Terdengar jawaban dari dalam rumah dan tak
lama kemudian seorang wanita dengan matanya yang sembab membukakan
pintu.
“Gilang ada tante?” tanyaku kepada tante Riyani, ibu Gilang.
“Eh Aliya, Gilang ada dikamar, ayo masuk.” Tante Riyani mempersilahkanku masuk.
Aku bingung, kenapa tante Aliya terlihat sangat sedih, ah yasudahlah.
Aku segera menuju ke kamar Gilang. Disana terdapat seorang anak lelaki
berwajah pucat dengan selimut ditubuhnya. Melihat itu tiba-tiba air
mataku menetes. Tapi aku segera menghapusnya.
“Gilang..” aku memanggil Gilang pelan.
“Eh cemong.” Jawab Gilang dengan suara lirih
“kamu kenapa? 3 hari kamu tinggalkan sekolah.”
Gilang hanya menjawab pertanyaanku dengan seyum manisnya yang aku rindukan.
“Gilang jawab!” gertakku kepada Gilang
“Al, sebenarnya aku tidak mau meninggalkan sekolah, tapi apa boleh
buat, begini keadaanku sekarang. Bahkan mungkin, nanti aku tidak hanya
meninggalkan sekolah, aku pasti akan meninggalkan kamu, dan
teman-teman yang lain, dan aku juga tidak bisa mengajakmu ketempat
rahasia kita lagi.”
Gilang tiba-tiba berbicara seperti itu dan membuatku semakin takut.
“Gilang, kamu ini bicara apa sih!”
“Aku serius cemong, sebenarnya aku ini terserang kanker kelenjar getah
bening stadium 3, dan aku harus berobat ke Singapoer....”
Belum sempat Gilang bercerita banyak, air mataku sudah tak terbendung
lagi. Aku tak percaya. Kanker kelenjar getah bening stadium 3 telah
menggerogiti tubuh Gilang. Gilang yang usil padaku  ternyata mengidap
penyakit yang tak pernah dibayangkan olehku, ini pasti hanya mimpi
kan? Ini tidak benar kan? Gilang tak mungkin memiliki penyakit itu.
“Jangan menangis, aku akan baik-baik saja.” Gilang lalu terseyum dan
menghapus air mataku.
“Gilang......” pangilku kepada gilang.
“Iya, kenapa?” gilang menatapku.
“Aku... Aku... hiks..  sebenarnya.... aku.. aku... hiks...  sayang
kamu, aku gak mau kehilangan kamu Gilang.”
Spontan. Aku katakan itu kepada Gilang, aku tidak tahu kata itu
berasal dari mana, dengan mudahnya dan tanpa sadar kata itu keluar
dari mulutku. Gilang hanya membalas perkataanku dengan senyumnya, lalu
dia mengelus-ngelus kepalaku. Aku baru sadar, inilah yang membuat
tante Riyani terlihat begitu sedih, dan ini juga yang membuat mata
tante Riyani begitu sembab, dan akupun merasakannya sekarang.
“Minggu depan aku berangkat ke Singapoer, kamu baik-baik ya disini.”
Gumam Gilang memecah keheningan diantara kita.
“Berapa lama kamu disana?”
“Tidak menentu.” Jawab Gilang singkat.
“Doaku selalu menyertaimu Gilang” Kataku kepada gilang dengan air mata
yang menganak sungai dipipi.
Setelah cukup lama menjenguk Gilang, akhirnya aku putuskan untuk
pulang, dan aku segera berpamitan kepada Gilang dan tante Riyani.
Sepanjang perjalanan pulang, fikiranku tak henti-hentinya memikirkan
gilang, aku takut kehilangan dia, walaupun dia sering membuatku
jengkel, tapi aku menyayanginya.
Satu minggu lagi dia akan terbang ke Singapoer. Aku berjanji, sebelum
dia berangkat keasana, aku akan menemuinya. Ya aku janji.
Setelah sampai dirumah, aku segera meneuju kekamarku, dan segera
menyalakan komputerku. Mataku mencari-cari sebuah file, dan akhirnya
aku menemukannya.  “Aku dan Gilang” itulah nama file yang aku cari,
file itu berisi foto-fotoku bersama gilang, setiap ada waktu luang
atau sedang istirahat di sekolah, terkadang aku dan Gilang foto-foto.
Aku segera membuka file itu dan mencetak beberapa foto yang aku pilih.
Setelah foto itu tercetak aku meletakannya dengan rapih dalam sebuah
album kecil bergambar donal bebek kesayanganku, dan album itu akan ku
berikan kepada Gilang sehari sebelum keberangkatan dia ke Singapoer.
“semua sudah siap, album sudah ku bungkus dengan rapih.” Aku tersenyum bangga.
Aku segera menemui mamah dan meminta izin untuk menemui Gilang
dirumahnya, mamahpun mengizinkanku. Aku segera menuju garasi untuk
mengambil scooter matic ku. Tanpa pikir panjang aku langsung tancap
gas untuk menuju rumah Gilang.
Disepanjang jalan dekat dengan rumah Gilang, banyak sekali
orang-orang. Aku berfikir, ada apa ini. Dan ternyata sumber
orang-orang itu dari rumah Gilang. Sesampainya di depan rumah Gilang,
aku segera memarkirkan scooter maticku, dan segera menuju rumah
Gilang. Banyak sekali orang disana.
Ada apa ini? Kok ramai sekali? Bendera kuning? Ini ada apa? Sontak
pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam fikiranku. Ketika sampai di
depan pintu depan, tante Riyani segera menghampiriku dan memelukku
begitu erat. Seperti terdapat luka yang sangat mendalam pada tante
Riyani, Beliau menangis sambil memelukku.
“Tante ada apa?” tanyaku penasaran.
“Gilang, nak.. Gilang sudah meninggalkan kita semua.” Tangis tante
Riyani semakin deras.
“Tante..” Aku lalu memeluk tante Riyani, tubuhku terasa begitu lemas,
hatiku seperti tertusuk puluhan belati.
“Sebelum Gilang meninggalkan kita semua, Gilang sempat menitipkan ini
untukmu.” Tante Riyani memberiku sebuah memori card.
Setelah dari rumah Gilang, aku menuju ketempat rahasiaku dengan
Gilang. Aku duduk dibawah pohon rindang yang biasa kami tempati.
Disana aku teringat memori card yang diberikan tante Riyani tadi, aku
segera memasangnya pada handphoneku. Tetapi didalamnya kosong, dan
hanya ada satu rekaman suara. Akupun memutarnya.
Cemong.. kemarin aku belum sempat membalas pernyataanmu, mmmm
sebenarnya gimana ya? Aku juga sayang sama kamu, maaf aku tidak bisa
menjagamu, tidak bisa melindungimu, dan aku juga tidak bisa selamanya
ada disampingmu. Maybe this is the last my voice record for you, now
I’m so far, and take care of your self..  Simpan rekaman ini
baik-baiknya cemong, love you..
Mendengar rekaman itu, air mataku kembali mengalir, sekarang aku
benar-benar kehilangan Gilang. Ya, Kehilangan sosok yang aku sayang.
Selamat jalan Gilang, aku menyayangimu.
Aku melirik ke arah album kecil dalam genggamanku. Aku bingung harus
ku apakan barang itu. Setelah beberapa saat aku berfikir, akhirnya aku
putuskan untuk menenggelamkan album itu kadalam danau. Karena aku
fikir dengan menenggelamkannya ke danau, aku tidak akan terlalu lama
tenggelam dalam kesedihan.  Dan aku berharap dengan menenggelamkan
album itu kedalam danau favorit  Gilang, Gilang akan merasakan dan
melihatnya.  Dan aku akan menyimpan baik-baik rekaman itu.

Sabtu, 08 Maret 2014

Karena Tuhan


Kini
Aku terpaku
Menatap diri didepan  cermin berdebu
Dengan kebimbangan yang merasuk kalbu
                        Ku tatap diriku saat itu
                        Malu!
                        Dengan usiaku yang bukan anak kecil seperti dulu
                        Aku nyaris mengorbankan harga diriku
Aku sadar
Kini saatnya untuk diriku
Memulai hal itu
Memulai tuk menjaga kehormatanku
                        Ku ambil dank u kenakan pakaian suci itu
                        Dan perlahan
                        Ku gunakan secarik kain
                        Untuk menutupi mahkota indahku
Kudapati paras cantik
Dibalik cermin itu
Tuhan..
Terimakasih atas hidayahmu
                        Dan inilah diriku
                        Dengan tekad dan keyakinan hatiku
                        Aku dapat merubah segalanya
                        Bukan hanya penampilan
                        Yang kini menggunakan jilbab yang menawan
Kekuatan hati dan iman
Juga menjadi perubahan
Karena ku lalukan ini semua
Bukan semata menjaga diri dan kehormatan
Tetapi juga bentuk kecintaanku terhadap Tuhan