Sabtu, 08 Maret 2014

Jaga Hati

Mentari pagi sudah membangunkan ku dengan pancaran hangat sinarnya. Kicauan burung menjadi alarm ku setiap pagi.

Ku buka jendela kaca kamarku. “haaah segarnya” . ciptaan Tuhan memang tiada tandingannya. Setelah puas menghirup udara segar, aku segera membereskan tempat tidur ku dan bergegas ke kamar mandi. Aku tidak boleh terlambat lagi, karena minggu kemarin, aku terlambat dan mendapat hukuman dari dosen ku.
Setelah semuanya rapih, aku segera turun dan sarapan bersama mamah, papah ku.
“aku berangkat ya mah, pah” pamit ku kepada orang tua ku.
“hati-hati sayang” ujar papahku.
“khanza, ini buku mu tertinggal” panggil mamaku ketika aku hendak memasuki mobil.
“oiya mah, makasih mah” ucapku sambil tersenyum. Setelah itu aku kembali ke mobil dan segera berangkat menuju kampus.

***
“khanza!” terdengar suara Rafli dan Ola memanggilku. “eh kalian, tugas kemarin bagaimana?” tanyaku kepada mereka “sudah selesai dong” jawab mereka bersamaan. Kami adalah mahasiswa fakultas kedokteran di salah satu Universitas di Jogja. Ola dan Rafli adalah teman satu kelas ku, mereka sahabat baik ku. Kami selalu bersama-sama kemanapun kami pergi.
Siang itu setelah kuliah selesai, kami makan siang di restoran cepat saji dekat kampus, sambil menunggu makanan datang, aku, Ola dan Rafli membicarakan projek untuk mata kuliah esok. Tak lama kemudian makananpun datang. Kamipun segera menyantapnya.
“khanza, tadi siang Ricky nanyain kamu” tiba-tiba Ola berkata dengan mulutnya yang penuh dengan Pizza.
Ricky adalah teman sekelas ku juga. Ia selalu meraih gelar mahasiswa terbaik setiap semesternya. Dan jujur saja aku mengaguminya. Setiap ada persoalan yang sulit, aku pasti bertanya kepadanya, dan ia selalu memberikan penjelasan dengan senang hati.
“hah? Serius? “ aku kaget. Seorang ricky. Mahasiswa terbaik di fakultas kedokteran menanyakan aku?
 “ini serius.” Omel Ola. “katanya dia ingin menemuimu nanti malam di sini”
“ah, lebih baik kamu tak usah menemuinya za” gerutu Rafli tiba-tiba.
“eh, memangnya kenapa? Kok kamu bicara seperti itu?” bentak ku sewot.
“Dia tidak baik” jawab Rafli singkat.
“tidak baik bagaimana? Jelas jelas dia sering membantuku” cerocosku membela Ricky.
“sudah-sudah. Rafli, lagian kenapa kamu begitu, gak suka ya liat khanza senang” Ola membela ku. Rafli hanya diam dan ia melanjutkan makannya.
“kayanya, Ricky suka sama kamu deh za, soalnya sudah seminggu ini dia selalu bertanya tentang kamu.” Penjelasan Ola membuatku tersipu, dan membuat merah pipiku.
“lalu kenapa kamu baru bilang sekarang?” sanggah ku
“ya, aku baru ingat sekarang, dia ingin menemuimu disini saja aku hamper lupa, hehe” ujar Ola tanma merasa bersalah.
“nih uangnya, cepat kalian bayar, aku lelah” ujar Rafli dengan nada sewot. Lalu ia pergi dan meninggalkan kami. Aku dan Ola heran melihat sikap dia.

***
Sesuai yang dikatakan oleh Ola, aku menemui Ricky di restoran yang sama. Dan ternyata benar, sudah ada Ricky menungguku dengan kemeja coklat. Ricky menyapaku hangat. Aku pun membalas sapaannya.
Cukup lama kami berbincang-bincang disana, ternyata, selain pintar, Ricky juga humoris, aku jadi semakin tersanjung. Hari semakin larut malam. Akhirnya, kami putuskan untuk pulang. Ditengah perjalanan tiba-tiba Ricky bertanya.
“za? Aku… suka sama kamu” ucap Ricky dengan suara lembut. Aku yang tak percaya dengan kata-kata itu, mencoba menegaskan kembali.
“hah?”
“iya, aku suka sama kamu” Ricky mengulanginya lagi dengan senyuman manis dibibirnya. Aku tak bisa berkata apa-apa. Apa dia gak salah? Tetapi akhirnya, aku menerima dia. Dan sejak saat itu, kami resmi menjalin hubungan.
Keesokan harinya, aku menceritakan hal ini kepada Ola dan Rafli. Ola menyambut hal itu dengan gembira. Tetapi tidak dengan Rafli, ia justru memarahiku.
“kamu gimana si? Mau-maunya sama dia! Dia memang pintar, tetapi kamu tidak tau saja. Aku tidak ingin kamu yang dulu hilang nantinya. Aku tidak ingin kamu yang sempurna karena dibuat-buat, tetapi aku ingin kamu yang sempurna apa adanya”
Aku tidak mengeti dengan perkataan Rafli. Aku mencoba meminta penjelasan darinya, tetapi ia selalu meanjelaskan dengan nafsu dan emosinya. Aku jadi malas mendengarnya.
***
Hubunganku dengan Ricky sudah berjalan satu bulan. Dan aku merasakan kejanggalan. Ricky selalu menuntutku untuk melalukan hal yang ia mau. Mulai dari fashion dan makananpun ia yang mengatur. Ricky selalu memintaku untuk menemaninya kemanapun ia mau, walaupun aku sudah lelah.
“kamu jangan terlalau menuruti apa kata Ricky” kata Rafli kepadaku.
“apaan sih kamu, Ricky kaya gitu kan karna dia sayang sama aku, dia mau kemanapun dia pergi selalu ada aku.”
“itu yang namanya sayang?! Membiarkan mu kelelahan, dan hanya memikirkan kepentingan dia?! Egois!”
Aku ingin menjawab perkataan rafli, tapi tiba-tiba kepalaku berat dan aku merasakan sakit yang sangat pada diagframaku. Seketika keadaan sekelilingku menjadi gelap.
***
“khanza” terdengar suara yang tak asing lagi ditelingaku, terlihat nanar wajah mama dan papa dihadapannku.
“mah, pah, kenapa menangis?” tanyaku heran.
“mamah dab papah mengkhawatirkanmu nak, tadi Rafli dan Ola yang membawamu ke sini dan menghubungi mamah dan papah.” Jelas mamah kepadaku.
“tadi kamu pingsan za” Ola meneruskan pembicaraan mamah.
“memangnya aku sak….” Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, rasa sakit itu kembali menyerang lagi. Aku segera dipindahkan ke ICU, terlihat semu wajah orang tua dan kedua sahabatku mereka semua meneteskan air mata, karena aku.
***
Setelah tiga hari tak sadarkan diri, akhirnya aku sadar. Dan disekelilingku sudah ada orangtua dan kedua sahabatku, Ola dan Rafli. tapi aku tak melihat seorang yang aku rindukan, aku tak melihat Ricky. Bahkan sejak hari pertama aku jatuh sakit, ia tak menjengukku. Mungkin dia sedang sibuk dan belum sempat menjengukku.
“sayang, kamu harus banyak istirahat ya? Mamah dan papah harus ke kantor dulu, kamu disini bersama ola dan Rafli ya” ujar mamah dan papah seraya mengusap kepalaku. Aku hanya menganggukan kepalaku.
“dengar tuh kata orang tua kamu, kamu jangan terlalu menuruti apa kata Si Ricky yang jelas-jelas menyiksa kamu, bukan menyayangimu.” Celoteh Rafli
“Ricky menyayangiku!” tukasku.
“mana buktinya, sampai sekarang ia tak kunjung menjengukmu? Seperti itukah orang yang sayang sama kamu?”
“dia mugkin sedang sibuk, pasti dia akan menjengukku nanti” aku tetap membela Ricky.
“se sib…”
Belum sempat Rafli melanjutkan pembicaraanya. Ola memotongnya.
“sudah, kalian itu engga ada habisnya, ribut terus.”
Akhirnya kami diam.
Aku bingung dengan keadaanku, sebenarnya aku sakit apa? Sehingga aku harus dirawat seperti ini. Akhirnya, aku putuskan untuk menanyakan hal ini kepada Rafli dan Ola.
“la, fli, sebenarnya, aku ini sakit apa? Dokter sudah memberikan keterangan?” tanyaku kepada kedua sahabatku.
Tetapi kedua sahabatku hanya diam. Mereka tak menjawab pertanyaanku. Setelah aku paksa mereka, barulah mereaka menjawab.
“kamu,, baik-baik saja” jawab Rafli
“bohong! Kalau aku baik-baik saja, kenapa aku ada disini, seharusnya aku ada di kampus sekarang.”
Mereka kembali diam. Akhirnya Ola menjawab pertanyaanku.
“za, kamu mengalami kerusakan hati, dan kamu harus segera oprasi, tetapi sampai saat ini masih belum ada hati yang cocok untuk dicangkokan ditubuhmu” Ola menjelaskan dengan air mata yang bercucuran. Sementara Rafli hanya tersenyum menghibur dan mengusap kepalaku seolah semuanya baik-baik saja.
Aku hanya diam. Membayangkan separah itu kah penyakit yang diderita ku? Aku akan bertahan atau kah akan meninggalkan semuanya? Entahlah, aku hanya bisa pasrah, mungkin ini sudah jalanku.
Orang tuaku sudah pulang dari kantor. Aku kecewa karena mereka merahasiakan pernyakitku. Tapi akhirnya mereka meminta maaf karena mereka melakukan semua itu demi kebaikanku. Mereka takut aku akan down.
Dokter membawa kabar gembira, besok aku sudah bisa melakukan oprasi karena sudah ada hati yang cocok untuk dicangkokan. Akhirnya aku melewati proses oprasi dengan lancar.
***
“za, syukur ya kamu sudah sembuh” ucap Ola sambil memeluku, air mata dipipinya begitu deras mengalir, mungkin dia sangat bahagia karena aku sembuh.
“ia la, aku bersyukur sekali, aku sangat ingin berterimakasih kepada pemilik hati yang dicangkokan ini. Seandainya ia masih hidup dan ada di sini aku akan sangat-sangat berterimakasih.” Ucapku sambil tersenyum.
“berterimakasihlah kepada orang yang tulus menyayangimu.” Ujar Ola
Aku tak mengeti. Tiba-tiba aku teringat Ricky. Ya. Ricky. Ternyata dialah yang mencangkokan hatinya untukku?. Air mataku mengalir deras.
“La, maksud kamu apa? Aku tidak mengerti? Atau jangan-jangan Ricky yang mencangkokan hatinya untukku?” tanyaku denga suara melemah.
Ola hanya membalas perkataanku dengan senyuman, lalu ia memeluku. Aku mengerti, mungkin ia tak sanggup mengatakannya. Aku hanya diam dan hanya bisa menangis dipelukan ola.
Ketika aku sedang larut dalam pelukan ola. Tiba-tiba ola menyerahkan sebuah buku catatan yang bercoverkan sketsa wajah ku yang pernah digambarkan oleh Rafli. Ola mengisyaratkan agar aku membacanya. Ku anggukan kepala dan perlahan aku mulai membacanya.

Hai Khanza cantik..
Cepat sembuh ya..
Za.. kamu tau? Aku sayang sama kamu J selama ini aku gak pernah setuju sama hubungan kamu dengan Ricky itu bukan karena aku tak ingin melihatmu bahagia. Justru aku ingin membuat kamu bahagia. Mungkin arti bahagia kamu dulu adalah Ricky Ricky Ricky . dan kamu gak sadar sebenarnya Ricky tak pernah membuatmu bahagia, tetapi dia selalu menyiksa deangan keegoisan dirinya.. za, aku sudah kenal Ricky sejak lama.. aku gak mau kamu kecewa J
Za sekali lagi, aku sayang sama kamu za..  hhmmm tapi aku tak mungkin memiliki kamu, sekarang aku hanya bisa melihatmu disini, memandangmu dari kejauhan.. tapi tak apa, disini aku aman dalam pangkuan Tuhan. J aku akan tetap menyimpan sayang ini dalam abadinya abadi. Hingga nanti kita dipertemukan kembali.
Za, jaga diri kamu baik-baik ya J aku titip hatiku J

Tulisan itu membuat ku perih, kini aku hanya bisa menangis dan menyesalinya. Aku kalut. Aku benci diriku.
“RAFLIIIIIIIIIII… KENAPA KAMU BERBUAT SEERTI INI?! KENAPA?!” . aku hanya bisa menangis penuh sesal.
Spontan aku berteriak, tanpa memperdulikan infuse ditanganku, ola mencoba menenangkanku dan ia memelukku.
“RAFLI MAAFKAN AKUUUU” …
***
Sepulang dari rumasakit, aku dan Ola berziarah ke makam Rafli, air mata ku tak terbendung lagi. “fli, aku akan menjalankan pesanmu, aku akan melupakan ricky dan……… aku akan menjaga hati ini” . aku mengeluarkan air mata tanpa henti. Kepalaku pusing. Dan…. Gelap. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar