Sabtu, 08 Maret 2014

Rakaat Terakhir Bersama Ayah



Terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan. Rumah mewah, mobil mewah, ruang ber-AC dan segala fasilitas yang serba ada. Mungkin menurut sebagian orang, hidup kita akan bahagia dengan itu semua. Tapi tidak bagiku. Bagiku harta dan semua keduniawian itu membuat semuanya tiada. Membuat aku kehilangan semuanya. Terutama membuat aku kehilangan ayah. Seorang ayah biasanya selalu memperhatikan anaknya, dimanapun ia, sedang apapun ia, pasti menyempatkan untuk mengontrol anaknya. Tetapi tidak untuk ayahku, ia selalu mementingkan pekerjaannya dibandingkan denganku. Terkadang aku iri melihat teman-temanku yang selalu berkumpul dengan ayah dan ibunya. tetapi itu suatu hal yang mustahil bagiku. Aku tidak mungkin dapat berkumpul dengan ayah dan ibu, karena kini aku hanya memiliki ayah. Ibu sudah meninggal ketika aku masih berumur 5 tahun. Ibu meninggal karena menderita jantung. Dulu aku sempat menderita jantung sama seperti yang ibu derita, namun sekarang penyakit itu sudah tidak hinggap lagi ditubuhku, aku sudah sembuh. Walaupun dokter mengatakan kesembuhanku ini tidak permanen dan suatu saat jika aku tidak bisa menjaga kesehatanku, penyakit itu  pasti akan menyerang kembali. Tetapi ketika aku sakit itulah aku merasakan kasih sayang seorang malaikat tanpa sayap walau tanpa bidadari disisinya. Ketika itulah aku merasakan kasih sayang ayah walapun tanpa ada ibu, ketika itulah aku merasakan hangatnya pelukan ayah, ketika itulah aku melihat tatapan sayang seorang ayah. Tapi kini itu semua tak berlaku.
“ayah, pak supri sedang tidak enak badan, jadi ia tidak bisa mengantar ku ke sekolah. Ayah antar aku ke sekolah ya?”
Ini adalah kesempatan ku agar aku bisa berangkat sekolah dengan ayah. Dengan tatapan penuh harap, aku memohon kepada ayah agar ayah mau mengantarku sekolah.
“Nayla, kamu kan sudah besar, sudah punya SIM kenapa kamu tidak bawa sendiri saja mobil mu?”
Jawaban ayah membuatku kecewa. Tetapi aku tidak menyerah, aku tetap membujuk ayah agar mau mengantarku sekolah.
“tapi yah, mobilku ban nya kempes, aku ikut ayah ya?”. Bujuk ku dengan nada memelas. Aku sengaja membohongi ayah agar ayah mau mengantar ku sekolah. Padahal mobilku baik-baik saja.
“mobilmu kempes? Yasudah nanti ayah belikan kamu mobil yang baru, ayah harus cepat-cepat ke kantor karna ka nada meeting penting. Kamu berangkat menggunakan taksi, ayah sudah telfon taksi untuk mengantarmu sekolah.”
Pagi itu aku benar-benar jengkel. Aku benci ayah!. Hanya mengantarkan ku sekolah saja ayah tidak bisa. Tak terasa air mata mengalir dipipiku. Aku rindu ayah yang dulu.
Tak beberapa lama kemudia taksi datang. Akupun segera menuju sekolah. Ketika sampai tepat di gerbang sekolah aku bertemu dengan Salma, sahabatku.
“kenapa kamu nangis?” Tanya salma sambil menepuk bahuku.
“oh tidak apa-apa” jawabku singakat.
“bohong! Ada masalah? Coba ceritakan.” Salma terus membujuk ku agar aku menceritakan semuanya.
“nanti saja pulang sekolah.” Jawabku singkat. Dan salma mengangguk setuju.

***
Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Termasuk aku dan Salma. Aku dan Salma pulang bersama. Seperti biasa, sebelum pulang kerumah, kami mampir terlebih dahulu ke warung es kelapa muda dekat sekolah ku.
“ayo cerita.” Ujar salma tidak sabar.
“tak usah ku ceritakan pasti kamu sudah mengetahuinya.” Jawab ku.
“ayah mu lagi?” Tanya salma.  
Aku hanya mengangguk sambil mengaduk-ngaduk es dihadapanku.
“Nayla, sudahlah, kamu coba mengereti keadaan ayah mu, mungkin dia sibuk.” Ujar salma.
“apakah hanya aku saja yang harus mengerti keadaan ayah? Kapan ayah akan mengalah dan mengerti keadaan dan keinginan ku?” emosi ku mulai naik. Tetapi aku coba meredamnya.
Salma hanya diam. Ia hanya menatapku lalu ia memelukku. Setelah aku dan salma menghabiskan es kelapa muda itu, akhirnya kami pulang.
***
“ayaaah.” Aku berlari menghampiri ayah yang sedang sibuk membereskan file-file kantornya.
“ayah, besok kan libur. Kita jalan-jalan yuk yah? Aku ingin berlibur bersama ayah. Lagi pula kita sudah lama tak pernah berlibur bersama kan yah?”
Aku ingin sekali mengahabiskan waktu berdua bersama ayah. Bermain bersama ayah, makan bersama ayah. Aku ingin merasakan kembali kedekatan seorang anak dengan ayahnya, yang kini aku lupa bagaimana rasanya. Aku benar-benar merindukan ayah. Aku butuh ayah. Oleh karena itu aku mencoba mengajak ayah untuk berlibur bersama. Aku harap ayah akan menuruti keinginanku.
“ayah ingin sekali berlibur dengan kamu sayang, tapi bagai mana? Pekerjaan ayah tidak bisa ditunda. Dan besok pagi ayah sudah harus berangkat ke Beijing bersama rekan ayah. Dan disana ayah cukup lama. Sekitar dua minggu, baru ayah akan pulang ke Indonesia. Ayah janji, setelah pekerjaan ayah rampung, ayah akan ajak kamu berlibur kemanapun kamu mau.”
Sudah ku duga ayah akan menjawab seperti itu. Sedari dulu ayah selalu menjawab seperti itu. Tetapi apa? Sampai sekarang ayah masih sibuk dengan pekerjaannya dan tak pernah menepati janjinya untuk berlibur bersamaku. Dengan wajah merah menahan tangis, aku berlari meninggalkan ayah. Terdengar suara ayah memanggilku. Tetapi aku tidak menghiraukannya, aku tetap berlari menuju kamarku. Aku benar-benar kecewa.
***
Pancaran sinar mentari pagi menyeruak masuk ke dalam kamarku. Hembusan angin yang sejuk menerpa tubuhku yang masih terbaring di atas tempat tidur. Perlahan ku buka mataku. Dan dimeja riasku sudah tersedia segelas susu dan roti panggang kesukaanku. Tadinya aku fikir yang menyiapkan itu semua adalah ayah. Tetapi ternyata salah. Bi Siti lah yang menyiapkan semuanya. Ayah sudah terbang ke Beijing sejak subuh, dan sebelum berangkat ayah berpesan kepada bi Siti untuk menyiapkan sarapanku. Kenapa bukan ayah yang menyiapkannnya untukku? Aku jadi malas untuk menyantapnya.
Aku bosan dengan suasana rumah yang sepi seperti ini. Tidak ada ayah, apalagi ibu. aku seperti hidup sebatang kara di dunia. Apalagi kali ini ayah pergi cukup lama. Tetapi tiba-tiba aku teringat Salma. Seketika terbesit difikiranku untuk menginap dirumahnya. Yaa untuk sementara waktu selama ayahku masih di Beijing. Aku segera mengambil handphone ku dan menelfon Salma. Tetapi belum sempat aku menelfonnya ternyata salma sudah ada di rumahku.
“heh” suara Salma mengagetkan ku.
“heh, kamu mau membuatku jantungan.”
“haha maaf.” Kata salma tanpa rasa bersalah.
“oh iya sal, di rumahku sepi, boleh aku menginap di rumahmu?” tanyaku kepada salma.
“wah tentu boleh sekali. Malahan aku senang kalau kamu menginap di rumah. Ya sudah sekarang kita berangkat ke rumahku yuk?” ajak salma.
“oke, tapi aku mau berkemas dulu sebentar.”
Setelah selsai membereskan pakaian dan keperluan lain yang harus dibawa, akhirnya aku dan salma segera berangkat menuju rumah salma. Sesampainya dirumah salma, aku dikejutkan dengan pemandangan yang sangat asing bagiku. Disana aku melihat seorang wanita berparas cantik, mirip sekali dengan salma dan seorang pria yang berwibawa.
“Assalamualaikum ma, pa.” kata salma seraya menghampiri pria dan wanita itu lalu salma mencium tangan mereka.
“Waalaikumsalam. Eh salma sudah pulang ayo masuk sayang.”  Wanita itu menyambut salma dengan hangat lalu ia mencium kening salma.”
Selama ini, aku belum pernah berkunjung ke rumah salma. Dan ini adalah kali pertamaku berkunjung ke rumahnya. Dan ketika aku sampai disana, kudapati seorang wanita dan pria yang sangat lembut dan ramah. Ketika aku sampai disana, mereka menyambutku dengan senang hati dan ketika aku meminta izin meninap untuk beberapa haripun mereka tak keberatan. Mereka adalah Om Hendrik dan Tante Vina, orangtua salma. Ini pemandangan yang sangat asing bagiku. Mengapa? Karena di rumahku aku hanya tinggal bersama ayah. Walaupun begitu, aku tetap merasa sendirian. Dan aku sangat iri kepada salma, ia memiliki orangtua yang lengkap dan yang paling penting adalah ia memiliki kasih sayang dari ayah dan ibunya.
Aku mersakan kenyamanan yang sangat di rumah salma, mungkin karena aku ditemani salma dan tak sendirian seperti di rumah. Setiap waktu aku habiskan waktu bersama salma, membaca buku, belajar, berenang dan apaapun itu yang membuat kami senang. Sampai suatu ketika aku sedang memonton televisi bersama Salma, tiba-tiba Om hendrik memanggil aku dan Salma.
“Salma, Nayla, ayo cepat ambil wudhu dan setelah itu kita shalat Isya berjamaah.” Ujar Om Hendrik.
“Oke pah.” Salma menyetujui pernyataan ayahnya itu seolah ia sudah terbiasa.
Aku hanya diam. Selama ini ayahku tak pernah mengajakku untuk shalat berjamaah. Di rumah, aku hanya shalat sendiri, walaupun sebenarnya aku sering shalat berjamaah itupun bukan dengan ayah, tetapi dengan mang Supri. Aku merasa terharu melihat keluarga salma, ingin sekali rasanya aku memiliki keluarga yang seperti ini.
Setelah selesai shalat, aku dan salma segera menuju tempat tidur. Namun ketika aku hendak tidur, tiba-tiba handphoneku berdering. Ternyata ayah menelfonku. Ia mengatakan bahwa sekarang ia sedang menuju perjalanan pulang. Pekerjaan di Beijing yang dikatakan ayah sebelumnya ternyata ditunda dan akan dilaksanakan bulan depan.

***
Hari ini ayah pulang, dan akupun harus pulang dari rumah salma. Aku segera berpamitan kepada Salma dan orangtuanya.
Sesampainya di rumah, ternyata ayah sudah tiba.
“ayah kok sudah ada di rumah? Kenapa ayah tidak meminta jemput di airport?” tanyaku kepada ayah.
“tidak apa-apa. Kamu pasti capek, ayah tidak ingin merepotkanmu.” Jawab ayah.
“tidak ayah, ayah tidak pernah merepotkanku.” Tukas ku.
“oh iya, ayah kan pernah berjanji untuk mengajaku berlibur kemanapun aku mau? Ayah ingat?” kataku kepada ayah.
“iya ayah ingat, tapi ayah minta maaf, ayah capek sekali sekarang. Lain kali saja ya?”.
Jawaban ayah adalah jawaban klasik yang sering ayah berikan kepadaku. Dan aku sudah terbiasa. Tanpa fikir panjang aku langsung menuju kamarku dan tidur siang. Aku lelah sekali.
***
“hah?! Sudah pukul lima lewat?! Astaga!” Aku segera bangun dari tidurku dan bergegas kekamar mandi untuk mengambil wudhu. Tetapi ketika aku bangun dari tempat tidurku, aku merasakan sakit dan sesak. Tapi aku tak memperdulikannya, aku tetap menuju ke kamar mandi dan segera berwudhu.
“Alhamdulillah, tenangnya setelah shalat.”
Setelah shalat aku segera menemui ayah, dan kamipun ngobrol di gazebo halaman rumah seperti biasa. Namun ketika itu, sakit dan sesak itu datang lagi. Ayahpun mengetahui itu. Ayah begitu khawatir. Tetapi aku mencoba menjelaskan kepada ayah bahwa aku baik-baik saja. Waktu begitu cepat berjalan, ketika aku sedang asyik bergurau dengan ayah, suara adzan magrib berkumandang. Akupun teringat sesuatu, aku teringat ketika aku shalat berjamaag di rumah Salma. Aku ingin mengulanginya lagi, tetapi kali ini, aku ingin shalat berjamaah bersama ayah.
“ayah, boleh aku pinta? Aku tidak akan meminta liburan atau apapun kali ini, tapi permintaan ku kali ini adalah permintaan yang benar-benar aku inginkan, benar-benar aku harapkan.” Jelasku kepada ayah. Ayah hanya tersenyum seolah tau apa yang aku inginkan.
“kamu  mau apa, hah?” Tanya ayah dengan nada menggoda.
“Ayah, status ayah itu apa sih?” aku kembali bertanya kepada ayah.
“status ayah? Status ayah dimana? Diperusahaan?” Tanya ayah.
“Bukan, tapi dikeluarga!” jawabku.
“Ooh, ya jelas ayah adalah imam dikeluarga ini sayang.” Jawab ayah.
“kalau begitu, ayah mau jadi imam dalam shalat magribku kali ini? Kali iniiii saja.” Aku memohon-mohon kepada ayah.
Ketika itu ayah hanya diam. Tatapan matanya kosong. Seolah ia sedang membayangkan sesuatu. Tetapi tak lama kemudian, ayah terseyum dan mengangguk setuju. Aku sangat senang, dengan semangat aku segera mengambil air wudhu.
Ku dengar suara takbir yang keluar dari mulut ayah dan bacaan-bacaan ayat suci al-qur’an yang dibacakan ayah, membuat air mata menganak sungai dipipiku. Aku bahagia “aku sayang ayah”.
Namun ketika rakaat terakhir, aku merasakan sakit yang luar biasa dan sesak di dadaku. Tapi aku coba menahannya. Semakin lama kakiku tak sanggup lagi untuk berdiri. Dan ketika salam terakhir, aku sudah tergeletak lemas di atas sajadah. Ketika itu terlihat nanar wajah ayah yang mengeluarkan air mata. Tak lama kemudian, terdengar samar suara ambulance.
***
Sekarang, aku terbaring diranjang yang aku kenal, dengan infuse dan berbagai alat kedokteran yang terpasang ditubuhku.
“A a yah.” Aku berusaha untuk memanggil ayah walaupun dengan susah payah.
“Iya nak.” Jawab ayah dengan suara lirih.
“Terimakasih sudah mau menjadi imam untuk shalatku, aku menyayangimu yah.”
“Maafkan ayah nak, maafkan ayah, ayah memang bukan ayah yang baik untukmu. Ayah minta maaf.” Tangisan ayah semakin keras. Ayah menggoncangkan tubuhku dan memelukku.
Aku menatap dalam mata ayah yang penuh dengan air mata. Karena itulah terakhir kali aku dapat menatap wajah ayah. 
Ayah, aku menyayangimu. Terimakasih sudah menjadi imam dalam shalatku. Ayah tahu? Disini Ibu bangga kepada ayah. Ayah adalah ayah yang istimewa. Ayah yang mampu membuat ibu tersenyum bangga, dan ayah mampu menuntunku kea rah menuju surga. J  terimakasih ayaaah..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar