Ku
buka jendela kaca kamarku. “haaah segarnya” . ciptaan Tuhan memang tiada
tandingannya. Setelah puas menghirup udara segar, aku segera membereskan tempat
tidur ku dan bergegas ke kamar mandi. Aku tidak boleh terlambat lagi, karena
minggu kemarin, aku terlambat dan mendapat hukuman dari dosen ku.
Setelah
semuanya rapih, aku segera turun dan sarapan bersama mamah, papah ku.
“aku
berangkat ya mah, pah” pamit ku kepada orang tua ku.
“hati-hati
sayang” ujar papahku.
“khanza,
ini buku mu tertinggal” panggil mamaku ketika aku hendak memasuki mobil.
“oiya
mah, makasih mah” ucapku sambil tersenyum. Setelah itu aku kembali ke mobil dan
segera berangkat menuju kampus.
***
“khanza!”
terdengar suara Rafli dan Ola memanggilku. “eh kalian, tugas kemarin
bagaimana?” tanyaku kepada mereka “sudah selesai dong” jawab mereka bersamaan.
Kami adalah mahasiswa fakultas kedokteran di salah satu Universitas di Jogja.
Ola dan Rafli adalah teman satu kelas ku, mereka sahabat baik ku. Kami selalu
bersama-sama kemanapun kami pergi.
Siang
itu setelah kuliah selesai, kami makan siang di restoran cepat saji dekat
kampus, sambil menunggu makanan datang, aku, Ola dan Rafli membicarakan projek
untuk mata kuliah esok. Tak lama kemudian makananpun datang. Kamipun segera
menyantapnya.
“khanza,
tadi siang Ricky nanyain kamu” tiba-tiba Ola berkata dengan mulutnya yang penuh
dengan Pizza.
Ricky
adalah teman sekelas ku juga. Ia selalu meraih gelar mahasiswa terbaik setiap
semesternya. Dan jujur saja aku mengaguminya. Setiap ada persoalan yang sulit,
aku pasti bertanya kepadanya, dan ia selalu memberikan penjelasan dengan senang
hati.
“hah?
Serius? “ aku kaget. Seorang ricky. Mahasiswa terbaik di fakultas kedokteran
menanyakan aku?
“ini serius.” Omel Ola. “katanya dia ingin
menemuimu nanti malam di sini”
“ah,
lebih baik kamu tak usah menemuinya za” gerutu Rafli tiba-tiba.
“eh,
memangnya kenapa? Kok kamu bicara seperti itu?” bentak ku sewot.
“Dia
tidak baik” jawab Rafli singkat.
“tidak
baik bagaimana? Jelas jelas dia sering membantuku” cerocosku membela Ricky.
“sudah-sudah.
Rafli, lagian kenapa kamu begitu, gak suka ya liat khanza senang” Ola membela
ku. Rafli hanya diam dan ia melanjutkan makannya.
“kayanya,
Ricky suka sama kamu deh za, soalnya sudah seminggu ini dia selalu bertanya
tentang kamu.” Penjelasan Ola membuatku tersipu, dan membuat merah pipiku.
“lalu
kenapa kamu baru bilang sekarang?” sanggah ku
“ya,
aku baru ingat sekarang, dia ingin menemuimu disini saja aku hamper lupa, hehe”
ujar Ola tanma merasa bersalah.
“nih
uangnya, cepat kalian bayar, aku lelah” ujar Rafli dengan nada sewot. Lalu ia
pergi dan meninggalkan kami. Aku dan Ola heran melihat sikap dia.
***
Sesuai
yang dikatakan oleh Ola, aku menemui Ricky di restoran yang sama. Dan ternyata
benar, sudah ada Ricky menungguku dengan kemeja coklat. Ricky menyapaku hangat.
Aku pun membalas sapaannya.
Cukup
lama kami berbincang-bincang disana, ternyata, selain pintar, Ricky juga
humoris, aku jadi semakin tersanjung. Hari semakin larut malam. Akhirnya, kami
putuskan untuk pulang. Ditengah perjalanan tiba-tiba Ricky bertanya.
“za?
Aku… suka sama kamu” ucap Ricky dengan suara lembut. Aku yang tak percaya
dengan kata-kata itu, mencoba menegaskan kembali.
“hah?”
“iya,
aku suka sama kamu” Ricky mengulanginya lagi dengan senyuman manis dibibirnya.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Apa dia gak salah? Tetapi akhirnya, aku menerima
dia. Dan sejak saat itu, kami resmi menjalin hubungan.
Keesokan
harinya, aku menceritakan hal ini kepada Ola dan Rafli. Ola menyambut hal itu
dengan gembira. Tetapi tidak dengan Rafli, ia justru memarahiku.
“kamu
gimana si? Mau-maunya sama dia! Dia memang pintar, tetapi kamu tidak tau saja.
Aku tidak ingin kamu yang dulu hilang nantinya. Aku tidak ingin kamu yang
sempurna karena dibuat-buat, tetapi aku ingin kamu yang sempurna apa adanya”
Aku
tidak mengeti dengan perkataan Rafli. Aku mencoba meminta penjelasan darinya,
tetapi ia selalu meanjelaskan dengan nafsu dan emosinya. Aku jadi malas
mendengarnya.
***
Hubunganku
dengan Ricky sudah berjalan satu bulan. Dan aku merasakan kejanggalan. Ricky
selalu menuntutku untuk melalukan hal yang ia mau. Mulai dari fashion dan
makananpun ia yang mengatur. Ricky selalu memintaku untuk menemaninya kemanapun
ia mau, walaupun aku sudah lelah.
“kamu
jangan terlalau menuruti apa kata Ricky” kata Rafli kepadaku.
“apaan
sih kamu, Ricky kaya gitu kan karna dia sayang sama aku, dia mau kemanapun dia
pergi selalu ada aku.”
“itu
yang namanya sayang?! Membiarkan mu kelelahan, dan hanya memikirkan kepentingan
dia?! Egois!”
Aku
ingin menjawab perkataan rafli, tapi tiba-tiba kepalaku berat dan aku merasakan
sakit yang sangat pada diagframaku. Seketika keadaan sekelilingku menjadi
gelap.
***
“khanza”
terdengar suara yang tak asing lagi ditelingaku, terlihat nanar wajah mama dan
papa dihadapannku.
“mah,
pah, kenapa menangis?” tanyaku heran.
“mamah
dab papah mengkhawatirkanmu nak, tadi Rafli dan Ola yang membawamu ke sini dan
menghubungi mamah dan papah.” Jelas mamah kepadaku.
“tadi
kamu pingsan za” Ola meneruskan pembicaraan mamah.
“memangnya
aku sak….” Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, rasa sakit itu kembali
menyerang lagi. Aku segera dipindahkan ke ICU, terlihat semu wajah orang tua
dan kedua sahabatku mereka semua meneteskan air mata, karena aku.
***
Setelah
tiga hari tak sadarkan diri, akhirnya aku sadar. Dan disekelilingku sudah ada
orangtua dan kedua sahabatku, Ola dan Rafli. tapi aku tak melihat seorang yang
aku rindukan, aku tak melihat Ricky. Bahkan sejak hari pertama aku jatuh sakit,
ia tak menjengukku. Mungkin dia sedang sibuk dan belum sempat menjengukku.
“sayang,
kamu harus banyak istirahat ya? Mamah dan papah harus ke kantor dulu, kamu disini
bersama ola dan Rafli ya” ujar mamah dan papah seraya mengusap kepalaku. Aku
hanya menganggukan kepalaku.
“dengar
tuh kata orang tua kamu, kamu jangan terlalu menuruti apa kata Si Ricky yang
jelas-jelas menyiksa kamu, bukan menyayangimu.” Celoteh Rafli
“Ricky
menyayangiku!” tukasku.
“mana
buktinya, sampai sekarang ia tak kunjung menjengukmu? Seperti itukah orang yang
sayang sama kamu?”
“dia
mugkin sedang sibuk, pasti dia akan menjengukku nanti” aku tetap membela Ricky.
“se
sib…”
Belum
sempat Rafli melanjutkan pembicaraanya. Ola memotongnya.
“sudah,
kalian itu engga ada habisnya, ribut terus.”
Akhirnya
kami diam.
Aku
bingung dengan keadaanku, sebenarnya aku sakit apa? Sehingga aku harus dirawat
seperti ini. Akhirnya, aku putuskan untuk menanyakan hal ini kepada Rafli dan
Ola.
“la,
fli, sebenarnya, aku ini sakit apa? Dokter sudah memberikan keterangan?”
tanyaku kepada kedua sahabatku.
Tetapi
kedua sahabatku hanya diam. Mereka tak menjawab pertanyaanku. Setelah aku paksa
mereka, barulah mereaka menjawab.
“kamu,,
baik-baik saja” jawab Rafli
“bohong!
Kalau aku baik-baik saja, kenapa aku ada disini, seharusnya aku ada di kampus
sekarang.”
Mereka
kembali diam. Akhirnya Ola menjawab pertanyaanku.
“za,
kamu mengalami kerusakan hati, dan kamu harus segera oprasi, tetapi sampai saat
ini masih belum ada hati yang cocok untuk dicangkokan ditubuhmu” Ola
menjelaskan dengan air mata yang bercucuran. Sementara Rafli hanya tersenyum
menghibur dan mengusap kepalaku seolah semuanya baik-baik saja.
Aku
hanya diam. Membayangkan separah itu kah penyakit yang diderita ku? Aku akan
bertahan atau kah akan meninggalkan semuanya? Entahlah, aku hanya bisa pasrah,
mungkin ini sudah jalanku.
Orang
tuaku sudah pulang dari kantor. Aku kecewa karena mereka merahasiakan
pernyakitku. Tapi akhirnya mereka meminta maaf karena mereka melakukan semua
itu demi kebaikanku. Mereka takut aku akan down.
Dokter
membawa kabar gembira, besok aku sudah bisa melakukan oprasi karena sudah ada
hati yang cocok untuk dicangkokan. Akhirnya aku melewati proses oprasi dengan
lancar.
***
“za,
syukur ya kamu sudah sembuh” ucap Ola sambil memeluku, air mata dipipinya
begitu deras mengalir, mungkin dia sangat bahagia karena aku sembuh.
“ia
la, aku bersyukur sekali, aku sangat ingin berterimakasih kepada pemilik hati
yang dicangkokan ini. Seandainya ia masih hidup dan ada di sini aku akan
sangat-sangat berterimakasih.” Ucapku sambil tersenyum.
“berterimakasihlah
kepada orang yang tulus menyayangimu.” Ujar Ola
Aku
tak mengeti. Tiba-tiba aku teringat Ricky. Ya. Ricky. Ternyata dialah yang
mencangkokan hatinya untukku?. Air mataku mengalir deras.
“La,
maksud kamu apa? Aku tidak mengerti? Atau jangan-jangan Ricky yang mencangkokan
hatinya untukku?” tanyaku denga suara melemah.
Ola
hanya membalas perkataanku dengan senyuman, lalu ia memeluku. Aku mengerti,
mungkin ia tak sanggup mengatakannya. Aku hanya diam dan hanya bisa menangis
dipelukan ola.
Ketika
aku sedang larut dalam pelukan ola. Tiba-tiba ola menyerahkan sebuah buku
catatan yang bercoverkan sketsa wajah ku yang pernah digambarkan oleh Rafli.
Ola mengisyaratkan agar aku membacanya. Ku anggukan kepala dan perlahan aku
mulai membacanya.
Hai Khanza cantik..
Cepat sembuh ya..
Za.. kamu tau? Aku
sayang sama kamu J
selama ini aku gak pernah setuju sama hubungan kamu dengan Ricky itu bukan
karena aku tak ingin melihatmu bahagia. Justru aku ingin membuat kamu bahagia.
Mungkin arti bahagia kamu dulu adalah Ricky Ricky Ricky . dan kamu gak sadar
sebenarnya Ricky tak pernah membuatmu bahagia, tetapi dia selalu menyiksa
deangan keegoisan dirinya.. za, aku sudah kenal Ricky sejak lama.. aku gak mau
kamu kecewa J
Za sekali lagi, aku
sayang sama kamu za.. hhmmm tapi aku tak
mungkin memiliki kamu, sekarang aku hanya bisa melihatmu disini, memandangmu
dari kejauhan.. tapi tak apa, disini aku aman dalam pangkuan Tuhan. J
aku akan tetap menyimpan sayang ini dalam abadinya abadi. Hingga nanti kita
dipertemukan kembali.
Za, jaga diri kamu
baik-baik ya J
aku titip hatiku J
Tulisan
itu membuat ku perih, kini aku hanya bisa menangis dan menyesalinya. Aku kalut.
Aku benci diriku.
“RAFLIIIIIIIIIII…
KENAPA KAMU BERBUAT SEERTI INI?! KENAPA?!” . aku hanya bisa menangis penuh
sesal.
Spontan
aku berteriak, tanpa memperdulikan infuse ditanganku, ola mencoba menenangkanku
dan ia memelukku.
“RAFLI
MAAFKAN AKUUUU” …
***
Sepulang
dari rumasakit, aku dan Ola berziarah ke makam Rafli, air mata ku tak
terbendung lagi. “fli, aku akan menjalankan pesanmu, aku akan melupakan ricky
dan……… aku akan menjaga hati ini” . aku mengeluarkan air mata tanpa henti.
Kepalaku pusing. Dan…. Gelap.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar