Rabu, 14 Mei 2014

Tuhan Mencintai Kita?




Mentari bersinar begitu indah. Memancarkan cahayanya yang sangat mewah. Nyanyian burung begitu merdu memecah kedamaian pagi yang masih terbungkus embun. Ku ikat tinggi rambut ku dan ku ambil handuk. Segera ku langkahkan kaki menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri setelah semalam bergelut dengam mimpi.

Aku menatap diri dihadapan cermin. Ku amati setiap detail penampilanku. Kaos panjang yang ditimpa dengan baju kodok berwarna peace menjadi pilihanku. Ku kenakan jilbab yang juga berwarna peach untuk menutupi mahkota indahku. Sedikit ku oleskan lipgloss dibibirku agar tidak terlalu kering. Ketika sedang merapihkan jilbab. tiba-tiba handphoneku berbunyi disana terpampang jelas nama kekasihku. Dadaku terasa begitu bergejolak, jantungku terasa ingin copot setiap kali aku menerima telfonnya.

"Na? Udah siap?" tanya Reno dibalik telfon.
"Udah kok."
"Aku jemput ya? See you sayang." Reno menutup teleponnya.
Aku segera meminta izin kepada ibu. Tak lama kemudian suara kring-kring sepeda memanggilku. Aku segera keluar dan menemui Reno, pemilik sepeda itu.
"Bu, kita pergi dulu ya bu." Ujar reno kepada ibu ramah.

Reno terlihat sangat tampan kali ini. Ia mengenakan kaos V neck berwarna abu-abu dan jaket berwarna hitam dengan rambut tak teratur. Tapi dia terlihat sangat cool.
"Jangan kenceng-kenceng bawa sepedanya."
"Biarin biar kamu tambah erat peluk akunya." Reno terkekeh dengan tatapan jahil. Aku mencubit pundaknya. Ia tertawa geli.
Akhirnya setelah cukup lama bersepeda membelah angin, kami pun sampai di tempat yang menjadi tempat favorit kami. Tapi disana tidak ada siapa-siapa. Tempat itu kosong, bahkan Rika, yang mengajak kami pun tidak terlihat sama sekali.
"Terus gimana ren?" tanyaku kepada Reno. Reno hanya menggeleng lesu. kami hanya  diam ditempat itu.
Tapi tiba-tiba teriakan seorang anak perempuan mengejutkan aku dan Reno.
"Happy Birthday!" perempuan itu berteriak kencang sekali. Entah dimana ia bersembuyi karena sedari tadi aku tak melihatnya, tetapi dia tiba-tiba muncul dihadapan kami dengan cake dan balon di tangannya.
"Selamat ulangtahun untuk sahabatku Rina dan Reno. Semoga kalian panjang umur sehat selalu daaaann langgeng ya." Ia mengedipkan matanya. Aku geli mendengar ucapan terakhir Rika. Bukan. Bukan karena ia berharap hubunganku langgeng. Tapi cara berbicaranya dengan mengedip-ngedipkan mata itu yang membuatku geli. Aku senang mendapat kejutan dari Rika. Setelah semalam aku mendapat kejutan dari Reno dan akupun memberi kejutan kepada Reno. Aku dan Reno memang memiliki tanggal lahir yang sama. Awalnya aku tak percaya bahwa tanggal lahir kita sama. 'Karena tuhan mencintai kita.' Begitu jawab Reno ketika aku bertanya 'mengapa bisa sama?'. Sebenarnya jawaban Reno tidak logis. Apa hubungannya tanggal lahir yang sama dengan Tuhan mencintai kita? Setiap aku bertanya sesuatu hal. Dia pasti menjawab seperti itu. 'Karena Tuhan mencintai kita.' Aneh memang.
Rika mengajak kita berpesta kecil ditempat ini bukan semata untuk merayakan ulang tahun ku bersama Reno. Tapi ia juga mengajak kesini untuk melepaskan waktu bersama sebelum dia terbang ke Padang. Ya, Rika akan pindah ke Padang. Sebenarnya aku sangat sedih karena akan ditinggalkan oleh sahabat baikku. Tapi mau bagaimana lagi? Mungkin ini sudah menjadi rencana Tuhan.

Senja sudah menjemput malam. Akhirnya aku, Reno dan Rika bergegas pulang. Setelah seharian puas bermain-main dengan cream cake yang dibawa Rika. "Aku senang hari ini" batinku.

***
Aku membaca setiap soal dengan teliti. Dan menjawabnya dengan hati-hati. Perlahan tapi pasti, akhirnya aku dapat menyelesaikan semua soal yang diujikan. Aku sangat lega, karena hari ini adalah hari terakhir pelaksanaan Ujian sekolah. Selanjutnya, aku tinggal menunggu saja hasilnya. Semoga saja dapat memuaskan, demi asa depan.
Setelah mengumpulkan lembar jawaban kepada pengawas, aku membereskan peralatanku dan memasukannya ke tas. Aku segera menuju kelas Reno, kelas 12 IPA 4 yang hanya terhalang oleh kelas IPA 2 dan IPA 3 dari kelasku, 12 IPA 1. Aku mencarinya kesetiap sudut ruangan. Tapi aku tak menemukannya.
"cari Reno ya?" salah seorang siswa dikelas itu mengampiri ku.
"Iya, dia kemana?" aku balik bertanya.
"Tadi dia sakit, sekarang dia di UKS."
Hah? Reno sakit? tanpa berpikir panjang aku bergeges menuju UKS. Tanpa pamit dan  tanpa menucapkan terimakasih kepada dia yang telah memberi tahu ku tentang Reno yang kini berada di UKS. Hatiku begitu gusar, tak tenang, khawatir. Aku terus berlari menuju UKS, dan akhirnya aku temukan sosok yang aku cari, dia terlihat lemas. Disampingnya sudah ada petugas UKS yang menanganinya.
"Kamu kenapa?" Aku menatap mata Reno yang sayu. Kelopak mataku tak mampu lagi menahan air mata yang memaksa keluar.
"Kamu kenapa nangis? Gak usah alay. Aku gapapa." Reno menjulurkan lidahnya. Sempat-sempatnya dia bercanda disaat seperti ini.
"Ayo kita pulang." Ajak Reno.
"Tapi kamu masih sangat pucat."
"Sudah ku bilang, aku tidak apa-apa. Ayo cepat." Reno menarik tanganku. Tangannya hangat. Aku bisa merasakanya, dia demam.
"Aku gak bawa sepeda hari ini Na. Kita pulangnya jalan gapapa?"
"Iya gapapa." Aku tersenyum membalasnya.
"Kita kehilangan seseorang ya? biasanya ada Rika diantara kita."
"Kamu jangan buat aku sedih lagi." Aku menundukan wajahku.
"Maaf. Aku mengerti kamu sangat menyayangi Rika."
"Reno?.."
"Iya kenapa?."
"Gapapa." Aku tersenyum dan menatapnya.
Aku mulai lelah setelah berjalan lama. Jarak antara sekolah ke perumahan tempat aku dan Reno tinggal cukup jauh.
"Kamu capek?" Tanya Reno.
"Engga kok."
"Kalau capek. kamu naik angkot aja gih. Aku si pengen jalan." kata Reno sambil tersenyum.
"Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian dengan kondisi seperti ini. Pucat. Lemas. dan demam."
Reno menatapku lembut dan tersenyum. Ya Tuhan, hatiku kembali berdetak kencang.
Sepanjang jalan tak henti-hentinya kami beecanda. Tak mempedulikan orang disekitar memperhatikan. Yang ada difikiranku hanya aku senang bisa seperti ini bersama Reno. Langit mulai muram, awan kelabu mulai terlukis di hamparan langit biru. Tetesan air menetes dipipi ku.
"Hujan"
"Iya, aku juga merasakannya. langitnya gelap sekali." Ujar Reno.
"Ren, sebaiknya kita berteduh dulu."
"Ah gak mau, aku mau menikmati hujan."
"Reno! kamu lagi sakit."
"Maka dari itu. aku takut tak bisa menikmati hujan lagi" kini nada suara Reno merendah. Sebenarnya aku merasa janggal dengan perkataannya.
Hujan semakin lebat. Aku dan Reno tetap berjalan ditengah hujan. Sesekali aku berlari mengejar Reno. Kami tertawa lepas bersama saat itu.
Hujan sudah reda, sedikit lagi kami akan sampai diperumahan tempat kami tinggal. Tapi tiba-tiba langkah reno terhenti. Ia menarik tanganku dan tiba-tiba menutup mataku dengan jemarinya.
"Reno ini apa-apaan?" aku memberontak kesal.
Reno tak menggubrisnya. Ia menengadahkan kepalaku ke langit. Lalu perlahan ia membuka jemarinya.
"Reno. ini indah sekali. Pelangi indah warna warni."
"Kalau tadi kita naik angkot, mungkin kita gak akan melihat ini." Ujar Reno. "Tuhan memang mencintai kita." Ia mulai mengeluarkan kata kesukaannya 'Tuhan mencintai kita.'
"Yasudah ayo kita pulang. Sudah dekat nih." Reno menarik tas ku yang kuyup terguyur air hujan.
Ya Tuhan aku benar benar beruntung memiliki Reno.

***
Hari ini sekolah libur. Aku bosan sekali dirumah. Aku ingin keluar, tapi kemana? Oh ya, aku tiba-tiba ingat sesuatu. Lebih baik aku pergi ke rumah pohon. Rumah pohon milik aku dan Reno. Setiap kali aku sedih atau merasa bosan seperti saat ini, aku dan Reno sealalu pergi ke rumah pohon. Entah mengapa setiap aku dan Reno kesana, pasti selalu ada hal yang mengejutkan yang menyenangkan. Tapi sepertinya kali ini aku tidak bisa mengajak Reno. Aku khawatir dia masih sakit dan butuh istirahat, sepulang dari rumah pohon, aku akan menjenguk Reno.
"Renoo.. kamu ada disini?" aku terkejut karena ketika aku sampai dirumah pohon, Reno sudah ada disana.
"Kamu kenapa ada disini, buntutin aku ya?" celoteh Reno.
"Enak aja. Aku lagi bete aja, tadinya aku mau ajak kamu kesini, tapi aku fikir kamu masih butuh istirahat. Mangkanya aku pergi sendiri."
"Tapi akhirnya kita ada disini kan? tanpa direncanakan?" Ujar Reno yang melirik ke arahku.
"Tuhan memang mencintai kita." aku dan Reno berkata serempak. Kami diam lalu tertawa bersama.
"Ren.. Kamu pucat sekali.. bener kamu gapapa?" tanyaku khawatir.
Ia tek menjawab apa-apa. Seperti biasa ia hanya melontarkan senyum manisnya saja. aku bertanya lagi. Ia tetap tak menjawabnya. Akupun menyerah.
"Na?"
"Iya"
"Ini bunga untuk kamu. Bunga dari surga." Reno memberiku setangkai bunga kertas berwarna putih.
"Maaf bukan mawar yang aku beri." Reno melanjutkan perkataannya.
"Hmm hehe, makasih ini akan aku simpan."
Reno membalas senyum. Entah mengapa aku senang sekali. Bunga dari surga itu akan aku simpan.
"Na, aku pulang ya? aku gak enak badan"
"Biar aku antar ya?"
"Gak usah. Aku sendiri aja"
"Tapi..." Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, Reno sudah melaju dengan sepedanya. Aku benar-benar khawatir. Dia pucat sekali, bibirnya biru.
Setelah puas bermain di rumah pohon aku memutuskan untuk pulang.

***
Aku terus berlari menyusuri koridor rumahsakit, dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir  dipipi. Kakiku semakin tak sanggup berdiri ketika melihat ruang ICU semakin dekat. Aku ingin berbalik arah dan kembali ke rumah.
"Rina... Renoo.. Renoo..." Tante Rima tterisak. Hatiku sesak.
Jelas saja, hati ibu mana yang tak sedih melihat anaknya terbaring lemas dengan perlatan kedokteran yang menyiksa menempel ditubunya.
"Sepulang dari rumah pohon, dia langsung tak sadarkan diri." Kak Septi memeluku erat. Dapat ku rasakan, ia sangat tak ingin kehilangan adiknya.
"Masuklah. Dia membutuhkanmu" Kak Septi mempersilahkanku masuk menemui Reno.
Sebenarnya aku benci melihat ini, pemandangan yang sangat perih, prmandangan yang sebenarnya tak ingin aku lihat. Orang yang aku sayang terbaring diatas kasur putih dengan selimut ditubuhnya, Infuse, oksiden, dan alat-alat lain terpasang ditubuhnya. Ingin rasanya aku lepaskan itu semua. Tapi aku sadar, itu akan semakin menyiksa Reno saja.
"Ren..." Aku tak kuasa menahan tangisku.
"Ren.. Reno.. aku menyayangimu, kamu harus sembuh. Demi aku. Jantung bocor yang menyerangmu terlalu mudah untuk kamu taklukan. Kamu harus bisa. Kak Septi, mama dan aku akan senang jika kamu bisa melawannya. Aku ingin melihat pelangi bersamamu lagi. Aku ingin bersepeda dengamu lagi. Aku ingin bermain dirumah pohon bersamamu. Aku aku aku ingin bunga surga darimu lagi.. Ren kamu harus kuat. Demi aku. Demi mama. Demi kak septi. bukankah Tuhan menyayangi kita? Ren!! Ronoo!! Bangunn Renoooooo."

***

Aku ingin Reno disini. menemani setiap hari-hariku dengan seyumnya yang selalu ia berikan untukku. Tapi takdir berkata lain, tapi takdir bertolak belakang dengan apa yang aku harapkan. Ternyata harapanku tak sejalan dengan apa yang telah digariskan oleh-Nya. Aku ingin menolak. Aku ingin memberontak. Mengapa Reno harus pergi secepat ini? Tuhan tidak kah kau berikan lagi Reno waktu yang lebih lama untuk bersamaku? Reno mengapa kamu pergi? Aku tak sanggup jika harus melewati semua sendiri. Rika pergi. Kamu kenapa harus pergi? Aku seperti daun layu berjatuhan yang lelah menempel didahan. Aku tak punya kekuatan. Kenapa kamu pergi saat aku yakin tak ada lagi tambatan?
"Selama ini kamu salah ren, Tuhan tak mencintai kita. Dia lebih mencintai kamu." Aku masih terisak disampimg nissan Reno. "Selamat jalan Ren." Aku mengusap nissan Reno dan meninggalkan bunga surga disampingnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar