Blog ini adalah mediaku untuk berkarya. terus baca karya-karya ku ya.. semoga kalian menyukainya. selamat membaca.
Selasa, 11 Maret 2014
The Voice Note
“Gilang!!!!...”
Ya “Gilang” nama yang selalu aku teriakin setiap hari. Karna
keusilannya yang selalu bikin aku jengkel. Gilang adalah teman satu
kelasku. Dia itu cakep, pintar, dan pada dasarnya dia itu baik dan
perhatian, tapi karena keusilan dan kejailannya, sifat baik, perhatian
dan pintarnya itu ketutup gitu -_-.
Kali ini adalah kesekian ribu kalinya dia bikin kesel dan jengkel,
saat itu Pak Anto guru kimia di sekolahku memasuki ruang kelasku.
“Ketua kelas 10 MIA 1 mana?”
“saya Pak” jawab Rio ketua kelas di kelasku.
“Bapak tidak bisa masuk kelas hari ini karena ada rapat guru. Jadi,
sekarang kerjakan saja soal-soal yang ada dibuku cetak dan oh ya,
hasil ulangan harian kemarin dapat diambil dimeja bapak, Rio! Kamu
ambil dan bagikan.” Amanat Pak Anto yang setelah itu berlalu
meninggalkan kelasku.
“Rio! Aku ikut denganmu ya, mengambil kertas ulangannya? Atau biar aku
saja yang mengambilnya, lagian kamu lagi sibuk mendata siswa kan?”
celoteh Gilang tiba-tiba.
“ya sudah terimakasih” jawab Rio singkat.
Sebenarnya aku merasa aneh, kenapa Gilang tiba-tiba baik seperti itu,
padahal dia paling anti kalau disuruh keruang guru, karena dia takut
bertemu dengan Pak Setyo guru BK kami yang selalu menghukum dia karna
kelakuannya yang abnormal -_- hah tapi ya sudahlah, mungkin dia telah
menerima ilham dari-Nya.
Sambil menunggu Gilang yang sedang mengambil hasil ulangan harian
kemarin, aku mengerjakan tugas yang telah diamanatkan Pak Anto
sebelumnya. Tapi hati aku gak tenang memikirkan hasil ulangan harian
kimia ku, karna kemampuanku dipelajaran kimia memang kurang, berbeda
dengan Gilang yang usil dan jailnya gak ketulungan tetapi dia selalu
mendapat nilai yang bagus dalam bidang studi ini.
“Anisa Nurul” panggil Gilang kepada Anisa seraya memberikan kertas
hasil ulangannya.
“Viora Desti Hawa”
“Aulia Veronika”
“Muhammad Sulaiman”
Huh aku semakin panas dingin dan ingin segera melihat hasil ulanganku.
Aku takut aku harus mengulang ulangan harian itu. Tapi sampai akhirpun
namaku tidak disebut juga.
“Gilang!! Punyaku kemana? Jangan bilang kamu sembunyikan!!” tuduhku
kepada Gilang.
“Enak saja!!! Kata Pak Anto, yang tidak dibagikan itu yang nilainya
kecil dan harus mengulang. Punya kamu kan tidak ada, artinya nilai
kamu kecil dan harus mengulang.” Gumam Gilang yang ekspresi wajahnya
minta ditabok.
“Hah? Serius? Masa aku harus mengulang lagi?” gerutuku kepada Gilang.
“Gak usah merengut kaleee, habis rapat guru selesai, kamu temui Pak
Anto di ruang guru. Selamat remedial ya... nikmatin soalnya, kalau
gak bisa jawab, senyumin aja, biar waktu yang menjawabnya. Haahahahaha
.”
“GILAAAANGGGG!!!” teriakku semakin sewot.
“Jangan marah dong cantik.” Goda gilang kepadaku.
“Apaan sih, pergi sana.” Kataku kepada Gilang sambil mendorongnya agar
cepat pergi.
Setelah rapat guru selesai, aku segera menemui Pak Anto di ruang guru.
“Permisi pak , pak saya mau minta soal remedial untuk ulangan harian
kemarin Pak.”
“Nama kamu siapa ? kelas apa ?” tanya Pak Anto
“Alya Maharani dari 10 MIA 1 Pak.” Jawabku
“Sebentar.. Alya, kamu tidak remedial, nilai kamu cukup nak.”
“Masa si pak?” tanyaku penasaran
“Iya, coba ini lihat” kata Pak Anto sambil menunjukan nilaiku.
HAH!! Ternyata Gilang ngerjain aku lagi! Memang dasar anak itu gak ada
habisnya ngerjain aku.
“Gilang!! Dasar kamu ya, kalau itu kenapa si selalu bikin aku jengkel
, selalu bikin aku kesel, apa si salah aku ke kamu? apa? Sekarang
balikin gak kertas ulangannya!” gertakku pada Gilang.
Aku tidak tahan lagi menahan emosiku, bahkan aku gak sadar kalau aku
memarahi Gilang di depan orang banyak.
“Eh.. sabar dong nona, iya iya aku minta maaf, ini aku balikin.”
Gilang lalu menyodorkan selembar kertas putih yang di atasnya terdapat
huruf B yang dilingkari oleh spidol merah. Aku segera mengambilnya dan
bergegas meninggalkan Gilang.
Bel tanda pulang sekolahpun berbunyi, aku segera meninggalkan sekolah
karena entah kenapa tubuhku terasa lelah sekali. Sesampainya dirumah,
aku segera membaringkan tubuhku di atas kasur. Tiba-tiba aku teringat
hasil ulanganku, lalu aku mengambilnya dan membukanya.
Ketika aku membukanya, aku terkejut. Karena didalam kertas ulangan itu
terselip kertas kecil berwarna merah jambu. “ heh cemong, besok
pulang bareng yuk” begitu tulisan yang ada dikertas merah jambu itu,
aku tahu yang menulis itu pasti Gilang, karna Cuma Gilang yang
memanggilku dengan sebutan cemong.
“Hhhh.. apaan si Gilang, paling juga Cuma ngerjain aku.” Gerutuku
sambil menyimpan kertas merah jambu itu keatas meja belajarku.
Keesokan harinya, aku menjalani rutinitasku seperti biasa, pukul tujuh
kurang lima belas menit aku berangkat sekolah dan pulang pukul 3 sore
aku pulang. Ketika aku menuju gerbang sekolah dan bergegas pulang,
ternyata Gilang sudah menungguku.
“Heh Cemong, yuk pulang”
“apa? Kamu ngajak pulang aku?” sahutku datar
“iya lah, udah cepet naik”
Setelah aku pikir-pikir lebih baik aku terima saja tawaran Gilang,
lumayan kan gratis hehehe.. lalu aku segera menaiki motor matic
berwarna merah itu.
“Eh Gilang, kok kesini? Arah kerumah aku kan kesana? Kamu hilang
ingatan?” kataku kepada Gilang sambil memukul pundaknya.
“Kamu mau aku culik”
“Apaan si kamu, cepet puter balik gak?!”
“Hahaha bercanda, mana mungkin aku mau culik kamu, gak ada untungnya,
udah kamu tenang aja” Gilang berkata dengan seyumnya yang baru
kusadari ternyata manis juga, hehe..
“terus kita mau kemana?” tanyaku kepada Gilang
“Bawel amat, udah diem coba” sahut gilang sambil tersenyum meragukan.
Aku Cuma bisa diam, dan akhirnya kita sampai disuatu tempat, tempat
yang membuatku takjub, belum pernah aku melihat tempat seindah ini,
danau dengan air yang jernih dan dikelilingi pepohonan yang rindang.
“Gilang, selama aku tinggal dikota ini, belum pernah aku melihat
tempat seindah ini, yang aku lihat hanya gedung-gedung pencakar langit
yang berbaris dipinggiran jalan.” Kataku kepada Gilang sambil tidak
bosan-bosannya aku melihat kesekeliling tempat itu, benar-benar indah.
“Hahah iya dong, awalnya aku menemukan tempat ini ketika aku sedang
bermain bersama Reno, tadinya tempat ini sangat kotor, tapi aku dan
Reno mencoba membersihkannya dan akhirnya jadilah seperti ini, ya
bisa dibilang tempat ini tempat rahasiaku bersama Reno, tapi sekarang
aku memberitahumu, kamu senang bukan? Jarang sekali orang yang kesini,
karna tempat ini cukup jauh dari pemukiman warga.” Jelas Gilang
panjang lebar.
“ Iya, aku senang sekali, makasih Gilang.” Kataku kepada Gilang sambil
tersenyum.
Cukup lama aku berada di tempat itu bersama Gilang. Waktu menunjukan
pukul 5 sore, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.
“Dari mana saja kamu? “ Pertanyaan mamah langsung menyambar telingaku.
“tadi habis main dulu sama Gilang mah.” Jawabku singkat.
“Oh yasudah cepat mandi lalu makan”
“Iya mah.” Sahutku kepada mamah.
Aku segera menuju kekamarku dan bergegas mandi dan makan. Aku lelah
dan akhirnya aku tidur.
Kring.... Kring.... Kring....
“Hah?! Udah jam 7 kurang?! Aku telat,!! Gawat !!!” suara alarm
dikamarku membangunkanku dari mimpiku, aku telat! gawat! Aku segera
menuju kamar mandi dan setelah itu aku buru-buru sarapan.
“Mah, aku berangkat ya mah.” Aku pamit kepada mamah
“Kenapa buru-buru Alya?”
“Telat mah”
Aku segera berlari menuju gerbang dan segera memanggil taxi.
“hhhh syukurlah, aku gak telat” gumamku sambil menyusuri lorong disekolahku.
Sesampainya dikelas aku segera duduk dibangkuku, dan sedikit membaca
pelajaran yang akan dipelajari sekarang. Tapi aku tidak kunjung
melihat Gilang. Kemana dia?.
Bel tanda masukpun berbunyi, aku semakin resah, karena Gilang tak
kunjung datang.
“pengabsen mana?” tanya Bu Dinda, wali kelasku.
“saya bu.” Jawab Vyora, pengabsen dikelasku.
“Tadi orang tua Gilang menelfon ibu, katanya dia tidak bisa hadir hari
ini karena sakit, tolong kamu catat ya?”
“Baik bu” jawab Vyora singkat.
Hah!! Gilang sakit? Dia sakit apa? Aah paling dia hanya kurang
istirahat, karna kerjaannya main saja, pulang sekolahpun dia langsung
main. Paling dia hanya satu hari ini absennya. Aku coba menghibur
diriku sendiri. Sebenarnya aku mengkhawatirkan keadaan gilang. Aku
ingin menjenguknya, tapi buat apa aku menjenguk orang yang selalu
menjahiliku, huuuh.
Tiga hari sudah Gilang tidak masuk sekolah, dan tiga hari ini juga aku
selalu merasa ada yang hilang, aku merasa kehilangan seorang Gilang
yang selalu membuat aku jengkel, aku kehilangan seorang Gilang yang
selalu jahil, aku kehilangan senyum manis Gilang yang dulu pernah dia
berikan, aku kehilangan GILANG!! Kenapa aku seperti ini? Apakah ini
yang namanya rindu? Aku rindu Gilang....
Perasaanku semakin tak menentu, akhirnya aku putuskan untuk menjenguk
Gilang kerumahnya.
“Permisi”
“Iya, tunggu sebentar.” Terdengar jawaban dari dalam rumah dan tak
lama kemudian seorang wanita dengan matanya yang sembab membukakan
pintu.
“Gilang ada tante?” tanyaku kepada tante Riyani, ibu Gilang.
“Eh Aliya, Gilang ada dikamar, ayo masuk.” Tante Riyani mempersilahkanku masuk.
Aku bingung, kenapa tante Aliya terlihat sangat sedih, ah yasudahlah.
Aku segera menuju ke kamar Gilang. Disana terdapat seorang anak lelaki
berwajah pucat dengan selimut ditubuhnya. Melihat itu tiba-tiba air
mataku menetes. Tapi aku segera menghapusnya.
“Gilang..” aku memanggil Gilang pelan.
“Eh cemong.” Jawab Gilang dengan suara lirih
“kamu kenapa? 3 hari kamu tinggalkan sekolah.”
Gilang hanya menjawab pertanyaanku dengan seyum manisnya yang aku rindukan.
“Gilang jawab!” gertakku kepada Gilang
“Al, sebenarnya aku tidak mau meninggalkan sekolah, tapi apa boleh
buat, begini keadaanku sekarang. Bahkan mungkin, nanti aku tidak hanya
meninggalkan sekolah, aku pasti akan meninggalkan kamu, dan
teman-teman yang lain, dan aku juga tidak bisa mengajakmu ketempat
rahasia kita lagi.”
Gilang tiba-tiba berbicara seperti itu dan membuatku semakin takut.
“Gilang, kamu ini bicara apa sih!”
“Aku serius cemong, sebenarnya aku ini terserang kanker kelenjar getah
bening stadium 3, dan aku harus berobat ke Singapoer....”
Belum sempat Gilang bercerita banyak, air mataku sudah tak terbendung
lagi. Aku tak percaya. Kanker kelenjar getah bening stadium 3 telah
menggerogiti tubuh Gilang. Gilang yang usil padaku ternyata mengidap
penyakit yang tak pernah dibayangkan olehku, ini pasti hanya mimpi
kan? Ini tidak benar kan? Gilang tak mungkin memiliki penyakit itu.
“Jangan menangis, aku akan baik-baik saja.” Gilang lalu terseyum dan
menghapus air mataku.
“Gilang......” pangilku kepada gilang.
“Iya, kenapa?” gilang menatapku.
“Aku... Aku... hiks.. sebenarnya.... aku.. aku... hiks... sayang
kamu, aku gak mau kehilangan kamu Gilang.”
Spontan. Aku katakan itu kepada Gilang, aku tidak tahu kata itu
berasal dari mana, dengan mudahnya dan tanpa sadar kata itu keluar
dari mulutku. Gilang hanya membalas perkataanku dengan senyumnya, lalu
dia mengelus-ngelus kepalaku. Aku baru sadar, inilah yang membuat
tante Riyani terlihat begitu sedih, dan ini juga yang membuat mata
tante Riyani begitu sembab, dan akupun merasakannya sekarang.
“Minggu depan aku berangkat ke Singapoer, kamu baik-baik ya disini.”
Gumam Gilang memecah keheningan diantara kita.
“Berapa lama kamu disana?”
“Tidak menentu.” Jawab Gilang singkat.
“Doaku selalu menyertaimu Gilang” Kataku kepada gilang dengan air mata
yang menganak sungai dipipi.
Setelah cukup lama menjenguk Gilang, akhirnya aku putuskan untuk
pulang, dan aku segera berpamitan kepada Gilang dan tante Riyani.
Sepanjang perjalanan pulang, fikiranku tak henti-hentinya memikirkan
gilang, aku takut kehilangan dia, walaupun dia sering membuatku
jengkel, tapi aku menyayanginya.
Satu minggu lagi dia akan terbang ke Singapoer. Aku berjanji, sebelum
dia berangkat keasana, aku akan menemuinya. Ya aku janji.
Setelah sampai dirumah, aku segera meneuju kekamarku, dan segera
menyalakan komputerku. Mataku mencari-cari sebuah file, dan akhirnya
aku menemukannya. “Aku dan Gilang” itulah nama file yang aku cari,
file itu berisi foto-fotoku bersama gilang, setiap ada waktu luang
atau sedang istirahat di sekolah, terkadang aku dan Gilang foto-foto.
Aku segera membuka file itu dan mencetak beberapa foto yang aku pilih.
Setelah foto itu tercetak aku meletakannya dengan rapih dalam sebuah
album kecil bergambar donal bebek kesayanganku, dan album itu akan ku
berikan kepada Gilang sehari sebelum keberangkatan dia ke Singapoer.
“semua sudah siap, album sudah ku bungkus dengan rapih.” Aku tersenyum bangga.
Aku segera menemui mamah dan meminta izin untuk menemui Gilang
dirumahnya, mamahpun mengizinkanku. Aku segera menuju garasi untuk
mengambil scooter matic ku. Tanpa pikir panjang aku langsung tancap
gas untuk menuju rumah Gilang.
Disepanjang jalan dekat dengan rumah Gilang, banyak sekali
orang-orang. Aku berfikir, ada apa ini. Dan ternyata sumber
orang-orang itu dari rumah Gilang. Sesampainya di depan rumah Gilang,
aku segera memarkirkan scooter maticku, dan segera menuju rumah
Gilang. Banyak sekali orang disana.
Ada apa ini? Kok ramai sekali? Bendera kuning? Ini ada apa? Sontak
pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam fikiranku. Ketika sampai di
depan pintu depan, tante Riyani segera menghampiriku dan memelukku
begitu erat. Seperti terdapat luka yang sangat mendalam pada tante
Riyani, Beliau menangis sambil memelukku.
“Tante ada apa?” tanyaku penasaran.
“Gilang, nak.. Gilang sudah meninggalkan kita semua.” Tangis tante
Riyani semakin deras.
“Tante..” Aku lalu memeluk tante Riyani, tubuhku terasa begitu lemas,
hatiku seperti tertusuk puluhan belati.
“Sebelum Gilang meninggalkan kita semua, Gilang sempat menitipkan ini
untukmu.” Tante Riyani memberiku sebuah memori card.
Setelah dari rumah Gilang, aku menuju ketempat rahasiaku dengan
Gilang. Aku duduk dibawah pohon rindang yang biasa kami tempati.
Disana aku teringat memori card yang diberikan tante Riyani tadi, aku
segera memasangnya pada handphoneku. Tetapi didalamnya kosong, dan
hanya ada satu rekaman suara. Akupun memutarnya.
Cemong.. kemarin aku belum sempat membalas pernyataanmu, mmmm
sebenarnya gimana ya? Aku juga sayang sama kamu, maaf aku tidak bisa
menjagamu, tidak bisa melindungimu, dan aku juga tidak bisa selamanya
ada disampingmu. Maybe this is the last my voice record for you, now
I’m so far, and take care of your self.. Simpan rekaman ini
baik-baiknya cemong, love you..
Mendengar rekaman itu, air mataku kembali mengalir, sekarang aku
benar-benar kehilangan Gilang. Ya, Kehilangan sosok yang aku sayang.
Selamat jalan Gilang, aku menyayangimu.
Aku melirik ke arah album kecil dalam genggamanku. Aku bingung harus
ku apakan barang itu. Setelah beberapa saat aku berfikir, akhirnya aku
putuskan untuk menenggelamkan album itu kadalam danau. Karena aku
fikir dengan menenggelamkannya ke danau, aku tidak akan terlalu lama
tenggelam dalam kesedihan. Dan aku berharap dengan menenggelamkan
album itu kedalam danau favorit Gilang, Gilang akan merasakan dan
melihatnya. Dan aku akan menyimpan baik-baik rekaman itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar