Kadang gue gak mengerti bagai mana pemikiran seorang perempuan.
Apapun yang dia inginkan apa harus dilakukan? Gue juga kadang gak ngerti apa yg
ada difikiran Shila, pacar gue. Apapun keinginan dia, pasti harus gue turutin,
pasti harus gue lakukan, apapun itu keinginannya. Tapi anehnya, gue pasti
selalu mengiyakan, walaupun sebenarnya hati gue menggerutu.
***
"Le ke kantin?"
"Ayok"
Gue memenuhi ajakan Opal. kami pun segera berlalu meninggalkan kelas
dengan bayangan-bayangan ayam goreng ibu kantin yang terus menghantui kepala
gue.
"Uleeeeeee." Teriakan seorang perempuan membuyarkan
imajinasi gue. Gue mencari sumber suara itu. Dan gue menemukannya, seorang
perempuan manis dengan bandana pink simple yang terselip diantara rambut hitam
panjangnya. terlihat dari kejauhan perempuan itu melambaikan tangan ke arah
gue. guepun menghampirinya.
"Iya Shil, kenapa?"
"Ulee, temenin Shila ke perpus yuk?"
"ke perpus ?"
"iya. Shila mau ngerjain tugas."
"Tapi shil, ule laper. Ule makan dulu ya sama Opal?"
"yah, Ule sayang sama Shila?" Shila memelas.
Gue paling gak bisa kalau lihat perempuan apalagi Shila menampakkan
wajah seperti itu. Akhirnya gue memutuskan untuk lebih memilih menemani Shila
ke perpus dan meninggalkan Opal dan ayam goreng.*tear*
***
Tim basket dan Cheersleaders di sekolah gue sangat terkenal.
Disamping karena dua grup itu sangat berprestasi, dua grup itu juga terkenal
karena personilnya yang cakep-cakep dan cantik-cantik. Shila sangat
mengidolakan Taufik, kapten basket itu. Taufik seangkatan dengan gue dan Shila.
Dia siswa kelas 12 IPA unggulan sedangkan gue dan shilla hanya siswa IPA
Reguler. setiap Taufik turnament pasti Shila yang akan duduk paling depan untuk
menyaksikannya. sebenarnya gue cemburu dengan kelakuan Shila, tapi entah kenapa
gue gk bisa marah sama dia. Pernah sekali gue melakukan tindakan paling bodoh
yang pernah gue lakukan. Karena gue benar-benar cemburu dengan kelakuan Shila
yang seperti itu, gue pernah mencoba mendekati Vyola, leader Cheerleaders
disekolah gue, niatnya gue cuma ingin membuat Shila cemburu, gue cuma ingin
Shila ngerasain apa yang gue rasain. Tapi karena itu, gue hampir putus sama
Shila. Dia bener-bener gak suka gue dekat dengan vyola. Akhirnya aku meminta
maaf kepada Shila. Sebenarnya ini sangat tidak adil. -_-
Sore ini Taufik dan tim basketnya mengadakan turnament, tentunya
Shila sangat semangat. Dia memintaku untuk menemaninya menyaksikan turnament
itu.
"Ulee cepetan dong, nanti turnamentnya keburu mulai."
"Iya ini ule udah ngayuh sepeda sekuat mungkin Shila.
kalau mau lebih ngebut, nih Shila aja
yang bawa sepedanya! Shila mau Ule dehidrasi?"
"Ule? Ule sayang sama Shila? Ule mau Shila yang
dehidrasi?"
Entah mantra apa yang ada di dalam kata-kata itu, yang jelas
kata-kata itu membuat gue mengalah lagi.
Beruntung turnament itu berlangsung cepat. Jadi gue gak perlu
lama-lama kepanasan terbakar cemburu.
karena masih siang, sepulang menyaksikan turnament itu, gue dan
Shila gak langasung pulang, gue dan Shila bersepeda terlebih dahulu ditempat
biasa kami bersepeda.
"Ule kita main disini dulu ya? Shila lagi males pulang, ntar
pulangnya agak sorean aja? ya le ya?"
"Tapi Ule banyak tugas buat besok Shil"
"Ule sayang kan sama Shila?"
Lagi-lagi Shila mengeluarkan jurusnya. dan tentu saja gue gak tega.
Shila memang paling bisa. OKE Shila fix.
Senja sudah menyebarkan semburat jingga, gue dan Shila memutuskan
untuk pulang.
"Ule makasih ya?" ujar Shila yang berjalan disamping
sepeda gue.
Suara shila terdengar lembut bercampur dengan angin sore yang sejuk.
Gue hanya mengangguk sambil terus menuntun sepeda. Tapi tiba-tiba langkah Shila
terhenti.
"Shila? kenapa berhenti?" aku bertanya khawatir.
"Ule, Shila mau bunga itu." Shila menunjuk bunga anggrek
berwarna putih yang menpel di Pohon mangga yang lumayan tinggi.
"Tapi itu anggrek siapa Shila?"
"Ini kebun kosong Ule, jadi anggrek itu gak mungkin ada yang
punya, Shila pengen banget punya tanaman hias."
"Tapi pohonnya tinggi Shila. Shila mau Ule jatuh?"
"Ule mau Shila yang jatuh?"
"-_-"
Akhirnya gue naik ke pohon mangga itu dan mengambil anggrek untuk
Shila.
***
Ini adalah hari jadi gue bersama Shila yang ke 3 tahun. Oleh karena
itu gue mengajak Shila jalan. Pukul 19:00 gue menemui Shila di rumahnya. Ketika
gue temui ternyata Shila masih belum siap juga. Alhasil gue harus nunggu satu
jam lagi.
"Ule, Ule bangun." Seorang perempuan membangunkan gue dari
tidur. ketika membuka mata, gue terkejut. Itu Shila?? Shila sangat berbeda dari
biasanya. Dia sangat cantik dengan short dress bunga-bunga dan rambut kuncir
satu dipadukan dengan pita putih yang anggun.
"Shila lama ya? maaf ya. sampe Ule ketiduran gini."
Gue hanya diam dan tersenyum. Gue masih terpesona oleh penampilan
Shila malam ini. She so special to night.
Malam ini gue dan Shila pergi ke pantai. Disana gue sudah pesan
tempat yang istimewa. Gue memilih tempat yang strategis yang dekat dengan
pantai juga dekat dengan kolam
renang. Gue meminta kepada pemilik tempat itu agar tempat itu ditata sedemikian rupa agar berkemistri
romantis. Dan Gue sudah menyiapkan banyak kejutan. salah satunya adalah gue
akan memberi Shila cincin.
Jadi skenarionya begini, gue akan mengajak Shila ke tepi kolam
renang dan memandang pantai, nah ketika Shila sedang asik memandang ke arah
pantai, dari arah belakang gue akan memberikan cincin itu. keren kan skenario
gue?.
"Shila, kesana yuk?"
gue mulai menjalankan skenario gue yang sepertinya akan berhasil.
dan benar saja, rencana gue berhasil. Shila terlihat sangat senang dan gue pun
lebih senang. Gue mulai memakaikan cincin itu kejari manis Shila. Tapi, ketika
gue hendak memakaikan cincin itu, seorang pramusaji menyenggol tubuh gue. Gue
terjatuh dan akhirnya, akhirnya, akhirnya cincin itu jatuh kedalam kolam
renang. Gue semakin bingung, Shila terlihat sangat kecewa. Gue harus bagai
mana? tapi tanpa pikir panjang, gue langsung menceburkan diri gue ke kolam
untuk mengambil cincin itu. Karna gue gak mau mendengar Shila mengelurkan
kata-katanya yang mengandung mantra itu lagi. Tapi setelah beberapa menit gue
berada didasar kolam, gue gak ingat apa-apa.
***
Tubuh gue terasa sulit di gerakan. Gue mencoba membuka mata gue
perlahan. disamping gue sudah ada Shila yang terisak dan seorang suster
disampingnya.
"Saya tinggal ya mbak." ujar Suster itu.
"Ule, Ule kenapa lakuin ini. Ule tau kan ule gak bisa berenang?
kenapa ule maksa? lagian cincin bisa dibeli lagi kan?" Shila masih
terisak.
gue hanya membalas senyum perkataan Shila.
"Ule! Ule gak boleh kaya gitu lagi!"
"Shila, dengerin Ule, Ule lakuin itu karena Ule gak mau denger
kata " Ule? Ule sayang sama Shila?" karena Ule udah pasti sayang sama
Shila."
Mendengar itu, tiba-tiba Shila terdiam. Matanya semakin memerah dan
perlahan mulai mengeluarkan air mata.
Gue menghapusnya halus. Terlukis jelas penyesalan diwajahnya. Gue mencoba
menenangkan Shila.
"Ulee maafin Shilaaa."
Tangisan Shila semakin pecah, ia lalu memeluk gue yang masih kuyup.
"Ule sayang Shila." gue berbisik ditelinganya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar