Terlahir
dari keluarga yang serba berkecukupan. Rumah mewah, mobil mewah, ruang ber-AC
dan segala fasilitas yang serba ada. Mungkin menurut sebagian orang, hidup kita
akan bahagia dengan itu semua. Tapi tidak bagiku. Bagiku harta dan semua
keduniawian itu membuat semuanya tiada. Membuat aku kehilangan semuanya.
Terutama membuat aku kehilangan ayah. Seorang ayah biasanya selalu
memperhatikan anaknya, dimanapun ia, sedang apapun ia, pasti menyempatkan untuk
mengontrol anaknya. Tetapi tidak untuk ayahku, ia selalu mementingkan
pekerjaannya dibandingkan denganku. Terkadang aku iri melihat teman-temanku
yang selalu berkumpul dengan ayah dan ibunya. tetapi itu suatu hal yang
mustahil bagiku. Aku tidak mungkin dapat berkumpul dengan ayah dan ibu, karena
kini aku hanya memiliki ayah. Ibu sudah meninggal ketika aku masih berumur 5
tahun. Ibu meninggal karena menderita jantung. Dulu aku sempat menderita
jantung sama seperti yang ibu derita, namun sekarang penyakit itu sudah tidak
hinggap lagi ditubuhku, aku sudah sembuh. Walaupun dokter mengatakan
kesembuhanku ini tidak permanen dan suatu saat jika aku tidak bisa menjaga
kesehatanku, penyakit itu pasti akan
menyerang kembali. Tetapi ketika aku sakit itulah aku merasakan kasih sayang
seorang malaikat tanpa sayap walau tanpa bidadari disisinya. Ketika itulah aku
merasakan kasih sayang ayah walapun tanpa ada ibu, ketika itulah aku merasakan
hangatnya pelukan ayah, ketika itulah aku melihat tatapan sayang seorang ayah.
Tapi kini itu semua tak berlaku.
“ayah, pak supri sedang
tidak enak badan, jadi ia tidak bisa mengantar ku ke sekolah. Ayah antar aku ke
sekolah ya?”
Ini adalah kesempatan
ku agar aku bisa berangkat sekolah dengan ayah. Dengan tatapan penuh harap, aku
memohon kepada ayah agar ayah mau mengantarku sekolah.
“Nayla, kamu kan sudah
besar, sudah punya SIM kenapa kamu tidak bawa sendiri saja mobil mu?”
Jawaban ayah membuatku
kecewa. Tetapi aku tidak menyerah, aku tetap membujuk ayah agar mau mengantarku
sekolah.
“tapi yah, mobilku ban
nya kempes, aku ikut ayah ya?”. Bujuk ku dengan nada memelas. Aku sengaja
membohongi ayah agar ayah mau mengantar ku sekolah. Padahal mobilku baik-baik
saja.
“mobilmu kempes?
Yasudah nanti ayah belikan kamu mobil yang baru, ayah harus cepat-cepat ke kantor
karna ka nada meeting penting. Kamu berangkat menggunakan taksi, ayah sudah
telfon taksi untuk mengantarmu sekolah.”
Pagi itu aku
benar-benar jengkel. Aku benci ayah!. Hanya mengantarkan ku sekolah saja ayah
tidak bisa. Tak terasa air mata mengalir dipipiku. Aku rindu ayah yang dulu.
Tak beberapa lama
kemudia taksi datang. Akupun segera menuju sekolah. Ketika sampai tepat di
gerbang sekolah aku bertemu dengan Salma, sahabatku.
“kenapa kamu nangis?”
Tanya salma sambil menepuk bahuku.
“oh tidak apa-apa” jawabku
singakat.
“bohong! Ada masalah?
Coba ceritakan.” Salma terus membujuk ku agar aku menceritakan semuanya.
“nanti saja pulang
sekolah.” Jawabku singkat. Dan salma mengangguk setuju.
***
Bel
tanda pulang sekolah pun berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas.
Termasuk aku dan Salma. Aku dan Salma pulang bersama. Seperti biasa, sebelum
pulang kerumah, kami mampir terlebih dahulu ke warung es kelapa muda dekat
sekolah ku.
“ayo cerita.” Ujar
salma tidak sabar.
“tak usah ku ceritakan
pasti kamu sudah mengetahuinya.” Jawab ku.
“ayah mu lagi?” Tanya
salma.
Aku hanya mengangguk
sambil mengaduk-ngaduk es dihadapanku.
“Nayla, sudahlah, kamu
coba mengereti keadaan ayah mu, mungkin dia sibuk.” Ujar salma.
“apakah hanya aku saja
yang harus mengerti keadaan ayah? Kapan ayah akan mengalah dan mengerti keadaan
dan keinginan ku?” emosi ku mulai naik. Tetapi aku coba meredamnya.
Salma hanya diam. Ia
hanya menatapku lalu ia memelukku. Setelah aku dan salma menghabiskan es kelapa
muda itu, akhirnya kami pulang.
***
“ayaaah.” Aku berlari
menghampiri ayah yang sedang sibuk membereskan file-file kantornya.
“ayah, besok kan libur.
Kita jalan-jalan yuk yah? Aku ingin berlibur bersama ayah. Lagi pula kita sudah
lama tak pernah berlibur bersama kan yah?”
Aku
ingin sekali mengahabiskan waktu berdua bersama ayah. Bermain bersama ayah, makan
bersama ayah. Aku ingin merasakan kembali kedekatan seorang anak dengan ayahnya,
yang kini aku lupa bagaimana rasanya. Aku benar-benar merindukan ayah. Aku
butuh ayah. Oleh karena itu aku mencoba mengajak ayah untuk berlibur bersama.
Aku harap ayah akan menuruti keinginanku.
“ayah ingin sekali
berlibur dengan kamu sayang, tapi bagai mana? Pekerjaan ayah tidak bisa
ditunda. Dan besok pagi ayah sudah harus berangkat ke Beijing bersama rekan
ayah. Dan disana ayah cukup lama. Sekitar dua minggu, baru ayah akan pulang ke
Indonesia. Ayah janji, setelah pekerjaan ayah rampung, ayah akan ajak kamu
berlibur kemanapun kamu mau.”
Sudah
ku duga ayah akan menjawab seperti itu. Sedari dulu ayah selalu menjawab
seperti itu. Tetapi apa? Sampai sekarang ayah masih sibuk dengan pekerjaannya
dan tak pernah menepati janjinya untuk berlibur bersamaku. Dengan wajah merah
menahan tangis, aku berlari meninggalkan ayah. Terdengar suara ayah
memanggilku. Tetapi aku tidak menghiraukannya, aku tetap berlari menuju
kamarku. Aku benar-benar kecewa.
***
Pancaran
sinar mentari pagi menyeruak masuk ke dalam kamarku. Hembusan angin yang sejuk
menerpa tubuhku yang masih terbaring di atas tempat tidur. Perlahan ku buka
mataku. Dan dimeja riasku sudah tersedia segelas susu dan roti panggang
kesukaanku. Tadinya aku fikir yang menyiapkan itu semua adalah ayah. Tetapi
ternyata salah. Bi Siti lah yang menyiapkan semuanya. Ayah sudah terbang ke
Beijing sejak subuh, dan sebelum berangkat ayah berpesan kepada bi Siti untuk
menyiapkan sarapanku. Kenapa bukan ayah yang menyiapkannnya untukku? Aku jadi
malas untuk menyantapnya.
Aku
bosan dengan suasana rumah yang sepi seperti ini. Tidak ada ayah, apalagi ibu.
aku seperti hidup sebatang kara di dunia. Apalagi kali ini ayah pergi cukup
lama. Tetapi tiba-tiba aku teringat Salma. Seketika terbesit difikiranku untuk
menginap dirumahnya. Yaa untuk sementara waktu selama ayahku masih di Beijing.
Aku segera mengambil handphone ku dan menelfon Salma. Tetapi belum sempat aku
menelfonnya ternyata salma sudah ada di rumahku.
“heh” suara Salma
mengagetkan ku.
“heh, kamu mau
membuatku jantungan.”
“haha maaf.” Kata salma
tanpa rasa bersalah.
“oh iya sal, di rumahku
sepi, boleh aku menginap di rumahmu?” tanyaku kepada salma.
“wah tentu boleh
sekali. Malahan aku senang kalau kamu menginap di rumah. Ya sudah sekarang kita
berangkat ke rumahku yuk?” ajak salma.
“oke, tapi aku mau
berkemas dulu sebentar.”
Setelah selsai
membereskan pakaian dan keperluan lain yang harus dibawa, akhirnya aku dan
salma segera berangkat menuju rumah salma. Sesampainya dirumah salma, aku
dikejutkan dengan pemandangan yang sangat asing bagiku. Disana aku melihat
seorang wanita berparas cantik, mirip sekali dengan salma dan seorang pria yang
berwibawa.
“Assalamualaikum ma,
pa.” kata salma seraya menghampiri pria dan wanita itu lalu salma mencium
tangan mereka.
“Waalaikumsalam. Eh
salma sudah pulang ayo masuk sayang.”
Wanita itu menyambut salma dengan hangat lalu ia mencium kening salma.”
Selama
ini, aku belum pernah berkunjung ke rumah salma. Dan ini adalah kali pertamaku
berkunjung ke rumahnya. Dan ketika aku sampai disana, kudapati seorang wanita
dan pria yang sangat lembut dan ramah. Ketika aku sampai disana, mereka
menyambutku dengan senang hati dan ketika aku meminta izin meninap untuk
beberapa haripun mereka tak keberatan. Mereka adalah Om Hendrik dan Tante Vina,
orangtua salma. Ini pemandangan yang sangat asing bagiku. Mengapa? Karena di
rumahku aku hanya tinggal bersama ayah. Walaupun begitu, aku tetap merasa
sendirian. Dan aku sangat iri kepada salma, ia memiliki orangtua yang lengkap
dan yang paling penting adalah ia memiliki kasih sayang dari ayah dan ibunya.
Aku
mersakan kenyamanan yang sangat di rumah salma, mungkin karena aku ditemani
salma dan tak sendirian seperti di rumah. Setiap waktu aku habiskan waktu
bersama salma, membaca buku, belajar, berenang dan apaapun itu yang membuat
kami senang. Sampai suatu ketika aku sedang memonton televisi bersama Salma,
tiba-tiba Om hendrik memanggil aku dan Salma.
“Salma, Nayla, ayo
cepat ambil wudhu dan setelah itu kita shalat Isya berjamaah.” Ujar Om Hendrik.
“Oke pah.” Salma
menyetujui pernyataan ayahnya itu seolah ia sudah terbiasa.
Aku
hanya diam. Selama ini ayahku tak pernah mengajakku untuk shalat berjamaah. Di
rumah, aku hanya shalat sendiri, walaupun sebenarnya aku sering shalat
berjamaah itupun bukan dengan ayah, tetapi dengan mang Supri. Aku merasa
terharu melihat keluarga salma, ingin sekali rasanya aku memiliki keluarga yang
seperti ini.
Setelah
selesai shalat, aku dan salma segera menuju tempat tidur. Namun ketika aku
hendak tidur, tiba-tiba handphoneku berdering. Ternyata ayah menelfonku. Ia
mengatakan bahwa sekarang ia sedang menuju perjalanan pulang. Pekerjaan di
Beijing yang dikatakan ayah sebelumnya ternyata ditunda dan akan dilaksanakan
bulan depan.
***
Hari
ini ayah pulang, dan akupun harus pulang dari rumah salma. Aku segera
berpamitan kepada Salma dan orangtuanya.
Sesampainya di rumah,
ternyata ayah sudah tiba.
“ayah kok sudah ada di
rumah? Kenapa ayah tidak meminta jemput di airport?” tanyaku kepada ayah.
“tidak apa-apa. Kamu
pasti capek, ayah tidak ingin merepotkanmu.” Jawab ayah.
“tidak ayah, ayah tidak
pernah merepotkanku.” Tukas ku.
“oh iya, ayah kan
pernah berjanji untuk mengajaku berlibur kemanapun aku mau? Ayah ingat?” kataku
kepada ayah.
“iya ayah ingat, tapi
ayah minta maaf, ayah capek sekali sekarang. Lain kali saja ya?”.
Jawaban ayah adalah
jawaban klasik yang sering ayah berikan kepadaku. Dan aku sudah terbiasa. Tanpa
fikir panjang aku langsung menuju kamarku dan tidur siang. Aku lelah sekali.
***
“hah?! Sudah pukul lima
lewat?! Astaga!” Aku segera bangun dari tidurku dan bergegas kekamar mandi
untuk mengambil wudhu. Tetapi ketika aku bangun dari tempat tidurku, aku
merasakan sakit dan sesak. Tapi aku tak memperdulikannya, aku tetap menuju ke
kamar mandi dan segera berwudhu.
“Alhamdulillah,
tenangnya setelah shalat.”
Setelah
shalat aku segera menemui ayah, dan kamipun ngobrol di gazebo halaman rumah
seperti biasa. Namun ketika itu, sakit dan sesak itu datang lagi. Ayahpun
mengetahui itu. Ayah begitu khawatir. Tetapi aku mencoba menjelaskan kepada
ayah bahwa aku baik-baik saja. Waktu begitu cepat berjalan, ketika aku sedang
asyik bergurau dengan ayah, suara adzan magrib berkumandang. Akupun teringat
sesuatu, aku teringat ketika aku shalat berjamaag di rumah Salma. Aku ingin
mengulanginya lagi, tetapi kali ini, aku ingin shalat berjamaah bersama ayah.
“ayah, boleh aku pinta?
Aku tidak akan meminta liburan atau apapun kali ini, tapi permintaan ku kali
ini adalah permintaan yang benar-benar aku inginkan, benar-benar aku harapkan.”
Jelasku kepada ayah. Ayah hanya tersenyum seolah tau apa yang aku inginkan.
“kamu mau apa, hah?” Tanya ayah dengan nada
menggoda.
“Ayah, status ayah itu
apa sih?” aku kembali bertanya kepada ayah.
“status ayah? Status
ayah dimana? Diperusahaan?” Tanya ayah.
“Bukan, tapi
dikeluarga!” jawabku.
“Ooh, ya jelas ayah
adalah imam dikeluarga ini sayang.” Jawab ayah.
“kalau begitu, ayah mau
jadi imam dalam shalat magribku kali ini? Kali iniiii saja.” Aku memohon-mohon
kepada ayah.
Ketika
itu ayah hanya diam. Tatapan matanya kosong. Seolah ia sedang membayangkan
sesuatu. Tetapi tak lama kemudian, ayah terseyum dan mengangguk setuju. Aku
sangat senang, dengan semangat aku segera mengambil air wudhu.
Ku
dengar suara takbir yang keluar dari mulut ayah dan bacaan-bacaan ayat suci
al-qur’an yang dibacakan ayah, membuat air mata menganak sungai dipipiku. Aku
bahagia “aku sayang ayah”.
Namun
ketika rakaat terakhir, aku merasakan sakit yang luar biasa dan sesak di dadaku.
Tapi aku coba menahannya. Semakin lama kakiku tak sanggup lagi untuk berdiri.
Dan ketika salam terakhir, aku sudah tergeletak lemas di atas sajadah. Ketika
itu terlihat nanar wajah ayah yang mengeluarkan air mata. Tak lama kemudian,
terdengar samar suara ambulance.
***
Sekarang,
aku terbaring diranjang yang aku kenal, dengan infuse dan berbagai alat
kedokteran yang terpasang ditubuhku.
“A a yah.” Aku berusaha
untuk memanggil ayah walaupun dengan susah payah.
“Iya nak.” Jawab ayah
dengan suara lirih.
“Terimakasih sudah mau
menjadi imam untuk shalatku, aku menyayangimu yah.”
“Maafkan ayah nak,
maafkan ayah, ayah memang bukan ayah yang baik untukmu. Ayah minta maaf.”
Tangisan ayah semakin keras. Ayah menggoncangkan tubuhku dan memelukku.
Aku menatap dalam mata
ayah yang penuh dengan air mata. Karena itulah terakhir kali aku dapat menatap
wajah ayah.
Ayah,
aku menyayangimu. Terimakasih sudah menjadi imam dalam shalatku. Ayah tahu?
Disini Ibu bangga kepada ayah. Ayah adalah ayah yang istimewa. Ayah yang mampu
membuat ibu tersenyum bangga, dan ayah mampu menuntunku kea rah menuju surga. J terimakasih ayaaah..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar