Selasa, 25 Maret 2014

Kutemukan Kau di Pulau Dewata




“Itu milikku Nukeu.” Rio merampas mainan milikku. “Enak saja, ini milikku. Kemarin ayahku yang belikan. Kamu kan sudah punya, kenapa masih saja merampas milik ku!” Terkadang aku jengkel dengan kelakuan Rio yang selalu saja merebut barang-barang milikku. Hampir setiap hari aku selalu bertengkar dengannya, walau karena hal sepele. Tak pernah satu hari kami tidak bertengkar.  
“Nukeu Nasutiooooon.” Tiba-tiba Rio melempar sebuah cake ke kepalaku dari lantai  dua.
“Rioooooooo!!” Aku langsung mengejar Rio.
“Coba kejar kalau kamu bisa.” Rio menjulurkan lidahnya. Aku semakin geram padanya. Aku terus mengejar  RIo. Hingga akhirnya, ketika kami sedang berkejaran di tepi kolam renang, Rio terpeleset dan jatuh ke kolam. Beruntung dia jatuh kekolam yang dangkal. “hahahahahhahahaha sukurin. Mangkanya jangan Jahil !” aku tertawa puas. Rio memanyunkan bibirnya dan berenang ketepi.
Kejadian semasa Taman kanak-kanak itu tak pernah aku lupakan. Rio adalah teman kecilku. Aku tak pernah lupa dengan masa-masa ketika bersamanya. Ketika rambutku masih berkepang dua dan Rio selalu memainkannya. Ketika Rio selalu memanggilku ompong. Ketika Rio menumpahkan ice creamku. Ketika aku dan Rio berebut mainan. Bahkan ketika Rio tak pernah berhenti menjahillku sewaktu SMP dan SMA dulu. Kejadian-kejadian itu masih terekam baik di otakku.  
Mengingat semua hal itu tak terasa air mataku mengalir. Sepertinya aku benar-benar merindukan Rio. Tapi aku tidak mungkin bertemu dengannnya. Aku hanya dapat melepaskan kerinduanku pada patahan robot milik Rio sewaktu kecil yang pernah aku rusak. Karena benda itulah satu-satunya kenangan ketika bersama Rio.  Kini aku berada sangat jauh dari Rio. ketika aku duduk dibangku SMA, orangtuaku pindah ke Sidney karena perusahaan papah akan mengadakan kerjasama dengan perusahaan di Sidney, dan mau tidak mau akupun harus ikut dengan mereka. Namun, ketika aku akan berangkat ke Sidney, aku belum sempat memberitahu Rio, karena ketika aku  pergi kerumahnya dan hendak memberi tahu, Rio sedang tidak ada dirumah. Sejak saat itulah aku benar-benar tidak pernah bertemu lagi dengan Rio. Terkadang aku ingin kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Rio, tapi itu suatu hal yang tidak mungkin. Karena aku tidak bisa meninggalkan kuliah ku disini. Dan kalaupun aku pergi, dimana aku bisa menemukan Rio? apakah dia masih ditempat yang sama ketika 17  tahun yang lalu?
***
Pagi ini aku harus datang ke kampus lebih awal, karena aku harus mempersiapkan untuk penelitian tentang anatomi manusia yang akan dilaksanakan hari ini. Ini adalah praktikum terakhirku, karena ini adalah smester trakhirku. Sebentar lagi aku akan mengabdi di masyarakat sebagai dokter.
“pagi pah, mah” sapa ku kepada papa dan mamah.
“pagi sayang.” Balas mamah dan papah bersamaan.
“aku berangkat ya mah, pah.” Aku berlari menuju garasi dengan mulut penuh dengan roti.
“anak itu, selalu saja begitu.” Gerutu mama.

***
Aku lelah sekali, setelah saharian penuh aku melakukan praktikum. Aku membaringkan tubuhku di sofa ruang keluarga. Ku coba memejamkan mataku sambil menikmati alunan music dari handphoneku.
“Nukeu.” Suara mama mengejutkanku.
“iya ma. Kenapa?” jawabku.
“setelah kamu lulus kuliah, kita akan kembali ke Indonesia.” Ujar mama sambil tersenyum.
“hah?” aku terbelalak mendengarnya.
“iya. Kita akan pindah lagi ke Indonesia. Karena perusahaan papah di Indonesia sedang mengalami krisis, oleh karena itu. Papah harus turun tangan dalam menanganinya.” Jelas mama kepadaku.
“kita gak akan pindah-pindah lagi kan?” tanyaku kepada mama.
“kemungkinan seperti itu.” Mama tersenyum “papah sudah memutuskan, papah yang akan memegang perusahaan di Indonesia, sedangkan perusahaan yang disini papah percayakan kepada Om kamu. Dan ketika di Indonesia nanti, kamu sudah bisa bekerja di salah satu rumasakit di Jakarta Barat,  ” Mama melanjutkan penjelasannya.
“rumasakit milik bibi ma?” aku bertanya kepada mama. Mama hanya mengangguk membalas pertanyaanku.
Aku sangat senang mendengarnya. Aku akan segera kembali ke Indonesia. Dan berharap bertemu dengannya.

***
Semua mahasiswa sudah berkumpul di aula kampus ditemani dengan kedua orang tuanya. Begitupun dengan aku, aku sudah berkumpul bersama mahasiswa lain ditemani mama yang begitu cantik dan papa dengan menggunakan jas begitu gagahnya. Ini adalah waktu yang ku tunggu-tunggu. Waktu dimana aku mengenakan toga dan resmi menjadi seorang dokter seperti yang aku cita-citakan. Aku lulus dan mendapat gelar dokter di Sidney University dengan nilai yang membuat mama dan papa bangga. Aku lulus dengan gelar cumloud.
Seperti yang mama katakan, setelah lulus kuliah aku dan keluargaku akan kembali ke Indonesia. Tepat setelah acara di kampusku selesai, aku dan orangtuaku segera terbang ke Indonesia.
***
Aku sangat bahagia karena bisa meninjakan kaki lagi di nusantara. Aku kembali ke Jakarta. Jakarta yang macet. Jakarta yang tak pernah lepas dari banjir. Tapi aku merindukan hal itu, aku merindukan berlama-lama dimobil karena macet. Aku merinndukan ketika membersihkan lumpur yang masuk kedalam rumah karena banjir. Konyol memang, tapi aku merindukannya.
Akhirnya aku sampai dirumahku, tidak ada yang berbeda. Hanya ada sedikit renovasi pada halaman belakang saja. Aku segera menuju kamarku. Ku lempar koperku dan ku jatuhkan tubuhku pada tempat tidur. Aku memandangi sekeliling kamarku, aku kembali ingat pada Rio. dan aku, menangis lagi. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi dimana?
“Ah mungkin dia juga sudah lupa denganku” aku mengusap air mataku kasar.
Aku segera tidur. Karena esok aku sudah mulai bekerja.
***
Pagi ini aku sudah siap dengan span pendek dipadukan dengan kemeja abu-abu simple yang di timpa dengan jas putih dengan stetoscop dikantongnya. Aku berjalan menyusuri koridor rumasakit menuju ruangan bibiku. dr. Riyana pemilik rumasakit ini.
“Pagi bi” sapaku kepada bibi yang sedang sibuk dengan kertas-kertas dihadapannya.
“eh, ya ampun Nukeu, kamu cantik sekali. Bagaimana kabarmu nak?”
Aku berbincang-bincang cukup lama dengan bibi. Namun percakapan kami terpotong karena bibi mendapat telfon bahwa ada pasien yang kritis. Bibi lalu menyuruhku untuk menangani pasien itu.
“Nukeu, kamu yang tangani ya?”
Aku mengangguk mantap.
Lalu aku segera menolong pasien itu dengan dibantu oleh beberapa dokter yang lain. Ternyata cukup parah penyakit yang diderita pasien itu, ia menderita tumor otak stadium akhir.
Setelah menangani Pasien itu, aku menangani pasien-pasien yang lain.
***
Sudah enam bulan aku berada di Indonesia. Aku masih merindukan Rio. Tapi aku tidak kunjung menemukan informasi tentang Rio. Aku sering mencarinya di social media. Tapi nihil. Aku juga sempat mencari ke rumah yang dulu ia tinggal, tapi sia-sia. Ia sudah pindah sejak lama.
Hari ini aku diamanatkan oleh bibi Riyana untuk menghadiri rapat Persatuan Dokter Seluruh Indonesia di pulau dewata. Aku menyanggupinya, sekaligus aku ingin berlibur kesana.
Sesampainya disana, aku segera menuju hotel yang telah aku pesan sebelumnya. Aku ingin segera beristirahat.
“Ini kunci kamarnya bu.” Ujar resepsionis hotel itu seraya menyerahkan kunci kamarku.
“Mba, kunci kamar saya mana?” seorang pria tampan dan gagah datang meminta kunci kamarnya. Entah mengapa aku terkesima melihatnya.
“ah. Nukeu, ngeliat bule cakep di Sidney biasa aja, kenapa ngeliat dia terkesima.” Gerutuku dalam hati. Aku segera menuju kamarku, terlihat dari kejauhan pria itu menatapku. Seketika pipiku merah.
Aku masih sangat terbayang wajah pria itu, aku tidak mengenalnya tetapi wajah itu seakan tak asing lagi untukku. Seolah aku sudah lama mengenalnya dan sering berjumpa dengannya.
***
Rapatpun selesai. Ternyata pria yang aku temui di resepsionis hotel itu adalah seorang dokter juga, ketika rapat, aku duduk berdamppingan dengannya. Dia benar-benar membuatku terkesima.
 Aku segera kembali ke hotel dan berganti pakaian. Aku ingin menikmati indahnya pulau Dewata.
Aku menghabiskan waktuku untuk berjalan-jalan dipantai dan berwisata kuliner disekitarnya. Terik mata hari yang membakar kulitku tak ku hiraukan. Aku seperti menemukan duniaku kembali. Tak terasa matahari telah kembali ke peraduannya. Aku duduk dan meluruskan kakiku diatas lembutnya pasir pantai sambil melihat matahari yang bersembunyi dibalik hamparan laut yang tiada bertepi.
Aku rindu kamu. Dimana aku akan menemukanmu?. Ku tulis kata itu di atas pasir putih yang terhampar luas di sekelilingku.
“aku juga sedang merindukan seseorang.” Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dibelakangku. Aku menoleh untuk memastikan siapa pria itu. Dan aku terkejut, ternyata dia adalah pria yang aku temui di resepsionis hotel itu.
“aku merindukan seseorang yang sangat aku sayang, sudah 17 tahun aku tidak bertemu dengannya. Aku mencintainya, tapi belum sempat aku mengungkapkannya. Dia sudah pergi meninggalkanku.” Pria itu lanjut bercerita. Aku hanya senyum dan menganggukan kepala.
“Dia… ?” Aku memberanikan untuk bertanya. Tetapi belum sempat aku melanjutkan pertanyaanku, pria itu memotongnya.
“Dia teman kecilku. Aku sudah berteman dengannya sejak taman kanak-kanak. Tetapi ketika duduk dibangku SMA, dia pindah. Dan setelah itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya.”
Aku tercengang mendengar pengakuan pria itu. Mengapa semuanya sama? Atau mungkin……….
Ketika aku sedang terbang bersama khayalanku. Tiba-tiba pria itu menggenggam tanganku.
“Nukeu, aku rindu kamu, aku sayang kamu.” Ujar pria itu.
“Hah?” aku terkejut mendengarnya.
“kamu ingat ini?” pria itu menunjukan sebuah benda yang tak asing lagi bagiku. Patahan tubuh robot yang telah rusak. Tanpa disadari, air mataku mengalir.
“Rioo.” Aku berkata dengan suara lirih. Rio benar-benar sangat berbeda, dia lebih terlihat dewasa
“Iya, ini aku.  Nukeu  aku rindu kamu, dan selama ini aku selalu menunggu kamu kembali ke Indonesia. Aku ingin mengatakan semuanya, aku ingin mengatakan perasaanku yang tertunda. Nukeu aku sayang kamu. Aku ingin memilikimu” Ujar Rio seraya mengapus air mataku.
“Rio, aku rindu kamu.. dan aku… aku juga menyayangimu.” Ujarku masih dengan air mata yang tak henti mengalir. Rio menggenggam tanganku erat.
“Aku ingin hubungan kita berakhir bahagia. Terpisah bukan karena orang ketiga atau terpisah karena kita berbeda, tapi karena waktu dimana aku tak bisa lagi bernafas dan berdiri untukmu.” Genggaman tangan rio semakin erat. Air mataku semakin deras mengalir.
“Aku menemukanmu lagi.” Aku berkata dengan air mata bahagia. Tuhan, terimakasih untuk semuanya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar