Duduk di bangku SMA kelas 12 semester akhir itu banyak rasa. Salah satunya adalah rasa senang, senang karena tak lama lagi akan segera memcicipi bangku kuliah, apalagi jika bisa kuliah di perguruan tinggi yang selalu diimpikan. Tetapi, membosankan sekali jika setiap hari harus mengikuti pelajaran tambahan. Bagai mana tidak? Setiap hari aku selalu dihadapkan dengan soal-soal yang hampir membuat kepalaku pecah. Dari pukul tujuh pagi hingga pukul empat sore aku harus duduk dan bergelut dengan rumus-rumus dan materi bak gunung yang indahnya bukan main. Fisika, kimia, biologi, matematik. Semua hal itu kini seolah menjadi makan sehari-hariku. “Kalau mau sukses, ya harus ada pengorbanannya, ya contohnya seperti sekarang ini, kamu harus mengorbankan waktu, tenaga dan fikiranmu demi masa depanmu, apa kamu mau tidak lulus ujian?”. Kata-kata horror itu langsung merasuk kedalam fikiranku. Aku mau lulus ujian! Aku mau kuliah ke universitas bonafied di luar negeri. “Daniel! Kalau ngomong difikir dulu dong! Masak tidak lulus ujian?!”. Cerocos ku kepada Daniel seraya menimpakan buku matematika yang tengah kami pelajari bersama. “Azzura Caroline Rusya, dengarkan aku ya? Kalau kamu mau lulus dengan nilai yang memuaskan dan kamu dapat kuliah di luar negeri, kamu harus belajar, sudah untung sekolah mengadakan belajar tambahan gratis, coba kamu manfaatkan! Jangan bisanya hanya malas-malasan saja!” Apa? Daniel bilang aku malas-malasan? Aku tidak terima! “Ngomong seenak jidat mu! Malas-malasan apa? Setiap hari aku belajar dengan sungguh-sungguh. Oke liat aja nanti, aku pasti bisa membuktikannya.” Aku membalas perkataan kekasihku yang bawel itu. “oke, kalau begitu.” Balas Daniel seraya menjulurkan lidahnya kepadaku. Kami lalu melanjutkan kembali berlajar matematika. Aku dan Daniel memiliki cita-cita yang berbeda. Pria yang berperawakan ideal dan berkacamata minus itu ingin menjadi seorang konsultan, Daniel sangat pintar, ia pernah mendapat medali emas OSN bidang Fisika tingkat nasional. sedangkan aku ingin menjadi seorang Arsitek. Karena aku hobi sekali menggambar dan membuat design-design Bangunan atau tata letak kota. Tetapi, aku dan Daniel ingin kuliah di Universitas yang sama walaupun berbeda jurusan. Entah mengapa, aku dan Danniel memilih Prancis sebagai Negara tujuan kami untuk menimba ilmu nanti. Disana kami ingin menunjukan prestasi kami dan membawa nama baik Indonesia.
***
Waktu memang tak
pernah berhenti untuk berdetik. Tak terasa, hari ini adalah hari pertama ku
melaksanakan ujian nasional yang menentukan masa depanku nanti. Diawali dengan
meminta restu dan doa kepada mama dan papa, aku siap untuk menaklukan soal-soal
yang di ujikan. Aku membaca setiap lembar soal dengan teliti dan menuliskan
jawabannya pada selembar kertas jawaban dengan sangat hati-hati.
Aku berada dalam
satu ruang test yang sama dengan Daniel. Ku lihat Daniel begitu sungguh-sungguh
menggerjakan setiap soalnya. Aku bangga.
***
Satu minggu sudah
aku melaksanakan Ujian Nasional. Aku merasa sangat lega.
“Huuh, aku lega.
Akhirnya kita selesai melaksanakan Ujian Nasional ya sayang.” Ujar Daniel.
“Ehh sayang-sayang.”
Godaku kepada Daniel.
“Memangnya salah
kalau aku manggil kamu sayang?” Ujar Daniel dengan nada ketus.
“Eh, iya iya.
Bercanda, jangan marah dong sayang.” Aku kembali menggoda Daniel sambil menarik
hidungnya yang mancung.
“Zura, selama Ujian
gak ada kendala kan? Kamu yakin kan bakal diterima di Universitas yang kita
cita-citakan?” Tanya Daniel kepadaku.
“Tak ada kendala,
aku mengerjakannya dengan mudah, ya itu berkat belajar kita, doakan saja semoga
tak sia-sia.” Jawabku dengan senyum yang mengembang. Daniel hanya mencubit
pipiku.
“Oh iya, kita kan
belum menyerahkan berkas yang kemarin kepada Pak Sumitro.” Ujar Daniel
tiba-tiba.
“Oh iya, aku lupa,
ayok kita segera ke Pak Sumitro sebelum beliau pulang.” Aku dan Daniel segera
mencari pak Sumitro.
Pak Sumitro adalah
Guru yang membantu mendaftarkan murid-muridnya ke perguruan tinggi yang mereka
inginkan. Termasuk Aku dan Danel. Aku dan Daniel dibantu oleh Pak Sumitro untuk
daftar ke Paris University. Selain ke Paris University, aku dan Daniel juga
mendaftarkan diri ke beberapa Universitas lain untuk mengantisipasi ketika kami
tidak diterima di sana. Kami juga mendaftar di beberapa universitas di dalam
negeri. Karena pada saat itu, tidak ada batasan untuk memilih universitas yang
diinginkan.
***
Waktu yang
ditunggu-tunggupun tiba. Semua anak berkumpul didepan papan pengumuman untuk
melihat hasil Ujiannya sekaligus memastikan apakah dirinya diterima di
perguruan tinggi yang ia inginkan atau tidak. Aku dan Daniel pun segera berlari
mengampiri kerumunan anak-anak. Mata kami sibuk mencari nama Azzura Caroline
Rusya dan Daniel Beheniq Ragya. Dan ya! Ini dia.
Nama Siswa
|
Nilai Ujian
Nasional
|
Diterima di
Univeritas
|
Azzura
C. Rusya
|
58,90
|
Berlin University
|
Daniel
B. Ragya
|
60,00
|
New York University
|
Aku terbelalak
melihatnya. Entah aku harus bangga atau aku harus menangis. Aku hanya diam dan
menatap Daniel kosong. Aku dapat meramalkan air muka Daniel. Ia terlihat
dilema.
“Ambil dan pergilah.”
Ucapku kepada Daniel, air mata ku mengalir tanpa jeda. Entah apa sebabnya,
mungkin karena aku bangga kepada Daniel, orang yang aku sayang berhasil
mendapatkan nilai yang begitu sempurna. Atau mungkin aku menangis karena
sebentar lagi Daniel akan meninggalkan aku. Atau mungkin aku menangis karena
cita-cita ku bersama Daniel untuk kuliah bersama di Paris University pupus.
Entahlah.
“Aku berjanji aku
akan kembali padamu.” Ujar Daniel seraya memelukku.
“Tidak usah membuat
janji jika kita tidak tau apakah kita bisa menepati. Serahkan semuanya kepada
Illahi. Kita akan bertemu lagi jika Ia menghendaki.” Sebenarnya sangat perih
untukku mengatakan itu.
“Zura, kenapa kamu
berkata seperti itu?” Tanya Daniel.
“Daniel, aku sayang
kamu, ingat ya, aku sayang kamu. Jadi kamu berhentilah bertanya seperti itu. Kekuatan
cinta yang akan menjawab segalanya. Kamu pasti mengerti.”
***
08 Agustus 2013.
Saat itulah aku benar-benar berpisah dengan Daniel. Daniel sudah terbang dengan
pesawat tujuan New York, Amerika pukul 21.00 WIB. kakiku terasa sangat lemas
ketika Daniel mencium keningku dan perlahan berjalan menjauh dengan
koper di tangannya. Aku takut Danielku tak kembali. Hhh sekali lagi, aku
pasrahkan semuanya kepada Illahi. Aku hanya duduk di kursi tunggu airport bersama
keluargaku dan keluarga Daniel yang belum pulang untuk menunggu keberangkatanku
ke Berlin. Satu jam setelah pesawat Daniel meluncur, akhirnya Pesawat dengan
nomor penerbangan GAO21 tujuan Berlinpun mendarat. Lalu aku berpamitan dengan
keluargaku dan keluarga Daniel, air mataku kembali mengalir.
Daniel,
apakah kita dapat bertegur sapa? Walau kita terpisah oleh benua yang berbeda?
***
Kulihat Calenderku
yang berdiri di atas meja riasku. Terlihat sebuah angka yang dilingkari pada
calendar itu, 08 Agustus 2013. Tapi kini 08 Agustus 2018. Sudah lima tahun lalu
hal itu terjadi. Aku tak pernah melupakan tanggal bersejarah itu, tanggal
ketika aku dan Daniel terbang menuju benua yang berbeda. Hingga saat ini aku
tak pernah lupa, ketika Daniel mencium keningku dan perlahan menjauh dari
pandangan mataku. Aku ingat semua memori itu.
“haaaah indahnya.”
Ku buka jendela kamar apartemenku agar udara pagi masuk kedalam. Ku pandangi
pemandangan sekitar yang begitu indah. Termasuk menara Eifel yang berdiri kokoh
tepat di depan jendela apartemenku. Ya, menera Eifel. Sekarang aku ada di
Paris, Prancis. Sudah 1 tahun aku tinggal disini. Setelah lulus kuliah pada
tahun 2017, aku ditarik oleh sebuah perusahaan besar Prancis, dan akhirnya aku
bermigrasi dan tinggal disini. Ditempat yang dulu aku cita-citakan bersama
Daniel, Prancis.
Ketika aku sedang
menikmati segarnya udara pagi dan melihat indahnya pemandangan, tiba-tiba
seorang pria mengampiriku lalu melingkarkan tangannya dipinggangku.
“Selamat pagi
sayang.” Sambutnya
“Selamat pagi juga
sayang.” Aku membalas ucapannya. “kok sudah bangun?” aku lanjut bertanya.
Ia tak menjawab
apa-apa. Ia hanya tersenyum dan memberikan kecupan di keningku. kecupan yang tak ada bedanya ketika di
airport dulu. Ya, kecupan seorang Daniel.
Kini aku sudah
menikah dengannya. Setelah aku dan Daniel lulus kuliah, tak kuduga kami ditarik
oleh perusahaan yang sama di Prancis. Awalnya aku tak percaya, aku takut ini
hanya ilusiku saja. Tapi ternyata tidak. Ini adalah nyata, ini adalah realita.
Tuhan memang Maha
Adil, Ia telah merencanakan rencana yang lebih indah dari apa yang kita kira.
Tuhan telah benar-benar mengatur segalanya dengan bijaksana. Aku benar-benar
bersyukur. Tuhan telah memberikanku kebahagiaan yang tiada tara. Dan kini, atas
kekuatan cinta dan ridha-Nya, aku dapat kembali bersama Daniel bahkan kini aku
dan Daniel dapat tinggal bersama di Paris, tempat yang kita damba.
Kekuatan cinta dan
Ridha-Nya adalah kuci utamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar